Leave a comment

Dakwah dengan Kata-kata


Dakwah harus menggunakan kaedah yang syar’i, seperti   kata-kata dan penjelasan. Kaedah dakwah harus bersumber dari nilai-nilai Islam. Dakwah, sebagai kaedah untuk menanamkan nilai-nilai hati, tidak boleh menggunakan kaedah-kaedah jahiliah. Segala kaedah dan cara harus sesuai dengan fikrah dan ruh ajaran Islam.

Berapa banyak pemuda yang bersemangat menempuh jalan dakwah fardiyah, tetapi mereka merasa tidak berhasil dan tidak mampu memahami kaedahnya. Itulah di antara hambatan yang menghalangi mereka untuk merealisasikan tujuan.

Di antara kendala yang menonjol adalah masih terdapatnya da’i yang tidak memiliki kapasiti ilmu dan pemahaman yang baik. Boleh jadi ia tersesat, walaupun memiliki kepekaan, keterampilan, dan   pandangan yang luas. Rasulullah telah memberi kemudahan dalam hal ini seraya bersabda, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat!” Banyak kata-kata baik yang cukup menarik dan berpengaruh, seperti orang-orang berpengalaman yang mengatakan bahawa “kata itu membawa kehahagiaan”. Bahkan menyusun kalimat yang tepat merupakan   sesuatu yang penting. Allah berfirman,

“Katakanlah (kepada manusia dengan) perkataan yang benar.” { M A h b )

Seorang da’i, ketika menghadapi siapa pun, harus berfikir bahawa seseorang mungkin saja tercemar oleh pemikiran-pemikiran kotor yang diwariskan oleh para taghut yang menyebarkan pemahaman sesat tentang orientasi Islam. Oleh kerana ltu, janganlah putus asa apabila menghadapi tentangan ini, sebaliknya engkau harus mempersiapkan diri guna menghadapinya. Bahkan, engkau harus memaafkan kebodohan mereka tentang hakikat yang tidak mereka ketahui ini.

Bila engkau memahami hakikat ini, engkau harus bersabar untuk hidup bersama mereka sampai mereka mengetahuinya. Rasulullah saw. telah bersabda, “Bersikap lunaklah kepada manusia dan bersabarlah bersama mereka!”

Sikap lunak dan kasih sayang dalam kesabaran men-dekatkan seseorang pada hakikat yang tidak diketahuinya. Sehingga bila mereka memahami dan merasakan- nya, niscaya akan mengimani dan meyakininya.

Sebuah syair bertutur:

Barangsiapa mencicipi “rasa”Islam. Ia memahaminya Barangsiapa memahaminya la bangkit dengan rubnya sebagai tebusan

Hendaknya dipahami bahawa uslub (kaedah) dakwah itu berbeda antara satu orang dengan orang lain. Kaedah dakwah juga tidak tetap, tergantung situasi dan kondisi. Nah, pengetahuan tentang situasi dan kondisi inilah yang akan menentukan pilihan strategi dan kaedah dakwah yang tepat.

Rasulullah saw. pernah didatangi seorang pegulat bernama Rukamah, waktu la belum masuk Islam. la tidak bertanya kepada Rasulullah saw. tentang aqidah atau ibadah, tetapi ia mengatakan, “Bila kamu dapat mengalahkan aku, aku bersedia masuk Islam.” Beliau pun menerima tantangan itu, ternyata beliau dapat mengalahkannya. Maka, Rukamah pun masuk Islam.

Hamzah bin Abdul Muthalib baru saja datang dari berburu, waktu ia belurn masuk Islam, tiba-tiba diberi-tahu bahawa Abu Jahal telah memaki keponakannya, Muhammad saw., pada saat beliau sedang duduk di samping Ka’bah. Serta merta Hamzah datang ke Ka’bah lalu memukul kepala Abu Jahal hingga terluka, seraya berkata, “Mengapa kamu mencela Muhammad padahal saya penganut agamanya!” Pada saat itu juga Hamzah menyatakan, “Saya telah masuk Islam!”

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: