Leave a comment

Pandangan Kasih Sayang


Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa memandang saudaranya dengan kasih sayang niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”

Apakah pandangan yang dimaksud oleh hadits di atas adalah pandangan sekilas atau pandangan yang dipenuhi keteduhan dan kasih sayang?

Yang dimaksud oleh hadits itu adalah pandangan yang ditujukan pada hati dan mengajaknya berbicara dengan lemah lembut. Ibarat kamera, hanya dengan satu kilatan dapat menangkap gambar yang sangat indah. Itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan pandangan yang tulus dan suci, pandangan yang penuh kasih sayang dan penuh rasa cmta karena Allah.

Mata adalah sarana terpenting bagi seorang da’i dan merupakan wasilah yang dampaknya sangat besar bagi mad’u. Karena ketika seorang da’i memandang saudara- nya sesama muslim dengan penuh kasih sayang, seakan-akan ia telah memberikan hartanya yang paling ber-harga.

Jika pandangan seseorang yang dipenuhi oleh rasa dengki saja dapat menghancurkan, maka pandangan yang penuh cinta dan kasih sayang juga dapat berpe-ngaruh dalam mengantarkan kepada kebenaran yang   akhirnya dapat mempererat   barisan dan memperkuat   bangunan.   Ini merupakan   kekuatan terpendam yang dimiliki oleh manusia.

Apa yang Anda sembunyikan dalam hati akan ter-singkap dengan tatapan mata. Seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Allah swt. berfirman,

“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam   keadaan tidak mengetahui suatu apa pun dan Dia memberi kalianpendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Suatu ketika saya diundang untuk memberikan ceramah di perkemahan musim panas di salah satu ne-gara Arab. Saya sudah banyak mengenal pemuda yang ikut dalam perkemahan itu. Tatkala kami datang ke tempat itu pada waktu yang telah ditentukan, ternyata tidak seorang pun menyambut kedatangan kami. Bebe-rapa saat kemudian ada beberapa pemuda yang berjalan dengan hati-hati dan malu-malu menuju ke arah kami, dan itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan sanksi dari ketua regu. Suasana pun menjadi sangat kaku dan itu berlangsung agak lama. Shalat berjamaah dan santap makan pun berlangsung dalam suasana yang masih kaku. Kemudian saya dipersilakan memberikan taushiah (nasihat). Pembicaraan saya sama sekali tidak menyinggung kejadian yang baru saja terjadi, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Setelah acara selesai saya pun pulang.

Tetapi saya khawatir kaku kejadian seperti ini tidak diluruskan, pemuda- pemuda tadi akan ter-sibghah (terpola) dengan perilaku yang bertentangan dengan ruh dakwah dan ukhuwah   islamiah.   Oleh karenanya, saya sempatkan untuk bertemu dengan mereka.

Dalam pertemuan itu saya mengatakan, “Sesungguh-nya apa yang saya alarm pada pertemuan pertama di perkemahan itu membuat saya sedih. Jika peraturan perkemahan seperti itu (yakni: tidak boleh menyambut tamu), maka itu sangat keterlaluan. Peraturan milker saja tidak melalaikan etika memuliakan tamu yang harus disambut dengan hangat, lebih-lebih jika tamu itu adalah tamu undangan. Apalagi ini adalah perkemahan lslami. Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya.” (HR. Muslim)

Sebetulnya, apa yang saya alami waktu itu bisa saya jadikan sebagai tema dak-wah mengajarkan agar saya tidak marah hanya karena perasaan pribadi. Oleh karenanya, saya tekan gejolak perasaan saya demi menghormati penanggung jawab perkemahan itu. Meskipun pada waktu itu saya bisa membahasnya secara smgkat dan dengan sindiran saja, tetapi saya lebih mengutamakan ketaatan dan berjalan sesuai dengan peraturan perkemahan.

Kaidah kita dalam memberikan nasihat itu adalah: ‘Hendaklah nasihatmu terhadap saudaramu kamu laku-kan dengan sindiran, bukan terang-terangan, dan untuk membimbing kepada kebenaran bukan untuk menya-kiti’.

Saudaraku sekalian, sesungguhnya orang seperti saya ini dapat datang ke tempat ini dengan melewati perjalanan panjang dan melelahkan, serta menempuh jalan ribuan mil. Saya datang kepada kalian dengan perasaan nndu dan kasih sayang tanpa ada tujuan duniawi dan tujuan pribadi. Saya datang untuk melihat wajah-wajah kalian dan itulah nikmat yang sangat besar yang dapat menghilangkan rasa penat dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Pandangan inilah yang sermg terukir dengan untaian kata yang amat indah,

‘Barangsiapa memandang saudaranya dengan pandangan penuh kasih sayang, maka Allah swt. akan meng-ampuni dosa-dosanya.’ Allah swt. berfirman,

“Bersabarlah kalian bersama-sama dengan orang yang menyeru Rabb-nya dipagi dan senja hari dengan mengha-rap keridhaan-Nya, janganlah kedua mata kalian berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini danjanganlah kalian mengikuti orang yang hati-nya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menu-ruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.” (Al-Kahfi: 28)

Apakah setelah semua ini kalian mengharamkan pandangan itu dan menghalangi datangnya maghfirah (ampunan) Allah swt.?

Tidakkah kalian mengetahui dari perjalanan hidup Rasulullah saw., betapa berharganya mlai sebuah pandangan. Marilah kita lihat bagaimana kisah Ka’ab bin Malik ra., seorang sahabat yang masuk dalam deretan sahabat-sahabat yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Allah swt. menurunkan sanksi kepada ketiga orang itu, di antaranya adalah Ka’ab bin Malik, yaitu agar seluruh kaum mushmin tidak berhubungan dengan mereka.

Ka’ab berkata, ‘Kaum muslimin telah mengucilkan kami selama lima puluh hari hingga bumi mi terasa sem-pit, dan rasanya tidak ada tempat kembali kecuali Allah swt. Sayalah yang paling tegar di antara ketiga orang tersebut. Saya masih tetap ikut shalat berjamaah di masjid dan masih tetap pergi ke pasar walau tidak seorang pun mengajak saya bicara.

Saya datang kepada Rasulullah yang waktu itu sedang duduk di masjid setelah mengerjakan shalat. Saya mengucapkan salam saya. Lalu saya duduk di sebelah-nya sambil sesekali melirik kepada beliau. Tatkala saya menatapnya, beliau memalingkan wajahnya.’ Saudaraku sekalian … Sangsi itu datangnya dari Allah swt. Meski demikian Rasulullah saw. yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam masih tetap memandang kepada Ka’ab ra., begitu juga dengan Ka’ab yang masih berusaha untuk mencuri pandang. Sanksi itu adalah untuk pengajaran dan pendi-dikan, bukan untuk balas dendam. Jika kita kehilangan pandangan yang penuh kasih sayang, maka kita telah kehilangan rahmat kehidupan.

Dalam petikan sirah nabawiyah juga dipaparkan be-tapa Rasulullah senantiasa menghiasi kehidupan dengan nuansa keindahan.

Kaum muslimin yang waktu itu sedang mengerjakan shalat merasa gembira tatkala melihat Rasulullah saw. membuka tirai dan memandang dengan tersenyum kepada mereka. Padahal waktu itu (di hari-hari akhir hayatnya) Rasulullah saw. sedang sakit, sehingga mereka mengira bahwa Rasulullah telah sembuh dari sakitnya. Mereka tidak menyangka bahwa itu adalah pandangan perpisahan.”

Setelah pembicaraan tentang pentingnya pandangan itu selesai, banyak di antara ikhwah yang mengucurkan air mata. Beberapa han kemudian banyak ikhwah yang berkirim surat mengungkapkan kebenaran apa yang telah saya sampaikan.

Pada tahun 1943 M. saya terpilih sebagai Ketua Ikhwanul Muslimin di Ra’suttin, Iskandaria. Peraturan yang berlaku berkaitan dengan kebersihan adalah dalam setiap harinya ada seorang anggota Ikhwan yang dibe-bani untuk membersihkan balai pertemuan.

Pada suatu hari, ketika saya sedang   membersihkan balai pertemuan tersebut, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Tentu saja penampilan saya waktu itu tidak lebih dari seorang tukang kebun. Saya membuka pintu dan di situ berdiri seorang pemuda kira-kira berumur tujuh belas tahun, berwajah ceria dan tampan. Dengan senyuman ia mengucap salam dan berkata, “Nama saya Awiz, saya ikut dalam acara mi.” Saya persilakan ia untuk duduk.

Setelah semuanya bersih dan kursi-kursi pun sudah tertata rapi, saya menulis tema ceramah dan nama pem-bicaranya di papan tulis.

Setelah shalat maghrib, pembicara dan hadirin ber-datangan. Saya berdiri di atas mimbar dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. Setelah itu saya me mpersi lakan pembicara untuk meny amp aikan materinya.

Pertemuan telah usai dan dua penampilan saya yang berbeda menjadikan pemuda tadi bertanya-tanya dalam hati. Hari-hari pun terus berjalan dan pemuda itu masih terus aktif. Ia datang bersama teman-teman dekatnya hingga akhirnya ia dapat mengajak teman-temannya dalam perkumpulan olahraga untuk menjadi anggota Ikhwanul Muslimin.

Saya sudah menaruh simpati pada pemuda itu sejak pertama kali bertemu, tetapi saya tidak bisa mengung-kapkan perasaan ini karena masyarakat kita belum terbiasa dengan hal semacam itu. Masyarakat kita hanya mengenal bahwa kata “cmta” itu hanya layak untuk diucapkan oleh seorang laki-laki pada seorang wanita. Adapun jika kata itu diucapkan oleh seorang laki-laki kepada seorang laki-laki, itu adalah hal yang aneh.

Hari-hari itu pun terus berjalan dan perasaan terse-but terus menyiksa batin saya. Sampai pada akhirnya kami membaca sirah Rasulullah sehingga hati kami dapat menangkap cahayanya dan menghirup harum baunya. Dari Anas ra. bahwa ada seorang laki-laki berada di dekat Rasulullah saw., lalu ada seorang laki-laki lain lewat di depannya. Orang (yang berada di dekat Rasulullah) itu berkata, “Ya Rasul, sungguh saya mencintai orang itu.” Rasulullah bertanya, “Apakah kamu sudah memberi-tahunya?” la berkata, “Belum.” Rasulullah bersabda, “Bentahukan kepadanya.” Kemudian ia mendekati orang itu dan berkata,   “Sungguh aku mencintaimu karena Allah swt.” Laki-laki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah — yang karena-Nya engkau mencintai aku— mencintaimu.” Berkata Rasulullah saw.,

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mencintai

Usamah bin Zaid.” (HR. Bukhari)

Dengan taujih nabawiyah ini hati saya menjadi ten-teram. Sekarang saya mengetahui bahwa Islam tidak menutup pintu cinta dan kasih sayang, tetapi membersihkannya dari tradisi jahiliah agar menjadi taman yang indah, yaitu “cinta karena Allah”. Begitulah, akhirnya kata-kata indah itu menghiasi hari-hari kami, baik mela-lui lisan maupun tulisan.

Pada tahun 1948 M. saya dipindahkan dan Iskan-daria ke Asyuth. Suatu pagi, ketika saya berangkat ke tempat kerja, di tengah jalan saya bertemu dengan seorang pemuda berseragam sekolah menengah atas. Saya tertank dengan pemuda itu, lalu dengan dorongan nurani dan perasaan itu saya mengutarakan kepada ikhwah dengan harapan agar pemuda itu dapat diajak masuk ke dalam jamaah. Mereka semua tampak kaget dan berkata, “Pemuda itu dari keluarga kaya dan terhor-mat, bapaknya seorang tokoh di Asyuth ini.” Saya menjawab, “Apakah hanya rakyat kecil saja yang berhak masuk ke dalam jamaah kita? Bukankan Rasulullah per-nah berdoa, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan satu di antara dua orang yang Engkau sukai: Umar bin Khathab atau Amr bin Hisyam?'” Mereka tertawa dan berkata, “Lantas bagaimana caranya?” Saya berkata, “Ini baru jawaban yang tepat. Tidak mudah bagi seseorang untuk melangkah kepada orang lain tanpa adanya suatu alasan. Oleh karena itu, harus direncanakan dengan matang dan melalui perantara yang lebih dekat dan segi tsaqafah dan umurnya.” Program ini berjalan selama enam bulan dan setelah itu pemuda yang kami maksud tadi sudah menjadi bagian dari kami. Inilah makna dari syiar: “dakwah adalah seni, bersabar dalam berdakwah adalah jihad”.

Pada suatu hari kami berkunjung ke salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin. Ketika kami duduk di ruang tamu, datanglah anak laki-lakinya yang sedang duduk di bangku sekolah menengah atas dan mengucapkan salam. Tatkala mendekat kepada saya, saya meman-dangnya dengan tersenyum dan mengatakan kepadanya beberapa kalimat. Ketika ia keluar dan ruang tamu, bapaknya merasakan ada sesuatu yang telah terjadi. Lalu ia berkata kepada saya, “Wahai saudara Abbas, saya mohon ia jangan dimasukkan terlebih dahulu, tunggulah sampai la   selesai dan bangku sekolah menengah atas.” Saya berkata, “Ini adalah pertama kali saya melihatnya. Kami akan menunggu sampai la lulus dari sekolah menengah atas.”

Akan tetapi, beberapa kalimat yang didengarnya pada perjumpaan itu menggugah perasaan hatinya. Beberapa hari kemudian anak itu datang kepada kami dengan membawa hati   yang bersih dan semakin kuatlah hubungan persaudaraan antara kami.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: