Leave a comment

Strategi Psikologis dalam Forum Dialog Umum


Terkadang, dalam suatu acara kita dihadapkan pada sesuatu yang mendadak dan mendesak, serta masalah yang tidak ada kesepakatan sebelumnya. Bahkan seba-gian hadirin tidak pernah kenal sebelumnya. Suatu ketika —dalam suatu  diskusi—, tiba- tiba  pembicaraan  berkisar  tentang  dakwah  Ikhwanul  Muslimin.  Saya  p apar kan beberapa  pom  seputar  pe mikiran  Al-Ikhwanul  Muslimun,  sejarah,  dan  hal-hal yang  berkaitan  dengannya.  Setelah  ceramah,  saya  menunggu  reaksi  para  peserta. Muncullah pertanyaan dari salah seorang peserta, ia mengatakan, “Kita adalah Ikhwan, apa sikap kita terhadap orang-orang yang menghalangi dakwah kita? Saya ingin penjelasan  tentang  pokok-pokok  pemikiran  Ikhwan  dan  sejarahnya  sehingga  saya dapat membelanya?”

Pada  saat  yang  bersamaan  ada  peserta  lain  yang  bertanya,  “Kalian  adalah Ikhwan.  Bagaimana  kalian  menghadapi  tantangan,  tuduhan,  dan  rencana  musuh- musuh dakwah Islam?”

Dari dua tanggapan tersebut, saya menyadari sekali-gus menyimpulkan bahawa penanya pertama telah dibu-kakan hatinya oleh Allah sehingga merespon dan merasa mantap  terhadap  dakwah  Ikhwan.  Sementara  penanya  kedua  masih  ragu-ragu  dan belum  mantap  menerima  manhaj  dakwah  Ikhwan,  sehingga  masih  perlu  mendapat banyak penjelasan. Maka, langsung saja saya mengarah-kan perhatian dan pembicaraan kepada penanya kedua dengan penuh rasa hormat. Saya tidak berusaha mem-bantah dan menghubungkan pertanyaannya dengan penanya pertama. Seandainya saya melakukan hal itu, bererti saya telah membuat jarak secara kejiwaan antara keduanya kerana terjadi perbezaan pemikiran/pendapat.

Sebenarnya, secara kejiwaan seseorang itu tidak menyukai orang lain yang tidak sependapat dengannya.

Saya menyadari bahawa menyampaikan dakwah pada sekelompok orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda-beda, kecil kemungkinannya dapat me- nembus hati dan pikiran mereka, kerana jumlahnya yang banyak. Yang terjadi justru munculnya perbezaan pen-dapat dan madzhab. Kerana kebiasaan seorang pembi-cara adalah mempertahankan pendapatnya, baik ber-dalih kepada kebenaran maupun kebatilan, sehingga timbullah perdebatan yang tak bermanfaat.

Akan   tetapi   dakwah   fardiyah   adalah   menyentuh   inti   permasalahan   dan memberikan kesempatan lebih luas dalam berdialog yang bebas dan tenang atau dalam baha-sa dakwah “billati hiya ahsan “, 5ehingga dapat saling tukar pandangan  dan adu argumentasi.   Dakwah   fardiyah   me-rupakan   cara   untuk   saling   terbuka,   kerana terkadang ada pertanyaan-pertanyaan  yang tidak dapat diungkap  di depan umum. Seperti  tuduhan-tuduhan  buruk  yang  sempat  merasuki  pikiran  generasi  muda, yang  tidak  mengetahui  hakikat  sebenarnya  tentang  kondisi  politik  :  Kairo  yang dikendalikan  oleh  musuh-musuh  dakwah  Islam,  yaitu  musuh-musuh  yang  selalu ingin menutup jalan Allah. Namun,  Allah berkuasa  terhadap  utusan-Nya, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf:21)

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

Ucapan  Salam  sebagai  Pembuka  Hati  dan Pemberi Kedamaian


Seorang   teman  bercerita   kepada   saya,—   ketika  berada  di  dalam  penjara tahanan militer tahun 1954— mengenai satu peristiwa yang mengharukan sekaligus memilukan. la bersama teman-temannya  hidup di penjara dalam kondisi ketakutan dan dicekam rasa ngeri, serta tidak ada sedikit pun rasa tenang. Yang ada hanya cuaca gelap diselimuti kegalauan pekat dan berbagai hal yang mencekam.

Di saat mereka sedang dalam kondisi gelap seperti ini, tiba-tiba pintu penjara dibuka dan muncullah seorang kepala polisi seraya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.” Kontan seluruh penghuni penjara  menangis  histeris  dengan nada sedih dan takut. Sehingga membuat polisi merasa kaget dan gemetaran. Belakangan kepala polisi itu menyadari kesedihan yang dalam di hati mereka. Ucapan salam tersebut dalam pikiran mereka adalah sesuatu yang tak pernah diduga oleh siapa pun dan ham-pir tidak mungkin terjadi di dalam penjara seperti ini.

Demikianlah, ketika salam terucap kepada mereka, ia bagai air dingin menyiram api yang tengah berkobar.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

Sikap Islam dan Para Da’i terhadap Fenomena Budaya Modern


Islam adalah agama abadi, sementara kehidupan tidak terikat dengan satu bentuk dan cenderung membosan-kan serta membuat manusia mencari kompensasinya. Kehidupan  bukanlah  suatu  kejumudan  (kebekuan),  akan  tetapi  suatu pembaharuan ruhiah dan perasaan.

Aktiviti   dakwah   kepada   seluruh   kalangan   manusia,   —dengan   berbagai   latar belakang agama dan keperca-yaan, warna kulit, maupun tanah airnya— mengandung kennduan yang suci dan kreativitas seni yang halus guna membangun peradaban dan menghibur masyarakat tanpa berlebihan (secara seimbang).

Dakwah kita telah membuka dan menerima pema-haman-pemahaman  berharga seperti   ini,  sebagaimana   tertuang   dalam   rasail   Hasan   Al-Banna,   “Ikhwanul Muslimin  memanfaatkan  semua  cara  mass  media  modern,  seperti  media  cetak, radio,  dan  teater/drama.”  Tahun  1947  Ikhwan  pernah  menampilkan  drama  yang disiarkan langsung lewat beberapa radio, karya Ustaz Abdurrahman Al-Banna. Bahkan Imam Hasan Al-Banna hadir menyaksikannya.

Syaikh Muhammad  Al-Ghazali  mengatakan,  “Pada dasarnya segala sesuatu itu boleh  (tidak  haram)  kecuah  ada dalil yang  pasti.”  Tetapi  kenyataannya  masih  ada sekelompok  orang yang berpikiran  sempit, mereka sangat menyukai yang haram. Manhaj mereka dalam menghukumi sesuatu bertentangan dengan manhaj Nabi Muhammad saw. Kerana, Nabi saw. apabila ditawan dua perkara, pasti akan memilih yang lebih mudah selagi bukan dosa. Beliau bersabda dalam hal ini, “Kalian jangan mempersulit diri kerana kalian akan dipersulit. Sungguh suatu kaumyang mempersulit diri, telah dipersulit.  Itulah sisa-sisa  mereka yang berada di biara-biara  dan  gereja- gereja, mereka menciptakan rahbaniyah (kerahiban), mereka tidak beristri, tidak bersuami, dan mengurung  diri dalam  biara,  padahal  kami  tidak  mewajibkannya kepada mereka!”

Telah beredar peradaban  modern seperti radio, television, dan berbagai media budaya dan hiburan secara merata. Media-media ini tidak akan dimintai pertanggungjawaban   dari  apa  yang   disiarkan.   Tetapi   yang   bertanggungjawab adalah para sutradara, penyanyi, dan produsernya, kerana merekalah yang menyuguhkan tayangan yang tidak ada manfaatnya, bahkan berbahaya itu. Syaikh Muhammad Al-Ghazali telah menegaskan bahawa beliau tidak memerangi nyanyian, musik, dan hiburan, tetapi yang menyakitkan beliau adalah kenya-taan bahawa umat hanya ingin sedikit kerj a tetapi banyak bernyanyi.  Lebih lanjut beliau mengatakan, “Nyanyian adalah sebuah ungkapan, yang baik adalah baik, yang buruk adalah buruk. Siapa  saja  yang  bernyanyi  dan  mendengarkan  nyanyian  yang  bermakna  positif dan bernada indah, maka tidak berdosa. Kami hanya mela-rang nyanyian dengan syair yang  berselera  rendah  dan  jorok.  Kerana  tidak  ada  satu  pun  hadith  shahih  yang melarang nyanyian.”

Memang ada sebahagian ulama yang berhujah pada firman Allah,

Dan diantara manusia (ada) orangyang memperguna-kanperkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan  (manusia) darijalan Allah tanpapengetahuan  dan menjadikan  jalan Allah itu olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh adzabyang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepada-nya ayat-ayatKami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah- olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yangpedih.” (Luqman: 6-7)

Pendapat ulama tersebut ditentang oleh Syaikh Al-Ghazali,  dengan berpendapat bahawa siapa saja yang mempergunakan  perkataan  baik, yang berguna atau tidak untuk kepentingan seperti tersebut dalam ayat tadi (untuk menyesatkan) jelas pantas mendapat adzab.

Bagi sebahagian  orang yang ingin melemaskan  urat-uratnya  yang tegang kerana letih dengan mendengarkan suara merdu dan nada indah, tidak ada kaitannya dengan ayat  tersebut.  Lebih  jauh  Syaikh  Al-Ghazali  mengata-kan,  “Bila nyayian  dibarengi dengan hal-hal haram, maka itu yang dilarang. Tetapi bila tidak, maka tidak masalah. Musik  dan  nyanyian  itu  sama,  kerana  Rasul  pernah  men-dengar  suara  rebana  dan seruling tanpa merasa tabu. Memang benar bahawa lagu berbeda-beda pengaruhnya terhadap  jiwa. Oleh kerananya,  yang perlu ditentang  adalah suara kebanci-bancian dan syair-syair yang vulgar dan cair (jorok)!”

Terakhir Syaikh Muhammad Al-Ghazali menegas-kan bahawa umat Islam sangat memperlukan banyak keseriusan dan sedikit hiburan, seraya berkata, “Bila kita dianugerahi menjadi seniman yang memiliki kehormat-an dan kemampuan, maka dapat mengubah seni menjadi faktor pembina bukan perusak, serta pembangkit perasaan mulia bukan selera rendah!”

Pada  saat  ini,  saat  muncul  gerakan  perlawanan  Pales-tina,  “Organisasi  Islam HAMAS”  menentang  pendu-dukan  Yahudi,  banyak  bermunculan  nasyid-nasyid islami yang patriotik. Di antara nasyid yang terkenal adalah nasyid “Abu Ratib” dan “Abu Mazin”. Ini berada bersama puluhan nasyid yang beredar di Mesir dan Yordan. Sampai sekarang nasyid-nasyid islami tersebut memiliki pengaruh yang dalam di hati pemuda muslim di mana saja. Kerana suara dan nada yang indah akan bergema di hati seluruh kaum muslimin.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

Dia Tidak Hadir kerana Berhalangan


Dia adalah sebaik-baik teman, paling aktif ke masjid dan sangat mencintai teman- temannya.  Tiba-tiba,  lama  sekali  tidak  kelihatan  batang  hidungnya  di  tengah- tengah mereka. Ketika kemudian  ia dapat berkumpul  kembali,  tiba-tiba  seorang teman   datang   memaki-makinya.   Dengan  nada  sedih  ia  mengatakan   padanya, “Kenapa kamu sekarang menengokku? Ke mana saja kamu dan teman-teman selama ini?   Mengapa   tidak   berusaha   mencariku   selama   beberapa   bulan   terakhir   ini? Sebenarnya, saya sangat memerlukan kehadiran kalian di sampingku di saat istriku meninggal dunia, dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Saya membu-tuhkan orang-orang yang akrab dengan saya pada saat-saat kritis seperti itu.”

Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi saudara-saudara yang belum memenuhi kewajiban   kepada  sau-daranya   yang  lain  dalam  hal  memantau   kondisinya.   Ini merupakan kewajiban minimal. Kerana Rasul telah ber-sabda, “Bila ia tidak ada maka carilah….”

Ini sekedar contoh, seseorang yang lama tidak muncul dan tidak diketahui penyebabnya, tidak akan jelas alasannya kecuali setelah menanyakannya.

Satu contoh lagi, sejumlah orang hidup bersama bertahun-tahun dalam kondisi yang serba sulit —senasib sepenanggungan—. Tiba-tiba, (sudah menjadi sunnatullah bahawa manusia pasti akan saling berpisah dan berjauhan) kerana tuntutan hidup, studi, atau pekerjaan sehingga kebersamaan itu akhirnya berhenti juga. Ternyata, ada yang menganggap temannya ini sudah mulai mengambil jarak, atau pergi kerana takut, atau kerana  mulai  mele-mah  keakrabannya,  dan  Iain-lain.  Sehingga  timbullah  berbagai macam dugaan. Padahal kita dilarang melakukan hal tersebut. Allah telah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian  prasangka  itu  adalah  dosa,  danjanganlah  kalian  mencari-cari  kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kalian menggunjing sebahagian yang lain.” (Al- Hujurat: 12)

Kemudian ia menghilang dari ingatan teman-teman-nya, kerana mereka tidak memperhatikan haknya.

Setelah lama berselang dan banyak peristiwa penting terjadi, seperti biasanya dalam perjalanan  dakwah,  tiba-tiba  mereka  dikagetkan  dengan  munculnya  teman  lama mereka yang sudah sekian waktu menghilang. Ia berada di tengah-tengah mereka.

Ia mengorbankan jiwa dan hartanya dengan penuh ketulusan dan keberanian yang mengagumkan,  bahkan  membuat  malu  sebahagian  mereka  yang  belum  memahami hakikat  dakwah.  Seseorang  yang  sudah  merasakan  nik-matnya  dakwah,  —dakwah sudah  menyatu  dalam  hati,  perasaan,  dan  pikirannya—  maka  la akan  menganggap murah  semua  yang  ada  padanya.  Dakwah  lebih  mahal  dibanding  semua  yang dimiliki.

Seorang  da’i  harus  senantiasa  husnuzhan,  tidak  me-rendahkan  yang  lain,  atau merasa dirmya lebih baik dari yang lain dalam barisan dakwah. Bahkan, seorang da’i pada saat tertentu ada di depan, pada saat yang lain ada di barisan belakang.

Setiap orang yang pernah tersentuh ruh dakwah nis-caya akan tetap hidup bersama dakwah  hingga  menemui  Allah.  Kerananya  seorang  da’i  harus  selalu  husnuzhan kepada sesama saudaranya dan menutupi aibnya, sampai ia sadar dan kembali ke jalan yang benar. Sehingga,

ketika seorang da’i kembali kepada teman-temannya, ia tetap menjumpai suasana saling mencintai.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

[KISS Report] Jakarta, (03/09/2015),


Masjid Ulul Albaab – Semester baru telah bergulir. Masjid Ulul Albaab atau yang biasa disingkat MUA kembali menghadirkan Kajian Islam Kamis Sore yang biasa disebut KISS. Kajian rutin perdana semester 103 ini mengangkat tema “Jurus Ampuh tuk Jadi Muslim Berprestasi”. Sekitar 140 mahasiswa yang terdiri dari berberapa jurusan di FMIPA hadir dalam KISS pekan ini.

Acara ini diawali dengan pembukaan, pembacaan Al Quran secara tasmi’ oleh Abd Mughni, dan dilanjutkan dengan penyampaian testimoni SISKOM oleh Ketua Salim FMIPA 2014, Andri Kosiret. Kemudian KISS berlanjut dengan diskusi yang dipandu oleh Abd Mughni. Mahasiwa jurusan fisika ini membuka diskusi dengan menyampaikan surat Al Mujaadilah ayat 11 yang berbunyi Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. “Oleh karena itu, mari cari dan tuntut ilmu, karena Allah yang akan meninggikan derajat kita” ajak beliau.

Mahasiswa sekaligus menjabat sebagai ketua 2 MUA ini juga membacakan sepotong ayat berupa undzur ma Qola wa la tandzur man Qola yang artinya Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. Kemudian beliau berpesan bahwa siapapun yang berbicara, wajib untuk diambil ilmunya.

Sebelum membahas tentang muslim berprestasi, beliau menjelaskan makna muslim dan makna berprestasi. “Muslim yaitu orang islam yang berserah diri kepada Allah dan berprestasi yaitu ahli dalam bidangnya masing-masing. Serta Khoirunnas anfa’uhum linnas. Yaitu sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”Jelasnya.

Kemudian diskusi dilanjutkan oleh Ronny Setiawan. Mahasiswa yang menjabat sebagai ketua BEM UNJ ini menyampaikan bahwa Umar bin Khattab pernah berkata : “Nikmat besar setelah nikmat islam dan iman yaitu nikmat mempunyai sahabat yang shaleh”. Pria berkaca mata ini juga berpesan untuk tidak mengecilkan makna prestasi. Beliau berpendapat bahwa prestasi yaitu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Selanjutnya, diskusi ini ditutup dengan penyampaian oleh Zarqony Alwy. Ketua LDK Salim UNJ ini menjelaskan bahwa prestasi yaitu dapat melakukan sesuatu yang orang lain tidak bisa melakukannya.

See You Next Kiss
Masjid Ulul Albaab
#Lebih dekat,Bersahabat,Bermanfaat

Leave a comment

Kekuatan Besar yang Mampu Menghancurkan


Kami  masuk  penjara  kerana  kesewenang-wenangan  orang-orang  zhalim.  Kami disiksa dengan siksaan yang sangat menghinakan. Kehormatan manusia telah diinjak- injak  oleh  tindakan  yang  tak  bermoral,  yang  tak  pernah  terdengar  sebelumnya. Hampir-hampir  nyawa kami melayang. Kami mampu menahan lapar dan dahaga, dan kami dapat mengetahui nilai makanan dan mmuman setelah lama tidak mengkonsumsinya. Sehingga, dengan peristiwa ini, kami baru memahami derigan pemahaman  yang benar akan firman Allah, “Kerana kebiasaan  orang-orang  Quraisy, (yaitu)  kebiasaan  mereka  bepergian   pada  musim  dingin  dan  musimpanas,   Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), Yang telah memberi makanan  kepada  mereka  untuk  menghilangkan  lapar  dan  mengamankan  mereka dari ketakutan.” (Quraisy: 1-4)

Kami   berada   di   tengah-tengah   beberapa   batalion   dengan   langkah   cepat. Sementara di sekitar kami anjing-anjing galak dan cemeti, siap merobek-robek tubuh. Pada saat itulah kami merasa ketakutan dan gemetar. Di antara kami ada yang j atuh pingsan. Ada j uga yang j atuh hmgga kepalanya terluka, dan dibiarkan tanpa mendapat pengobatan maupun perawatan. Kami terus lari berjam-jam tanpa istirahat dan dilarang berteduh di bawah men-dung yang sedang lewat. Di antara kami juga ada yang terkencing-kencing, bahkan ada yang lebih dari itu.

Sebelum  kami  mengalami  tragedi  ini,  tidak  pernah  terbayangkan  sama  sekali bahawa para pemuda mampu bertahan menghadapi siksaan seperti yang kami alami, tanpa mengalami  kelumpuhan  atau mengidap  ber-macam-macam penyakit. Tetapi   —subhanallah—   kami   telah   membuktikan   setelah   tragedi   yang   berlangsung bertahun-tahun  ini, bahawa  manusia  memiliki  kekuatan  yang amat dahsyat  hingga mampu  bersabar,  bertahan,  dan tetap  bermujahadah.  Sebuah  kekuatan  aqidah  dan ruhiyah yang belum ditemukan sumbernya, yaitu kekuatan yang nyata berkat kekuasaan Allah, hingga mampu mengalahkan para diktator.

Banyak orang kagum bahkan tak habis pikir terha-dap kesabaran, ketabahan, dan ketegaran  kami.  Mereka  bingung  di  tengah  kesesatannya  hingga  Allah  turunkan mukjizat kepada mereka. Allah telah mengubah keadaan kami dari ketakutan menjadi aman.  Sementara  mereka  merasa  takut  setelah  merasa  aman.  Kami  telah  melihat mereka dengan mata kepala kami sendin, yang terkunci dalam sel-sel penjara tahanan perang milker.

‘Ibroh  dari tragedi  ini adalah  bahawa  dalam diri para pemuda  muslim  terdapat mampu  mengubah  kondisi umat menjadi  bebas, adil, dan berwibawa. Bagi mereka yang  menghayati  peristiwa  ini  akan  mampu  memahami  ibroh-ibroh  ini  dengan  jeli. Mereka  akan  dapat  menguak   dan  menemukan   potensi  manusia  mushm  dalam berkreasi, bila diberi kebebasan.

Kita dapatkan banyak potensi yang terpendam dalam diri seseorang  yang belum sempat terkuak, tenggelam sia-sia. Sehingga kita kehilangan nilai potensi ini dalam pembinaan produktivitas dan kaderisasi.

Oleh kerana itu, hendaklah  setiap aktivis berusaha  sekuat tenaga secara optimal dalam dakwah hingga menemui Allah. Kerana Islam adalah agama dunia dan akhirat. Sungguh, dalam diri umat ini banyak jalan terang menuju hati yang tertutup oleh debu- debu zaman dan maraknya kebatilan yang menenggelamkan kebenaran.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

Tidak Mengetahui Dakwah


Ketidaktahuan  segolongan  manusia  terhadap  dakwah bukan bererti Islam tidak ada di tengah-tengah umat manusia tersebut. Oleh kerana itu, para da’i —menang-gapi masalah ketidaktahuan segolongan manusia terhadap dakwah— hendaknya dapat memaklumi.  Dalam  hal  ini,  Rasulullah  saw.  pernah  berdoa,  “Ya  Allah,  tunjukilah kaumku! Sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui!”

Bila seorang da’i memahami hal ini, ia akan bersikap lembut, senantiasa berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran, serta memiliki “nafas panjang”. Seorang da’i harus memahami situasi dan kondisi seseorang, sebelum ia mendapat taufiq dan hidayah Allah menuju keimanan.

Begitu jugalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah meng-anugerahkan nikmat-Nya atas kalian, maka telitilah.” (An-Nisa’: 94)

Hidayah dan taufiq itu merupakan anugerah Allah. Allah berfirman,

“Mereka  merasa  telah  memberi  nikmat  kepadamu  dengan  keislaman  mereka.

Katakanlah, ‘Janganlah kalian merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislaman kalian,  sebenarnya  Allah Dialah  yang melimpahkan  nikmat kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada keimanan, jika kalian adalah orang-orang yang benar.'” (Al- Hujurat: 17)

Ketika   Anda   berusaha   mengubah   seseorang   dan   pemikiran   lama  menuju pemikiran baru, Anda harus menyadari bahawa pemikiran itu benar-benar baru bagi- nya. Ertinya, ia belum mengenalnya. Seseorang yang belum mengenal sesuatu, akan menolaknya. Betapa banyak kalangan sahabat, —ketika mereka belum masuk Islam— memusuhi  Rasulullah  saw.  tetapi  ketika  mereka  mendapat  hidayah  Allah,  mereka menjadi pendukungnya, bahkan berjuang dan berperang bersama beliau.

Oleh sebab itu, bila seorang da’i memahami bahawa sesungguhnya dirinya adalah pelaku ishlah (perbaikan), —seorang doktor dan seorang guru— maka pastilah ia akan mengubah  metode  dakwah  terhadap  orang-orang  awam.  Dengannya,  dakwah  akan masuk ke dalam relung hati dan akal yang paling dalam hingga mampu mengubah hati (perasaan) dan pikiran itu secara total.

Ustaz  Hasan  Al-Banna  pernah  menyatakan,  “Jika di hadapanmu  ada sejumput gula pasir dan sejumput garam, bagaimana Anda dapat membedakannya?  Saya akan mengatakan, ‘Saya harus mencicipi keduanya, kare-na dengan mencicipinya kita dapat membedakannya.'”

Agar manusia mengetahui dakwah, mereka harus merasakan pahit-manisnya dan daya tariknya.  Tanpa  merasakan  ltu terlebih dahulu,  mereka patut dimaklumi  atau dimaafkan, sampai kita telah mendatangi dan menawarkannya kepada mereka.

Barangsiapa mencicipi kenikmatan ishlah Ia pasti mengetahuinya Barangsiapa mengetahuinya ia akan bangkit Menyerahkan nyawa sebagai tebusan

Berapa banyak kaum muslimin  yang tak mengenal  dakwah,  bahkan  membenci para  da’i  dan  memerangi  Islam  dengan  berbagai  macam  metode  yang  tak  pernah terlintas  di  benak  setan  sekahpun.  (Ungkapan  Hasan  Al-Banna  dalam  Majmu’ah Rosail)

Saat ini, semua kebohongan dan rekayasa itu tercer-min di berbagai mass media seluruh penjuru dunia. Para da’i dilarang  secara  hukum  untuk  berbicara  di tengah hiruk-pikuk  yang  bergaung.  Namun  walaupun  dike-pung  konspirasi  dunia  yang zhalim untuk menghancur-kan Islam dan pemeluknya, alhamdulillah kita masih memiliki kekuatan iman yang melingkupi segala segi, dan tentunya tetap optimis terhadap pertolongan Allah.

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang- orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, kerana itu takutlah kepada mereka’. Makaperkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.'” (Ali-Imran: 173)

Di antara  kata-kata  pernyataan  As-Syahid  Hasan  Al-Banna,  “Kita  akan  menang dengan cara yang sangat sederhana. Sekali pun dunia akan menyaksikan  apa yang belum disaksikan sebelumnya.” Pernyaatan ini ber-peran penting dalam membangkitkan semangat,  kekuatan,  dan  kehidupan.  Kami  pun  terguncang.  Bagaimana  kita  dapat menang dengan cara yang paling sederhana, padahal kita bahkan tidak memilikinya?

Bagaimana mungkin Uni Sovyet dapat runtuh, padahal memiliki ratusan senjata nuklir? Itulah! Senjata-senjata itu tidak dapat berbuat apa-apa!

Bukankah ini sebuah realiti yang terang dan jelas. Kemenangan  itu hanya dari Allah, akan diarahkan menurut kehendak-Nya. Tidak ada urusan bagi-Nya kecuali bagaikan sekejap mata atau mendekatinya.  Bila Allah  mengatakan  kepada  sesuatu, “Jadilah kamu!” niscaya akan terjadi. Allah berfirman,

(Al-Qur’an) ini adalahpenjelasan  yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberiperingatan  dengannya, dan supaya mereka mengetahui  bahawasanya  Dia adalah Tuhan YangMaha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambilpelajaran!” (Ibrahim:52)

Sesungguhnya, misi seorang da’i di tengah kegelapan adalah menyalakan lilin, menuntun si buta, memperde-ngarkan  yang tuli, mengemban beban, memberi makan yang lapar, tawadhu’, dan kasih sayang kepada sesama muslim.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”