Leave a comment

Orang Badui Itu …


Pada suatu hari ada seorang Badui yang buang air kecil di masjid. Melihat kejadian itu para sahabat menjadi berang, lalu memarahinya. Melihat hal itu Rasulullah bersabda,

“Biarkanlah... dan siramlah bekas air seninya dengan satu ember atau satu gayung air. Kalian disuruh untuk mempermudah dan bukan untuk mempersulit.” (HR. Bukhari)

Dalam peristiwa ini ada pelajaran sangat berharga yang harus dipahami oleh para da’i. Ada orang buang air kecil di masjid. Memang ini merupakan pemandangan yang membuat darah mendidih, tetapi kita bisa melihat bagaimana Rasulullah menyikapi kejadian ini. Rasulullah membiarkannya dan menyuruh para sahabat agar menyiram bekas air seni itu, karena Rasulullah mengetahui bahwa perbuatan semacam itu tidak akan dilakukan, kecuali oleh orang yang baru masuk Islam dan orang semacam itu butuh belajar bukan malah dima-rahi dan dimaki. Allah swt. berfirman,

“Demikian juga keadaan kalian dahulu, kemudian Allah menganugerahkan nikmat-Nya (hidayah) kepada kalian….”(An-Nisa’: 94)

“Siramlah dengan  seember  air,”  demikianlah  Rasulullah  langsung memberikan   solusinya,   tanpa   diser-tai   rasa   marah   dan   benci,   bahkan   beliau mendekatinya dengan penuh kasih. Setelah itu Rasulullah bersabda,

“Kalian  diutus untuk mempermudah dan bukan untuk mempersulit.”Seakan- akan Rasulullah bersabda kepada setiap muslim, “Sesungguhnya kamu mempu-nyai tugas untuk berdakwah dengan bijaksana dan dengan nasihat yang baik.”

Orang-orang yang seperti orang Badui itu adalah sasaran dakwah kita. Lalu bagaimana kita akan bisa mendakwahi jika sebelumnya kita sudah memarahi dan menyakitinya? Allah berfirman,

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agamajku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata.” (Yusuf: 108)

Dalam kejadian ini Rasulullah telah memberikan pelajaran yang amat penting. Akan tetapi, jika kita melihat da’i-da’i muda kita, kita akan menjumpai kejadian-kejadian semacam ini atau kejadian yang jauh lebih ringan. Mereka bersikap dengan sikap-sikap yang memprihatinkan. Mereka langsung menyikapi dengan marah tatkala melihat ada perbuatan yang berlawanan dengan sunah, bahkan dalam masalah-masalah khilafiyah.

Ada pemuda masuk masjid lalu shalat, sedangkan di lehernya melingkar seuntai kalung emas. Baru saja ia menolehkan wajahnya ke samping kiri sebagai tanda telah menyelesaikan shalatnya, tiba-tiba beberapa orang yang ada di masjid itu mendekatinya dan dengan nada marah mereka menjelaskan bahwa memakai emas itu haram hukumnya bagi laki-laki. Bahkan ada di antara mereka yang hampir mengusirnya dari masjid.

Seandainya para da’i muda itu telah memahami ajaran agama mereka, pasti mereka akan mengetahui bahwa pemuda itu berasal dan lingkungan yang tidak islami dan kedatangannya ke masjid itu dalam rangka kembali ke jalan Allah swt.

Sebetulnya sikap yang harus diambil adalah merasa gembira dan menyambutnya dengan baik karena la adalah aset bagi kita, andai saja mereka memahami.

Dulu, dan mungkin masih dapat kita jumpai pada saat ini, banyak orang yang melarang anak-anak ikut shalat berjamaah di masjid dengan alasan bahwa mereka (anak-anak itu) mengakibatkan air terbuang percuma dan seringkah membuat suasana gaduh. Mereka tidak mengetahui bahwa dengan sikap itu mereka telah menjauhkan anak-anak mereka dari Islam dan menghalangi perkembangan cara berpikir anak-anak  itu  dari  pertumbuhan dan pendidikan islami dalam masa-masa subur mereka. Barangsiapa pada masa mudanya membiasakan diri dengan sebuah perilaku, maka ia akan terbiasa dengan perilaku itu pada masa tuanya. Jika kita mengusir anak- anak itu dan masjid, berarti kita telah melemparkan mereka pada kehancuran, serta membiarkan mereka ditelan arus jahiliah dan kemungkaran.

“Madarisul Jum’ah” adalah wadah pendidikan anak di bawah naungan Ikhwanul Muslimin yang mempunyai peran sangat penting dalam membentuk  generasi ini. Pada tahun 1951 M. saya mengenal seorang murid laki-laki berumur sembilan tahun yang duduk di Madarisul Jum’ah,  Iskandaria. Kemudian  ketika  kami ditangkap oleh pihak pemerintah dalam peristiwa  tahun 1965 M., saya menjumpai anak tersebut juga ditangkap dengan tuduhan yang sama, dan ia dijatuhi hukuman penjara selama lima belas tahun.

Pada hari-hari i’tikaf di bulan Ramadhan di Masjid As-Salam, Iskandaria, ada dua orang pemuda berwajah tampan dengan pakaian mahal, masuk ke dalam masjid, sedangkan  di  leher  mereka  melingkar  kalung  emas.  Kemudian  keduanya  ikut shalat  berjamaah  bersama  kami yang  memakan  waktu selama  kurang  lebih dua jam dengan telaten dan sabar. Setelah shalat selesai, saya dan beberapa ikhwah yang lain mendekati  keduanya,  serta  menyambut  mereka  dengan  baik dan penuhpeng- hormatan. Setelah perkenalan, kami mengetahui bahwa keduanya adalah mahasiswa Universitas  Kairo  yang  sedang  liburan  musim  panas.  Keduanya  tetap  aktif  melakukan  shalat.  Saat  hari  raya  pun,  mereka  ikut  melaksana-kan  shalat  hari  raya  di lapangan  Universitas  Iskandaria  dan  turut  berbahagia  merayakan  hari  besar  itu bersama lautan manusia yang hadir di tempat itu.

Tidak  lama  setelah  hari-hari  yang  mengukir  kejadian  itu berlangsung,  saya telah mendapatkan  keduanya  melepaskan  kalung  emas  yang  mereka  pakai  tanpa harus menggunakan  gertakan  yang kadang-kadang  membuat  mereka lari dan tidak akan kembali ke masjid.

Yang harus kita pahami saat ini adalah bahwa sebe-lum pemuda itu datang ke masjid, ia berada dalam sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan aktivitas yang sia-sia. Ketika Allah membuka hatinya, lalu ia datang ke masjid, dan sesampainya di masjid ia disambut  dengan  cacian  dan  kerutan  wajah,  maka  nafsunya  akan  mengajaknya kembali  ke tempat  semula.  Orang yang menyebab-kannya  lari dari masjid juga akan menanggung dosa.

Ucapan  “Selamat  Pagi”  (atau  semacamnya)  merupa-kan  titik  awal  untuk saling  mengenal,  bukan  malah  dijawab  dengan  teguran  dan  kritikan.  Kadang- kadang teguran itu dilakukan oleh anak muda kepada orang tua dengan tanpa mengindahkan adab sopan santun sama sekali.

Di  antara  tujuan  pensyariatan  shalat  berjamaah  ada-lah  terciptanya  suasana saling mengenal  dan terciptanya  kesatuan  barisan  kaum  muslimin.  Jika  tujuan  ini tidak  terlaksana,  maka  apa  bedanya  antara  shalat  jamaah  dan  shalat  sendirian  di rumahnya  masing-masing?  Rasulullah  bersabda,  “Shalat  berjamaah  lebih  utama  dari shalat sendirian; dua puluh tujuh derajat.”

Pada tahun 1981 M. saya diundang untuk mengha-diri  Muktamar  Pemuda Muslim Arab di Amerika.  Muktamar ini dihadiri oleh empat ribu mahasiswa yang menyewa   hotel   Hilton   dan   sekitar   seribu   wanita   muslimah  beserta  anak- anaknya yang menyewa hotel yang lain. Mereka juga menyewa sebuah ruangan yang sangat  luas  untuk  tempat  ceramah.  Sebuah  ruang  yang  dilengkapi  dengan  sound system tercanggih waktu itu, ditambah lagi dengan penjaga-penjagayang  dipersiapkan secara khusus.

Bayangan  masa  lalu pun hadir  di pelupuk  mata.  Saya teringat  tatkala  kami tinggal di kantor cabang Ikhwanul Muslimin yang hanya dilengkapi oleh tikar dan lampu minyak. Saya juga ingat saat berdakwah di Ismailia yang hanya dihadiri oleh enam orang yang kesemuanya  adalah pekerja kasar. Saya juga teringat tatkala saya pergi ke Yaman dan bertanya kepada ikhwah di sana, “Bagai-mana  kalian memulai dakwah ini?” Mereka menjawab,

“Pada  masa-masa  awal dakwah  kami, kami harus  me-nempuh  jarak yang amat jauh dengan berjalan kaki demi untuk menyampaikan dakwah. Tatkala Allah memberi- kan kepada kami dua qirs (nama mata uang), maka kami membeli himar (keledai) yang kami beri nama ‘himar dakwah’.”

Hari ini saya berada di muktamar ini dan mendengar syiar-syiar Islam dikumandangkan, yang diselenggarakan oleh pemuda-pemuda terdidik di jantung Amerika.  Da-lam  waktu  yang  singkat  mereka  dapat  mengumpulkan  dana  bagi mujahidin sebanyak seperempat juta dolar.

Tatkala saya merenungkan semua itu dengan disertai tetesan air mata —waktu itu di tangan saya tergenggam tasbih— tiba-tiba seorang mahasiswa yang berada di belakang  saya  berkata  kepada  saya,  “Paman.”  Saya  me-noleh  ke  arahnya.  Lalu  ia berkata,    “Tasbih ini bid’ah.” Saya memandang kepadanya seperti orang yang baru saja terjaga dari tidurnya, lalu berkata, “Saudaraku, kita ini tinggal di Amerika, sarang dari segala bid’ah.” Setelah itu saya beristighfar kepada Allah swt.

Umar bin Khathab  ra. adalah sosok da’i yang berdakwah  dengan  bijaksana. Suatu  hari  beliau  menanyakan  seseorang  yang  telah  ia kenal  sebelumnya.  Mereka menjawab,  “Ia berada di luar kota bersama para pemabuk.”  Lalu  Umar  mengirim surat kepadanya yang isinya, “Sungguh, saya memanjatkan puji syukur ke hadirat- Mu, ya Allah yang tiada Ilah melainkan Engkau, Dzat yang Maha Mengampuni dosa, Dzat yang Maha Menerima taubat dan Dzat yang Mahadahsyat siksaan-Nya.”

Berulangkali orang itu membaca surat tersebut sambil menangis sampai akhirnya la bertaubat. Tatkala  Umar  mendengar  berita  itu,  la  berkata,  “Beginilah  cara memberi nasihat yang harus kalian con-toh. Jika mengetahui bahwa saudaramu terpeleset dan melakukan  dosa, maka luruskan dan mohonkan kepada Allah agar Allah mengampuninya, dan janganlah menja-di setan baginya.”

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: