Leave a comment

Dia Tidak Hadir kerana Berhalangan


Dia adalah sebaik-baik teman, paling aktif ke masjid dan sangat mencintai teman- temannya.  Tiba-tiba,  lama  sekali  tidak  kelihatan  batang  hidungnya  di  tengah- tengah mereka. Ketika kemudian  ia dapat berkumpul  kembali,  tiba-tiba  seorang teman   datang   memaki-makinya.   Dengan  nada  sedih  ia  mengatakan   padanya, “Kenapa kamu sekarang menengokku? Ke mana saja kamu dan teman-teman selama ini?   Mengapa   tidak   berusaha   mencariku   selama   beberapa   bulan   terakhir   ini? Sebenarnya, saya sangat memerlukan kehadiran kalian di sampingku di saat istriku meninggal dunia, dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Saya membu-tuhkan orang-orang yang akrab dengan saya pada saat-saat kritis seperti itu.”

Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi saudara-saudara yang belum memenuhi kewajiban   kepada  sau-daranya   yang  lain  dalam  hal  memantau   kondisinya.   Ini merupakan kewajiban minimal. Kerana Rasul telah ber-sabda, “Bila ia tidak ada maka carilah….”

Ini sekedar contoh, seseorang yang lama tidak muncul dan tidak diketahui penyebabnya, tidak akan jelas alasannya kecuali setelah menanyakannya.

Satu contoh lagi, sejumlah orang hidup bersama bertahun-tahun dalam kondisi yang serba sulit —senasib sepenanggungan—. Tiba-tiba, (sudah menjadi sunnatullah bahawa manusia pasti akan saling berpisah dan berjauhan) kerana tuntutan hidup, studi, atau pekerjaan sehingga kebersamaan itu akhirnya berhenti juga. Ternyata, ada yang menganggap temannya ini sudah mulai mengambil jarak, atau pergi kerana takut, atau kerana  mulai  mele-mah  keakrabannya,  dan  Iain-lain.  Sehingga  timbullah  berbagai macam dugaan. Padahal kita dilarang melakukan hal tersebut. Allah telah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian  prasangka  itu  adalah  dosa,  danjanganlah  kalian  mencari-cari  kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kalian menggunjing sebahagian yang lain.” (Al- Hujurat: 12)

Kemudian ia menghilang dari ingatan teman-teman-nya, kerana mereka tidak memperhatikan haknya.

Setelah lama berselang dan banyak peristiwa penting terjadi, seperti biasanya dalam perjalanan  dakwah,  tiba-tiba  mereka  dikagetkan  dengan  munculnya  teman  lama mereka yang sudah sekian waktu menghilang. Ia berada di tengah-tengah mereka.

Ia mengorbankan jiwa dan hartanya dengan penuh ketulusan dan keberanian yang mengagumkan,  bahkan  membuat  malu  sebahagian  mereka  yang  belum  memahami hakikat  dakwah.  Seseorang  yang  sudah  merasakan  nik-matnya  dakwah,  —dakwah sudah  menyatu  dalam  hati,  perasaan,  dan  pikirannya—  maka  la akan  menganggap murah  semua  yang  ada  padanya.  Dakwah  lebih  mahal  dibanding  semua  yang dimiliki.

Seorang  da’i  harus  senantiasa  husnuzhan,  tidak  me-rendahkan  yang  lain,  atau merasa dirmya lebih baik dari yang lain dalam barisan dakwah. Bahkan, seorang da’i pada saat tertentu ada di depan, pada saat yang lain ada di barisan belakang.

Setiap orang yang pernah tersentuh ruh dakwah nis-caya akan tetap hidup bersama dakwah  hingga  menemui  Allah.  Kerananya  seorang  da’i  harus  selalu  husnuzhan kepada sesama saudaranya dan menutupi aibnya, sampai ia sadar dan kembali ke jalan yang benar. Sehingga,

ketika seorang da’i kembali kepada teman-temannya, ia tetap menjumpai suasana saling mencintai.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: