1 Comment

Dakwah: “Ruh dan Perasaan”


Saya pernah diundang sejumlah pemuda ke suatu tempat yang jarak tempuhnya memakan  waktu  tiga  jam.  Sesampainya  di  sana,  mereka  menyambut  saya  sambil duduk.   Wajah   mereka   hambar,   perasaannya   dingin,   dan  pandangannya   kosong. Kemudian saya diminta bicara oleh seniornya. Saya berbicara di hadapan mereka tanpa hati dan ruh. Seusai bicara, ia berterima kasih kepada saya. Lalu saya keluar dengan perasaan  seperti  baru pulang dari takziah. Saya pulang dengan perasaan yang sama seperti ketika datang. Saya merasa sangat sedih sekali setelah menyaksikan peristiwa ini.

Beberapa hari kemudian datanglah orang yang sama, yang mengundang pertama kali. Ia ingin mengundang  saya untuk yang kedua kalinya. Saya katakan kepada- nya,  “Saya  diundang  ke  mana?”  Pemuda  itu  menjawab,  “Ke tempat  ikhwah  yang kemarin dulu itu Ustaz!” Saya bertanya lagi, “Apakah mereka itu ikhwah?” la menja- wab, “Ya!” Lalu saya katakan, “Mustahil mereka itu me-miliki penghayatan  tentang nilai ukhuwah! Bagaimana mereka itu dapat dikatakan ikhwah, jika ketika ada tamu yang datang dengan menempuh perjalanan selama tiga jam, sambil memendam rasa rindu  yang  membara,  dan dengan  hati  yang  lapang  saja,  mereka  menyambut dengan perasaan dingin, sembari duduk bagaikan siswa-siswa di sekolah. Hubungan saya dengan mereka seperti seorang guru dengan rAurid dalam ruangan. Bila pelajar-an usai, maka guru atau murid akan keluar tanpa mem-beri isyarat apa-apa. Tanpa ada perasaan ukhuwah dan tanpa adanya seruan yang menyatukan mereka. Ketika meninggalkan  mereka,  saya  murung  dan sedih  atas kebekuan perasaan mereka dan hilangnya  kehangatan  hati mereka.  Ketahuilah,  sesungguhnya  perasaan  yang hidup itulah yang menjadi rahsia keberadaan dan kebangkitan kita.”

Akhirnya pemuda itu merasa malu dam bingung, seraya berkata, “Kalau memang ikhwah tidak menghayati  nilai ukhuwah  tersebut pada kesempatan  yang lalu, maka akan saya ingatkan sehingga mereka dapat memahami pada saat yang akan datang.”Saya pandangi dia seraya berkata, “Hai Tuanku, sesungguhnya  potensi ruhiyah, sentuhan rasa, kecmtaan pada kebaikan, serta perasaan yang lembut itu tidak akan muncul hanya sekedar dengan peringatan dan perintah. Sadarilah, bahawa yang dapat membangkitkan-nya  adalah dengan sentuhan-sentuhan  hati yang penuh kasih sayang dan kerinduan  yang sangat dalam terhadap  pasangan  seaqidahnya  yang  melekat  di hati.”Saya meminta maaf padanya kerana tidak dapat hadir, walaupun saya rindu dan kasihan pada mereka.”

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

One comment on “Dakwah: “Ruh dan Perasaan”

  1. Assalamualaikum wr wb. Mohon maaf, selayaknya antum tdk tolak untuk hadir, krn dg ketulusan antum akan menyentuh rasa ikhwah disana…sbgmn baginda Rosul SAW menyentuh rasa , dg menjenguk kafir yg tiap subuh meludahi Rasul, saat kafir sakit. Dg tersentuh rasa, si kafir masuk islam. Itulah islam rohmatan lil alamin. Semoga kita dapat ittiba baginda Rosul SAW. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: