Leave a comment

Kisah Sekaleng Keju


Saya punya seorang mitra kerja dalam pembelian tanah. Dia punya seorang anak  yang  sudah  duduk  di  bangku  kuliah.  Suatu  hari,  saya  memberinya  hadiah sekaleng keju putih, hasil produksi pabrik keju saya. Ketika itu la mengatakan bahwa ia memihki dua teman, teman kuliah dan teman satu kost (asrama). Akhirnya saya beri  lagi  dua  kaleng.  Setelah  lewat  beberapa  hari,  ketika  saya  sedang  berjalan  di sebuah gang kota Rasyid, tiba-tiba saya dipanggil  seseorang yang baru saja keluar dari waning kopi. Ketika saya datangi, la segera mengatakan, “Saya ucapkan terima kasih banyak atas kiriman sekaleng keju yang telah Anda hadiahkan kepada anakku, Fulan.”  Lantas  la  mengeluarkan  uang  dari  dompetnya  hendak  diberikan  padaku sebagai ganti, namun saya menolak. la tetap bersikeras untuk membayarnya, padahal ia dan anaknya belum pernah saya kenal sama sekali. Saya katakan bahwa itu saya berikan  sebagai  hadiah  untuk  dia dan temannya.  Saya jelaskan  duduk  perkaranya, tetapi  ia  tetap  ingin  membayar  sehmgga  rnembuat  saya  dalam  posisi  yang  sulit. Akhirnya  saya  katakan,  “Sebe-narnya  saya  mengirimkan  itu  semata-mata  hanya sebagai  hadiah.  Bila  Anda  memaksa  ingin  tetap  membayar  maka  saya  berharap diterima saja sebagai hadiah, atau Anda kembalikan kepada saya seperti semula. Saya tidak akan mengambil uang gantinya.” Akhirnya la mengatakan, “Kalau begitu saya terima hadiahnya, kerana hadiah tidak boleh ditolak!”

Kasus ini telah banyak memberikan pelajaran bagi saya. Di antaranya, tidak bijak kalau  saya memberi  hadiah  seperti  ini tanpa  alasan  yang rasional  dan dapat diterima. Kerana saya belum mengenalnya,  wajarlah kalau orang tua salah seorang dari mereka hendak membayarnya. Sebab, mungkin ia akan berkata dalam hati-nya, “Mengapa dia memberi hadiah?” Barangkali ia ber-pikir bahwa hadiah tersebut merupakan sarana berhu-bungan sebagai langkah pertama menuju pintu dakwah.

Pikiran orang dalam kondisi seperti ini selalu didahului oleh berbagai macam dugaan dan prasangka.

Oleh kerananya, saya telah belajar dan kisah mi, jangan sampai kita isti’jal (terburu- buru). Tunggulah situasi dan kondisi yang alami dan wajar.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: