Leave a comment

Memberikan Tempat Duduk dalam Satu Majelis


Anda diundang ke walimahan atau sedang takziyah. Tatkala Anda masuk ke ruangan yang disediakan dan Anda menjumpai bahwa ruangan itu sudah penuh, ten- tunya Anda akan malu, bingung, serta salah tingkah.

Jika pada saat itu ada di antara hadirin yang berada dalam ruangan tersebut akan merasa lega, dan kebaikan orang tersebut tidak akan terlupakan.

Seringkali ada orang yang masuk masjid —terutama pada waktu shalat Jum’at— dan mencari tempat kosong di antara jamaah yang sedang duduk. Semua mata memandangnya dengan keheranan dan perasaan tidak setuju, hingga akhirnya ada orang yang menaruh belas kasihan kepadanya yaitu orang yang memahami firman Allah swt.,

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang- lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berdirilah kalian’, maka berdinlah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.'” (Al-Mujadilah: 11)

Saya masih bisa merasakan apa yang dialami oleh Ka’ab ra. tatkala ia mendapatkan sanksi karena tidak ikut dalam perang Tabuk. Ka’ab bercerita, “Setelah genap lima puluh hari sejak larangan nabi kepada para sahabat untuk berbicara kepada saya, pada hari kelima puluh —ketika saya sedang shalat shubuh di bagian bela-kang rumah, tempat saya mendirikan sebuah kemah di belakang rumah di tempat yang agak tinggi, saat itu saya merenungkan nasib diri yang benar-benar menyesakkan dada, sebagaimana disebut oleh Allah dalam Al- Qur’an, bumi ini sudah terasa sempit bagi kami— tiba-tiba saya mendengar teriakan yang sangat keras, ‘Hai Ka’ab, ber-gembiralah.’ Maka saya segera sujud syukur sebab saya merasa bahwa Rasulullah telah mengatakan pada para sahabat bahwa Allah telah menerima taubat kami pada shubuh ini. Sehingga orang-orang berdatangan untuk mengucapkan selamat. Seorang sahabat yang mengen-darai kuda menuju ke arah saya sambil berteriak hingga suara teriakan itu lebih cepat danpada langkah kaki kudanya. Tatkala orang itu sampai di hadapan saya, saya buka dua pakaian saya dan saya hadiahkan padanya, padahal waktu itu saya tidak mempunyai   pakaian lain, sehingga saya meminjam pakaian untuk saya pakai menghadap Rasulullah. Saya berjalan menuju ke tempat Rasulullah. Di tengah jalan banyak orang yang menyam- but saya dengan mengucapkan selamat atas penerimaan taubat kami, sehingga sampailah saya di masjid tempat Rasulullah sedang duduk dikerumuni oleh para sahabat. Pada saat itu seorang sahabat yang bernama Thalhah bin Ubaidillah ra. bangkit dari duduknya lalu menyam-but saya dan mengucapkan selamat. Demi Allah swt., tiada seorang pun dari kaum Muhajirin yang bangkit dari tempat duduknya selain Thalhah, sehingga saya tidak dapat melupakan sikap Thalhah itu.” Begitulah, den gan sik ap itu Thalhah r a. menjad i oran g y an g menempati sudut hati Ka’ab bin Malik ra.

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw. juga mem-berikan pelajaran pada kita, yaitu tatkala beliau masuk kota Makkah dan memasuki Masjidil Haram. Saat itu Abu Bakar ra. datang dengan membimbing bapaknya, Abu Quhafah. Melihat hal itu Rasulullah bersabda, “Kenapa tidak kau biarkan bapak ini berada di rumah- nya dan saya yang datang ke rumahnya?” Abu Bakar ra. berkata, “Ya Rasul, beliaulah yang harus mendatangi-mu.” Rasulullah mempersilakan Abu Quhafah duduk di sebelahnya, kemudian Rasulullah mengusap dada orang tua itu seraya berkata, “Masuklah Islam.” Sejak saat itu bapak tua itu pun menjadi seorang muslim. Rasulullah juga telah bersabda,

Tidaklah seorang muslim masuk rumah saudaranya sesama muslim lalu tuan rumah memberikan bantal kepa-danya sebagaipenghormatan,   melainkan Allah swt. meng- ampuni semua dosanya.” (HR. Hakim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “janganlah kamu menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, kemudian kamu duduk di tempat itu, tetapi hendaklah kamu saling melapangkan.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Ibnu Umar sendiri jika ada orang yang berdiri dari tempat duduknya dan mempersilakannya untuk duduk di tempat itu, ia tidak duduk di tempat tersebut.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: