Leave a comment

Dua Karakter Da’i: “Cerdas dan Bersih“ *)


Agar dakwah kita berhasil maka seorang da’i harus memiliki dua sifat ini: “cerdas dan bersih”.

Yang saya maksud adalah cerdas akalnya dan bersih hatinya. Saya tidak mensyaratkan kecerdasan yang brilian. Cukuplah apabila dapat memandang segala sesuatu secara proporsional, tidak ditambah atau diku-rangi. Sebab, saya menyaksikan sebahagian  orang  memiliki  pola  pikir  yang  kacau.  Tidak  tepat  ketika  mempersepsirealita, sehingga menganggap adat sebagai                                    

*) Oleh: Syaikh Muhammad Al-Ghazali

ibadah, sunah sebagai hal wajib, dan penampilan fisik sebagai hal yang utama. Hal inilah yang   dapat   mengacaukan terapi   penyelesaian    kasus-kasus   yang   timbul   dan menyebabkan dakwah mengalami kegagalan yang serius.

Sifat “bersih” menyangkut kondisi hati yang saya kehendaki bukanlah seperti “bersihnya  malaikat”  tetapi  hati yang  dapat  mencintai  dan  menyayangi  orang  lain. Tidak bersuka ria di atas kesalahan dan penderitaan orang lain. Bahkan, merasa sedih atas kesalahan mereka dan berharap agar mereka mendapat jalan kebenaran.

Saya  pernah  didatangi  oleh  seorang  mahasiswa  yang  memberitahukan  bahawa beberapa orang akan mengada-kan  pentas musik. la bersama teman-temannya  akan mencegah pentas ini dengan jalan apa pun, termasuk dengan car a kekerasan.

Saya katakan padanya, “Saya sepakat dengan kalian dalam menghentikan pesta ini. Tetapi,  sampaikanlah  pendapat  dan  nasihatku  ini  kepada  mereka.  Tidak  pan-tas bersuka ria di saat banyak peristiwa menyedihkan, baik lokal maupun internasional. Bagaimana kita bernyanyi-nyanyi sementara puluhan ribu kaum muslimin terbunuh, terluka, dan terusir. Bencana Palestina dan Afghanistan masih terus berlangsung dan masa  depan  Islam  di  kedua  negara  tersebut  masih  suram.  Sementara  itu  perang saudara di Somalia telah menelan korban ratusan kali lipat daripada perang saudara di Yugoslavia.  Musibah  banjir  besar  telah  merenggut  korban  di  Iskan-daria,   serta musibah-musibah  lain  di  berbagai  tempat.  Lalu  untuk  apa  kita  bernyanyi-nyanyi? Apakah hati kita sekeras batu?”

“Mereka  tidak  akan  menerima  saran  ini!”  ujar  mahasiswa  tersebut.  Lalu  saya katakan, “Coba tanya mereka, apa yang akan dinyanyikan? Apakah syair cinta murahan dan lagu selera rendah? Kalau memang demikian bererti masyarakat ini sedang sakit perasaannya  dan tidak  akan  memunculkan  sesuatu  kecuali  keburukan.  Seharusnya pada masa-masa  krisis yang sedang  mengepung  kita ini, kita  menjauhi  suara-suara yang tidak berguna.”

“Saya tidak akan mengatakan seperti yang Anda anjurkan tadi, tetapi akan saya katakan kepada mereka, bahawa Allah telah mengharamkan nyanyian dan kami akan bubarkan pesta itu di depan panitia penyeleng-gara!” jawab mahasiswa tersebut.

Kemudian saya katakan kepadanya, “Kamu ini masih tergolong baru di kancah dakwah,  mengapa  tidak  mengambil  pelajaran  dari  pengalaman  para pendahulu-mu? Apalagi   Islam   banyak   mempunyai   musuh   yang   sedang   menanti,   jadi   jangan tunjukkan  kepada  mereka  kekurangpahaman   dan   keburukan   tmdakan   kita!” Ternyata  la  menolak  dan  tetap  pada  prinsip  semula.  Akhirnya  mereka  ditangkap polisi dan sebahagian masuk penjara.

Saya selalu memberi nasihat kepada aktivis Islam untuk senantiasa bersikap bijaksana  dalam  dakwah.  Saya  tekankan  agar  tidak  memben  peluang  kepada musuh-musuh  Islam  untuk  menyerang  dan  memojok-kan  Islam maupun  para da’i hanya gara-gara semangat yang dibarengi sikap ceroboh.

Hendaklah  tujuan  utamanya  adalah  pembinaan  aqidah,  akhlak,  dan  ibadah. Adapun  masalah-masalah  khilafiyah,  tidak  ada  hubungannya  dengan  dakwah  dan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Daud as. dan Sulaiman as. saja tidak berselisih dalam masalah tanaman yang dirusak dan dimakan kambing.

Seb ahag ian  ulama,  ada  y ang  ber pen dapat  b ahaw a menyusui sewaktu besar sama hukumnya dengan ketika masih kecil. Bila timbul khilaf, hendaknya dibahas pada bidangnya (pada masalah fiqihnya saja). Adapun menga-lihkannya  ke bidang dakwah merupakan kesalahan besar.

Seorang  da’i  yang  tidak  memiliki  kecerdasan  akal  dan  kebersihan   hati,  akan membuat  problem  yang  rumit  di  tengah perkembangan  Islam. Saya pernah pergi ke Kanada dan Amerika Serikat —ketika saya menjadi utusan Rabithah Alam Islami—

. Di sana banyak da’i yang mele-takkan “bebatuan” di tengah-tengah jalan Islam, yang mereka ambil dari lingkungan hidup zaman dahulu agar laju perkembangan  dakwah berhenti di tengah-tengah dunia baru. Mereka marah kerana membela madzhab dan kepentingannya  dengan mengatasnamakan  Islam. Tetapi Allah mengetahui  bahawa sesungguhnya mereka memperlukan orang yang dapat menyinari akal pikiran mereka dan membersihkan hatinya.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: