Leave a comment

Fitnah yang Hanya Mampu Dihadapi Seorang Nabi


Saya  membaca  dan  merenungkan  (hadith)  ketika  Rasul  saw.  mengatakan, “Kita pulang dan jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa jihad yang lebih besar itu?” Rasul menjawah, “Jihad melawan nafsu.”  Saya  membayangkan  hidup  bersama  Rasulullah  dan  para  sahabatnya  pada Perang Hunain, berkenaan dengan firman Allah swt..

Dan ingatlah peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak kerana banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun.” (At-Taubah: 25)

Akhir   dan   peperangan    itu,   kaum   muslimin    pulang   dengan   membawa kemenangan,  yang  semata-mata  atas  pertolongan  Allah.  Kemudian  mereka membahagi-bahagikan   ghanimah   (harta   rampasan   perang).   Harta   itu  dibagikan terutama kepada para tokoh kabilah yang baru saja masuk Islam, dengan bahagian yang lebih besar dalam rangka melunakkan hati mereka. Bahkan, Nabi saw. memberikan puluhan unta kepada setiap orang dari mereka.

Saat itu kaum Ansar tidak mendapat bahagian, kerana ghanimah hanya diberikan kepada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah  setempat. Maka timbullah di hati sahabat Ansar ganjalan dan berbagai dugaan. Muncullah kasak-kusuk di antara mereka. Muncul pula perasaan dongkol, hingga terlontar ungkapan dari mulut mereka, “Siapa yang mengungkapkan  perkataan  buruk?”  Lalu  di  antara  mereka  sendiri  ada yang menj awab, “Rasulullah, beliau telah bertemu kaumnya.”

Sejenak kita berhenti dan merenung. Bagaimana mungkin orang-orang Ansar me miliki  perasaan  macam-macam  dan  dugaan  negatif,  padahal  mereka  adalah orang-orang terdepan dalam Islam? Bagaimana mungkin mereka saling kasak-kusuk hingga muncul ungkapan bernada miring, padahal mereka baru saja kembali  dari Perang  Hunain,  bahkan  darah  yang  mengucur dari luka mereka pun masih segar? Bagaimana   mungkin,   padahal   mereka   telah   berperang   dengan   senjatanya, membela Islam dengan mengorbankan harta, dan meninggalkan keluarga demi perjuangan?  Sungguh ini merupakan  kes yang sangat berbahaya.  Tak seorang pun dari sahabat yang menduga kes ini akan muncul, namun kenyataannya hal itu benar- benar  terjadi  dan (sangat  mungkin)  akan  terus berulang  pada generasi  berikutnya, sepanjang  zaman.  Sungguh,  kes yang rumit ini lebih berbahaya  daripada  apa yang terjadi   pada   Perang   Hunain   sendiri.   Mengapa?   Sebab   Perang   Hunain   adalah peperangan  antara  kaum  mukminin  dan  kaum  kafir.  Dalam  keadaan  seperti  ini semangat  kaum  mukminin  berkobar,  ikatan  ukhuwah  dan  kasih  sayang  di  antara mereka  makin  kuat,  dan pengorbanan  untuk  membela  agamanya  semakin  besar. Sementara  pada kes yang pekat ini, dapat memicu bila tidak ada pertolongan Allah lahirnya  peperangan  di antara  kaum  mukminin  sendiri,  meskipun  di  tengah-tengah mereka ada Rasulullah saw. Allah swt. berfirman,

Bagaimana kalian (sampai) menjadi kafir, padahal telah dibacakan kepada kalian ayat-ayat Allah dan Rasul-Nyapun ada di tengah-tengah kalian?” (Ali Imran: 101)

Fitnah-fitnah  ini hanyalah  sebuah  miniatur  dari sebuah kejahatan,  dan Allah swt.  Yang  Mahabijaksana  dan  Mahaagung-lah  yang  dapat  memadamkannya.  la adalah fitnah yang hanya menimpa Nabi.

Sa’ad   bin   Ubadah   datang   menghadap   Rasulullah   seraya   berkata,   “Wahai Rasulullah, ada sebahagian kaum Ansar yang di hatinya muncul “ganjalan perasaan” mengenai  pembahagian  fa’i  (harta  rampasan  perang)  yang  telah  engkau  putuskan. Engkau  bahagikan  kepada  kaum-mu  dan  engkau  bagikan  kepada  kabilah-kabilah Arab   dengan   pembahagian    yang   besar.   Sementara   kelompok   Ansar   tidak mendapatkan sedikit pun dari pembahagian itu.” Rasul berkata, “Wahai Sa’ad, kamu sendiri berada di pihak yang mana?” Sa’ad menjawab, “Saya hanyalah bahagian dari kaum saya!” Kemudian Rasul mengatakan, “Kumpulkan kaummu di tempat ini!”

Ini merupakan peristiwa baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sa’ad bin Ubadah,   seorang   tokoh   Ansar,   pergi  menghadap   Rasul  untuk   menyampaikan persoalan ini dengan jelas, terus terang, amanah, dan berani. Sehingga ketika Rasul bertanya,  “Wahai  Sa’ad,  kamu  sendiri   berada   di  pihak  yang   mana?”   Sa’ad menjawab, “Saya hanyalah bahagian dari kaum saya!”

Tokoh Ansar ini tidak berdiam diri terhadap kes yang dialami kaumnya, juga tidak mencacinya, apalagi mencari muka di hadapan Rasulullah dengan menjelek-jelekkan mereka.  Bahkan  dengan  “rasa solidaritas”  kepada mereka, tokoh ini mengatakan, “Saya hanyalah bahagian dari kaum saya!” Sungguh, ini merupakan sikap jantan dan kesatria, yang mampu menggoncang jiwa.

Pada waktu Sa’ad keluar untuk mengumpulkan  sahabat Ansar di tempat yang ditentukan,   tiba-tiba   datang   sekelompok   sahabat   Muhajirin   ikut   masuk,   tetapi dibiarkan oleh Sa’ad. Kemudian datang lagi sekelompok  yang lain, namun dilarang olehnya.

Setelah mereka berkumpul, Sa’ad mendatangi Rasul Allah seraya berkata, “Sekelompok  sahabat  Ansar  telah  berkumpul  guna  memenuhi  seruanmu  dan tak  seorang  pun  yang  tertinggal.”  Rasul  mendatangi  mereka  sambil  bertahmid kepada Allah dan berterimakasih kepada Sa’ad atas perhatiannya, kemudian bersabda,  “Wahai  sahabat  Ansar,  saya  telah  mendengar  tentang  kalian  bahawa dalam  hati  kalian   muncul   segumpal   perasaan   yang   mengganjal         mengenai tindakanku  membahagi-bahagi  fa’i. Wahai kaumku, bukankah aku datang kepada. kalian pada saat kalian tersesat, lalu Allah tunjukkan jalan kepada kalian? Aku kalian? Aku datang kepada kalian saat kalian saling bermusuhan, lalu Allah satukan hati kalian?” Mereka serentak menjawab, “Benar, Allah dan Rasul-Nya yang telah memberikan  karunia  dan  anugerah.”  Rasul  bertanya,  “Mengapa  kalian  tidak mahu  menjawab  pertanyaanku  wahai,  kaum Ansar?”  Mereka  menjawab,  “Apa lagi yang harus kami jawab    wahai Rasulullah? Anugerah dan karunia hanyalah milik  Allah  dan  Rasul-Nya!”  Kemudian  Rasul  saw.  bersabda,  “Sungguh  demi Allah,  seandainya  kalian  mahu,  kalian  dapat  mengatakan  kepadaku,  dan  kalian benar adanya. Kalian akan mengatakan, ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terabaikan, lalu kami menolongmu. Engkau datang kepada kami dalam keadaan menderita,  lalu  kami  menampungmu.   Dan  engkau  datang  kepada  kami  dalam keadaan sengsara, lalu kami membantumu.'”

Rasulullah adalah orang yang sangat mencintai sahabatnya. Beliaulah yang mengatakan,  “Sahabatku  sebagai  bintang-bintang.   Kepada  siapa  pun  di  antara mereka kalian mengikuti, kalian pasti akan mendapat petunjuk.”

Para sahabat juga dipuji Allah dalam kitab-Nya,

Muhammad  itu adalah utusan Allah dan orang-orang  yang bersama  dengan dia bersikap keras kepada orang-orang kafir tetapi bersikap lemah lembut kepada sesamanya!”{Al-Fath:29)

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu  dan mereka sedikitpun  tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23)

Muhammad  saw. selalu bersikap rendah hati dan kasih sayang kepada mereka. Sungguh, behau mengetahui kedudukan mereka dan membanggakannya, beliau tidak pernah bertindak sewenang-wenang  kepada mereka. Mereka adalah generasi Islam pertama yang unik. Dengan perasaan  ketuhanan  yang lembut dan akhlak nabawi yang mulia inilah hati mereka segera berubah menjadi bersinar dan segar. Beliaulah yang secara proaktif  melayani  mereka dengan penuh rasa kasih sayang, berdialog dengan mereka dengan kata-kata yang lebih baik, yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, dari aqidah yang bersih, dan untuk tujuan yang suci.

“Sungguh  demi  Allah,  seandainya   kalian   mahu,   kalian   dapat   mengatakannya kepadaku, dan kalian benar adanya. Kalian dapat mengatakan, ‘Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terabaikan, lalu kami menolongmu. Engkau datang kepada kami dalam keadaan mendenta, lalu kami menampungmu.  Dan Engkau datang kepada kami dalam keadaan sengsara, lalu kami membantumu.'”

Beliau seorang rasul mulia yang dapat menyelami hati para sahabatnya dengan kaedah kenabian yang penuh kejujuran dan ketawadhu’an. Suatu cara yang tidak dicemari oleh debu kesombongan dan kecongkakan.

Pernahkah Anda mendengar di dunia ini orang yang dapat memadamkan  situasi panas dengan kasih sayang dan kedekatan? Pernahkah Anda mendengar di dunia ini seseorang yang berkata tentang dirinya, “Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terabaikan, lalu kami menolongmu. Engkau datang kepada kami dalam keadaan menderita,  lalu  kami  menampungmu.  Dan  Engkau  datang  kepada  kami  dalam keadaan sengsara, lalu kami membantumu.” Sungguh, tidak pernah ada kecuali seorang Nabi yang punya mukjizat.

Dalam peristiwa ini telah tercatat suatu fenomena kepemimpinan  terbaik dan seorang Nabi yang,

“Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)

Dialah seorang manusia “agung” yang pernah tampil di pentas dunia ini. Beliau tidak menunjukkan sikap permusuhan atau sikap membela diri, tetapi beliau justeru menjelaskan sebagaimana anjuran Allah,

“Ajaklah (manusia) ke jalan ‘Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebib baik.” (An-Nahl: 125)

Adakah  cara  yang  lebih  baik  daripada  membalut  luka dan menyatukan  hati untuk menarik kebahagiaan?  Rasulullah  s aw.  meny ebutkan  keutamaan  untuk pemiliknya.  Dengan  inilah  akan  muncul  keutamaan-keutamaan  yang lain, akan dapat menumbuhkan jiwa yang bersih, dan kasih sayang menjadi semakin subur.

Kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai sahabat Ansar, apakah kalian dapatkan melunakkan hati suatu kaum sehingga mahu masuk Islam, sementara saya sudah tidak meragukan lagi keislaman kalian?”

Dengan nasihat ini, Rasulullah ingin memotivasi iman orang-orang Ansar dan mengingatkan  masa  lalu  mereka  yang  cemerlang.  Dengan  cara  ini  beliau  meng- ingatkan kepada mereka yang lupa bahawa pada prinsipnya, jihad itu mengentaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya dan menarik mereka ke dalam Islam. Oleh kerana  itu,  Rasul  saw.  memberikan   sedikit  ghani-mah   dengan  harapan  dapat melunakkan  hati  suatu  kaum  yang  baru  mengenal  Islam,  agar  masuk  Islam  dan bertambah keimanannya. Itulah sebenarnya inti tujuan sikap beliau. Tujuan dakwah adalah  untuk  menyelamatkan   manusia.  Harta  gbanimah,  berapa  pun  nilainya, hanyalah secuil dunia. Apa yang ada di sisi Allah-lah yang lebih baik dan abadi.

Seorang  mukmin  harus  mengingat  kembali  prinsip  dalam  setiap  pengambilan sikap saat menyeru Allah Tujuan Kami”. Sesungguhnya inilah makna ungkapan Rasulullah, “Saya percaya pada keislaman kalian!” yakni percaya  pada pemahaman dan kesadaran iman para sahabat yang utuh.

Selanjutnya  Rasulullah  mengatakan,  “Wahai sahabat Ansar,  apakah  kalian  tidak rela bila orang lain pergi membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?”

Sungguh suatu sentuhan ruhiah yang mengesankan  dan besar pengaruhnya  bagi jiwa. Orang lain pulang dengan membawa sepotong dunia yang fana, sementara yang lain pulang  dengan  disertai  makhluk  yang tercinta  di sisi Allah, yaitu Muhammad Rasulullah  saw.  Alangkah  terhormatnya  yang  mendapat  bahagian  ini!  Alangkah bangga dan mulianya mereka! Bahkan setelah itu, mereka masih mendapat syafaat dan kebersamaan dengan Rasul di hari Kiamat nanti.

Berikutnya Rasulullah mengatakan, “Demi zat yang jiwaku di tanganNya, seandainya tidak ada hi) rah niscaya saya adalah salah seorang dari kaum Ansar. Seandainya seluruh manusia menempuh jalan di suatu lereng bukit dan kaum Ansar menempuh jalan di lereng bukit yang lain, saya akan lewat di lereng bukit bersama orang-orang  Ansar.  Ya Allah,  rahmatilah  sahabat  Ansar, anak-anak, dan cucu- cucu  mereka.”  Demi  mendengar  itu  semua,  menangislah  mereka  hingga  janggut mereka basar dengan air mata. Di antara sedu-sedan itu mereka berkata, “Kami rela mendapat  bahagian  Rasulullah  saw.!”  Ungkapan  Rasulullah  ini  pada  hakikatnya ditujukan  untuk  seluruh  umat  manusia.  Suatu  ungkapan  yang  membasahi jiwa dan menyentuh perasaan. Rasul mengutamakan  mereka  (kaum  Ansar)  atas  kaum yang   lain   kerana   jasa,   perlindungan,   dan   pertolongan   mereka.   Alangkah senangnya bila waktu itu kita termasuk di antara mereka. Adakah keinginan yang lebih dari itu? Seandainya  kaum Ansar  menginfaqkan  semua  yang ada di muka bumi ini, sungguh hal itu tidak dapat mencapai ketinggian darjat seperti “menara” ini, atau kebanggaan dan keberhasilan mendapat syurga, serta keredhaan Allah.

Saudaraku yang mulia, tahukah Anda bagaimana  nasib manusia dulu, sekarang, dan  yang  akan  datang?  Tahukah  Anda  bagaimana  terapi  menghadapi  ujian  dan rintangan yang menantang?

Apa yang dilakukan  oleh Rasulullah  adalah dalam rangka  mencerahkan  nasib umat manusia, dengan sebuah “terapi”. Sungguh suatu terapi yang bersifat memadukan bukan memisahkan, membangun bukan merobohkan, menambah kecintaan  dan  kedekatan,  mengalahkan  godaan-godaan  nafsu,  dan  mengangkat manusia  menuju  darjat  aqidah  dan  tujuan  yang  tinggi.  Suatu terapi yang jelas-jelas dalam rangka merealisasikan cita-cita tertinggi dengan berdirinya daulah Islamiah yang selalu mengibarkan panji Al-Qur’an.

Tiada Zat yang wajib disernbah kecuah Allah, dan Muhammad saw. adalah utusan Allah.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: