Leave a comment

Langkah-Langkah yang Harus Ditempuh


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda,

Setiap angota badan manusia diwajibkan mengeluarkan sedekah setiap hari di mana matahari terbit. “Para sahabat bertanya, “WahaiRasulullah, bagaimana kita dapat bersedekah?” Rasul menjawab, “Sesungguhnya pintu untuk berbuat baik itu sangat banyak. Bertasbih, bertakbir, dan bertahlil adalah sedekah; menyingkirkan   duri dijalanan adalah sedekah; menolong orang tuli atau buta adalab sedekah; dan menunjukkan orang yang kebingungan, menolong dengan segera orang yang sangat memerlukan adalah sedekahmu terhadap dirimu.”

Pertama, Bertasbih, Bertakbir, dan Bertahlil

Ucapan tersebut adalah ucapan yang diungkapkan dengan lisan, rasa khusyu’ dalam hati, dan munajat kepada Allah agar seorang muslim tetap berhubungan dengan sang penguasa. Juga merupakan kekuatan yang dapat membantu untuk bersabar dan istiqamah.

Berdzikir merupakan ibadah yang dapat dilakukan setiap saat. la juga merupakan motor yang tiada henti-hentinya bergerak membersihkan jiwa dari berbagai ko-toran. Orang yang berdzikir akan mendapatkan pahala yang amat besar.

Kedua, Menyingkirkan Duri di Jalan

Tatkala hukum dan ajaran Islam tegak di masyarakat, kita melihat bapak-bapak kita dan kakek-kakek kita rajin menyingkirkan batu, duri, atau tulang dari tengah jalan agar tidak mengganggu orang yang lewat. Jika mereka menemukan kertas bertuliskan ayat Al-Qur’an, hadits, atau huruf Arab, maka mereka memba-karnya atau menyimpannya.

Mereka menyapu depan rumah dan toko, serta membakar sampah yang sudah menumpuk. Itu semua mereka lakukan kerana didorong oleh satu faktor yaitu aqidah islamiah yang telah tertanam dalam hati mereka.

Tatkala kaum muslimin tidak mahu melaksanakan ajaran Islam, kita melihat tumpukan-tumpukan sampah di setiap tempat, lalat bertebaran di mana-mana, dan penyakit menyebar di setiap rumah.

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita agar menyingkirkan duri dari tengah jalan dan menjadikannya sebagai sedekah yang berpahala besar. Oleh kerananya, jika ada di antara kita yang melempar duri atau yang lain ke tengah jalan, maka bagmya dosa yang besar. Rasulullah saw. bersabda,

Tatkala seseorang berjalan di suatu jalan dan menjumpai duri, lalu ia singkirkan duri tersebut, maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya.”

Ini bukan hanya tanggung jawab setiap peribadi seorang muslim, tetapi juga merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pemerintah Islam untuk men jag a kes eh atan masy arak atny a dan ‘ izza h (kehormatan) umat Islam.

Umar bin Khathab ra. berkata,

Seandainya seekor keledai ditemukan (tersesat) di Iraq, maka sayalah yang bertanggung jawab, (kerana) kenapa saya tidak menunjukkan jalan pulang baginya.” Orang-orang yang pergi ke negara-negara Barat akan terhairan-hairan melihat jalan- jalan dan ganggang yang bersih. Pemerintah negara-negara tersebut menyediakan bermacam-macam sarana untuk mengumpulkan sampah, quran, dan majalah bekas pada hari-hari tertentu, ter masuk perabot rumah tangga yang sudah tidak dipakai. Bahan-bahan kaca diletakkan dalam tempat khusus. Dengan demikian barang-barang bekas ini dapat didaur ulang. Setiap orang diwajibkan membersihkan lingkungan rumah dan tokonya, membersihkan salju dan   daun-daun yang berjatuhan. Jika ada seseorang yang terpeleset dan tidak terima lalu membawa permasalahannya ke pengadilan, maka si empunya rumah dikenai denda, kadang- kadang sampai seribu dolar.

Dengan cara ini setiap kota atau desa berusaha untuk membersihkan dan menjaga keindahannya agar menarik perhatian wisatawan.

Di sana masih ada undang-undang yang lebih rinci lagi. Jika umat Islam mahu melaksanakan seruan Rasulullah saw. ini, yaitu mahu menyingkirkan duri dan semacamnya dari jalan niscaya masyarakat Islam akan tampil dengan penampilan yang indah berseri. Dengan demikian mereka telah menunjukkan jati diri ajaran Islam.

Ketiga, Menolong Orang yang Tuli atau Buta

Ada seorang yang ummi (buta huruf) menerima surat dari anaknya, seorang tentara yang sudah lama ia tunggu kabar beritanya. Tentu saja ia akan sangat membutuh-kan orang yang mahu membacakan surat tersebut. Begitu juga dengan orang yang tuli. Orang di sekitarnya ramai berbicara, tetapi dia tidak menampakkan tanda-tanda interaksi sama sekali, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Orang ini tidak merasakan keberadaannya dan tidak merasakan nikmatnya hidup, kecuali jika orang-orang di sekelilingnya mahu peduli terhadap permasa-lahan yang sedang ia hadapi.

Di salah satu Islamic Centre di   Eropa, saya melihat seorang pemuda berkebangsaan Jerman. Di saat ceramah berlangsung, dia diam saja dan tampak sekali kalau ia tidak mengikuti ceramah yang sedang berlangsung kerana tidak memahami bahasa Arab. Lalu seorang di antara kami menerjemahkan isi ceramah tersebut kepadanya.

masyarakatnya? Tentu saja ia akan menderita dan mungkin akan membenci orang- orang yang ada di sekitarnya.

Menolong orang yang tuli menunjukkan sikap saling mencintai, saling mengasihi, saling menolong, dan mem-perlihatkan karakteristik Islam.

Menolong Orang yang Buta

Kita telah mengetahui derita yang dialami oleh orang yang tuli, maka demikian juga yang dialami oleh orang yang buta, bahkan lebih menderita. Jika ingin pergi ke pasar, ia membutuhkan seorang teman sebagai penunjuk jalan, dan jika ia tidak mendapatkan teman lalu ia keluar ke jalan dengan menggunakan tongkat padahal ia tidak tahu arah ke pasar, pasti ia akan kebi-ngungan. Jika dalam keadaan seperti ini kemudian orang-orang yang berjalan di sekitarnya tidak peduli terhadapnya,   ia akan merasakan kedengkian terhadap masyarakat yang individualis mi. Kalau sudah begini umat akan berantakan kerana kehilangan faktor terpen-tingnya, yaitu saling mencintai dan mengasihi.

Jika dalam keadaan semacam ini, Anda tampil dan mendekati laki-laki itu kemudian membimbingnya dengan lembut dan sopan ke arah yang ia tuju, maka Anda telah berbuat baik terhadap orang itu dan telah mengembalikan nama baik Islam.

Ada beberapa negara yang menyediakan tempat khusus bagi mereka dalam kendaraan-kendaraan umum. Ada juga yang menyediakan telepon umum khusus bagi mereka.

Dengan demikian mereka merasakan bahawa kondisi mereka diperhatikan. Lebih- lebih setelah ada penemuan baru, seperti alat bantu dengar bagi orang yang tuli dan alat bantu lihat bagi orang yang buta.

Keempat, Menunjukkan Orang yang Kebingungan

Banyak orang yang kebingungan tatkala berada di daerah yang belum ia kenal. Tentu saja ia sangat memer-lukan orang yang dapat menunjukkannya. Ia bertanya kesana kemari, tetapi jawaban yang ia terima adalah, “Saya tidak tahu.” Ia bertanya lagi dan orang yang kese-kian kali itu menjawab sambil menunjuk ke suatu arah, “Silakan Anda berjalan ferus ke arah ini lalu jika sampai di sebelah sana, maka bertanyalah.” Ia bertanya lagi untuk yang kesekian kalinya, dan orang itu menjawab, “Mari saya antar ke tempat tujuan Anda.” Kemudian ia diantar hingga sampai tujuan. Orang ketiga inilah orang yang berbuat baik dan meninggalkan kesan yang baik pula di hati orang lain.

Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang ber-iman, ruku’lah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Rabb kalian, dan berbuatlah kebajikan, supaya kalian mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

Beberapa anak kecil bermain di luar rumah. Mereka berlari-lari dan semakin lama semakin jauh dari rumah mereka. Tatkala tersadar, mereka kebingungan kerana tidak tahu jalan pulang ke rumah mereka. Seandainya   satu di antara mereka tidak menjumpai orang yang dapat mengantarnya pulang, maka bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika ia terus berjalan dan memasuki tempat-tempat yang tidak ia kenali.

Orang yang kehilangan tasnya yang berisi surat-surat penting akan sangat berterima kasih kepada orang yang menemukan tas itu dan mengembalikan kepadanya.

Orang-orang yang mahu melaksanakan tugas-tugas mi akan dapat menumbuhkan rasa cinta dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Dan inilah tugas seorang da’i.

Suatu hari di kota Iskandaria saya bertemu dengan seorang nenek yang tampak amat lelah. Ia datang dari sebuah desa untuk mencari anaknya. Ia membawa seca-rik kertas yang bertuliskan alamat anaknya yang sedang menjalani pendidikan militer. Di kertas itu hanya tertulis nama anak itu dan kota Iskandaria. Amatlah sulit mencari alamat yang dituju, kerana di kota Iskandaria terda-pat puluhan markas militer dan ribuan tentara. Akan tetapi, dengan taufiq Allah saya berpikir bahawa anak tersebut tentunya masuk di   kemiliteran. Kalau begitu ia tentu berada di markas penerimaan prajunt atau berada di kem-kem latihan. Lalu saya pergi ke tempat itu dan akhirnya saya menemukannya. Setelah meminta izin, kami pun diizinkan menemui anak tersebut.

Setelah kejadian itu, saya sering diundang dalam acara-acara penting yang diadakan oleh keluarga ibu tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Menunjukkan (jalan) orang yang tersesat adalah sedekah.”

Di bandara Frankfurt, Jerman, seseorang tidak menyadari   kalau tasnya tertinggal. Ia baru ingat tatkala pesawat terbang sudah lepas landas. Tas tersebut ditemukan oleh salah seorang pemuda muslim berkebangsaan Turki. Tatkala mengetahui tas.

tersebut berisikan kertas-kertas   bertuliskan huruf Arab, ia langsung menyadari bahawa pemilik tas itu adalah orang Arab yang beragama Islam. Lalu ia bergegas pergi ke Islamic Centre setempat untuk menyerahkan tas tersebut. Akan tetapi sangat disayangkan, petugas yang menerima tas tersebut tidak menanyakan nama dan alamat pengantar tersebut, pada-hal orang semacam ini sangat langka. Jadi, kesempatan berharga ini sebetulnya tidak boleh berlalu sia-sia.

Seorang teman meminta saya supaya menulis rekomendasi untuknya agar urusannya di Kementerian Kewangan Kairo bisa berjalan lancar. Saya bersedia, kemudian saya berpesan, “Jika urusannya bisa berjalan lancar tanpa rekomendasi tersebut, maka sebaiknya (rekomendasi tersebut) tidak usah dipergunakan.”

Ia masuk dan mengucapkan “Assalamu’alaikum”.   Seorang pegawai menjawab dengan ucapan “Salam”. Setelah ia mengutarakan maksudnya, ia lalu diperintah-kan menghadap ke pegawai lain. Ia pergi ke pegawai yang dimaksud dan mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Pegawai kedua ini tidak menjawab ucapan salam tersebut, tetapi langsung bertanya, “Ada keperluan apa?” Setelah mengutarakan   maksudnya, sekali lagi teman kami itu diperintahkan menghadap ke pegawai lain. Tatkala sudah sampai di pegawai yang dimaksud, ia mengucapkan “Assalamu ‘alaikum” dan pegawai itu menjawab, “Wa ‘alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Silakan wahai saudaraku, apa ada yang bisa saya bantu?” Ia berkata, “Apakah Tuan bernama…. (menyebut namanya)?” Pegawai itu menjawab, “Ya.” Lalu teman kami itu menyodorkan rekomendasi. Kemudian ia dipersilakan duduk dan ditanya banyak tentang Ikhwanul Muslimin. Tidak berapa lama urusannya selesai. Ia pun pulang dan menceritakan kejadian ini kepada saya.

Dari sini kita dapat melihat bahawa seorang pekerja, pegawai, atau pedagang hendaklah selalu berlaku ihsan dalam bekerja dan melayani kepentingan orang lain. Banyak di antara pekerja yang menggunakan kesempatan itu untuk mengeruk kekayaan tanpa peduli halal atau haram.   Sebagai seorang muslim   kita harus menggunakan kesempatan itu sebagai ladang untuk menunjukkan   hakikat kepribadian islami yang sesungguhnya, sebagai-mana Islam mengajarkan kejujuran, kewajiban menepati janji, keramahan, dan sifat-sifat baik lainnya.

Kelima, Menolong dengan Segera Orang yang Memerlukan Pertolongan

Orang yang ditimpa musibah dan memerlukan pertolongan dengan segera, seperti rumahnya terbakar, orang yang tenggelam, atau yang lain, maka dalam kon- disi seperti ini kita harus segera berbuat. Sebuah syair Arab mengatakan,

Jangan menunda pertolongan hanya kerana mengharap datangnya bukti

Tatkala saudaramu ditimpa musibah yang mengiris hati

Tatkala berada dalam kondisi yang berbahaya seperti ini, setiap orang akan sangat mengharap adanya orang yang mahu menolong. Oleh kerananya, jika seseorang dalam kondisi seperti ini lalu ada orang yang tampil untuk menolongnya, ini merupakan sifat muru’ah dan akan meninggalkan kesan yang amat baik yang tidak akan terhapus dengan bergulirnya masa, serta akan menumbuhkan rasa cinta kasih.

Seorang mahasiswa yang sedang berjalan kaki tiba-tiba jatuh pingsan, buku-bukunya berserakan dan ia sendiri terluka. Tak seorang pun di sekitarnya yang bergerak menolong, kecuali seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil yang sedang melewati jalan itu. Dengan penuh kasih dan sayang ibu   tersebut berusa-ha menghentikan darah yang terus keluar. Saya sendiri langsung ke tempat telepon untuk memanggil ambulance. Tak lama kemudian mobil ambulance datang dan saya menemaninya ke rumah sakit. Setelah siuman, saya mengantarkannya pulang. Saya disambut oleh keluarganya dengan hangat sekali dan ucapan terima kasih. Sampai sekarang hubungan kami sangat baik.

Anak peremptian saya yang sedang kuhah di Universiti Iskandaria bercerita kepada saya bahawa tatkala ia dan teman-temannya yang berjilbab berada di halaman fakulti, mereka melihat seorang teman perempuan mereka yang tidak memakai jilbab jatuh pingsan dan tersungkur di tanah. Mereka dengan cepat menolongnya. Tatkala siuman, ia langsung tercengang kerana yang berada di sekitarnya adalah para wanita berjilbab, lalu ia berkata, “Demi Allah, saya tidak pernah berpikir atau membayangkan kalau kalian begitu baik.” Mungkin ia telah termakan oleh kebohongan-kebohongan yang disebarkan tentang wanita berjilbab, sehingga ia beranggapan bahawa seorang wanita berjilbab tidak mempunyai rasa kasih sayang dan jiwa sosial.

Fenomena semacam ini menuntut kita untuk turut serta dalam setiap bidang dan aktivitas mereka, selama tidak merusak aqidah kita, agar kita dapat meluruskan pemahaman-pemahaman salah yang menyebar ke mana-mana, sekaligus dapat memperlihatkan hakikat akhlak Islam yang sebenarnya. Kita lebih berhak mengelola lahan-lahan tersebut daripada orang-orang yang ingin mencoreng citra Islam. Jadi, tidaklah dibenarkan apabila kita tinggalkan lahan-lahan tersebut begitu saja. Allah swt. berfirman,

“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (Al-Anbiya’: 18)

Allah pun telah memberikan tugas kepada kita,

Tolaklah kejahatan itu dengan cam yang lebih baik, sehingga orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi temanyangsetia.” (Fushilat: 34)

Di salah satu fakulti di Universitas Iskandaria, ada seorang pemuda   yang melakukan perbuatan yang sangat bodoh. la merenggut cadar yang dikenakan oleh salah seorang mahasiswi. Ini la lakukan dengan tujuan ingin memancing kemarahan mahasiswa-mahasiswa muslim dan jamaah-jamaah yang ada. Tanpa disangsikan lagi, mahasiswi tersebut langsung berteriak meminta tolong kepada mahasiswa dan mahasiswi   yang berada di tempat itu. Para mahasiswa itu pun berhamburan menangkap pemuda tersebut dan me mukuliny a. Untunglah ada seorang mahasiswa yang memahami situasi yang sedang dihadapi dan dampak yang akan terjadi dan kejadian ini. Mereka kemudian menghadap dekan fakulti dan melaporkan kejadian tersebut.

Pada hari benkutnya, dengan jumlah yang amat banyak, para mahasiswi yang berjilbab mengadakan unjuk rasa. Mereka berjalan dari gedung universiti menuju pejabat walikota dengan melewati jalan-jalan utama. Mereka disambut oleh masyarakat dengan sambutan yang sangat hangat. Ketika sampai di pejabat walikota, mereka disambut oleh walikota dengan sambutan yang baik, layaknya orang tua menghadapi anaknya. Tidak lama setelah itu, turunlah surat keputusan rektor yang berisi tentang pengeluaran mahasiswa tersebut dari bangku kuliah.

Pada tahun 1947 M. Mesir dilanda wabak kolera yang menjadikannya hidup dalam keresahan. Terpanggil oleh tugas sebagai muslim dan dalam rangka membantu pemerintah menangani keadaan yang sedang terjadi, para pemuda   dari Jamaah Ikhwanul Muslimin terjun untuk memberikan bantuan. Mereka memasak makanan, memelihara kesehatan, dan mengisolasi daerah yang terkena wabak agar masyarakat yang sakit tidak berbaur dengan masyarakat yang masih sehat. Dengan izin Allah, wabak itu akhirnya menyingkir.

Mengetahui   jasa Ikhwanul Muslimin yang begitu besar, pemerintah ingin membalas jasa itu, namun Ustadz Hasan Al-Banna menolaknya seraya menjelaskan bahawa itu memang sudah tugas Ikhwanul Muslimin. Masyarakat pun tidak pernah melupakan jasa Ikhwanul Muslimin itu.

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi ke pejabat bea cukai di pelabuhan kota Iskandaria untuk mengambil mobil kiriman dari luar negeri. Setelah mengetahui bahawa beban yang harus saya bayar terlalu besar, saya menemui pimpinan pejabat dengan harapan akan mendapatkan keringanan. Tanpa saya duga, pimpinan pejabat tersebut menyambut saya dengan baik dan memberikan keringanan lebih besar dan jumlah yang saya duga. Dia berkata, “Orang yang mengirim mobil kepada Anda ini sangat besar jasanya terhadap saya. Kisahnya bermula tatkala saya melaksanakan haji pada tahun kemarin. Ketika keluar dari Masjid Al-Haram, saya dapati dompet saya sudah hilang. Seseorang mendekati saya dan menawarkan niat baiknya; ia siap memberi dengan cuma-cuma wang yang saya butuhkan sampai saya kembali ke Mesir. Tawaran baik itu saya terima. Setelah saya sampai di Mesir, saya kembalikan semua wang yang telah saya pergunakan dengan mengucapkan terima kasih. Oleh kerana itu, sudah menjadi keharusan bagi saya untuk membalas kebaikannya.” Begitulah, ucapan yang baik dan amalan yang shalih tidak akan terlupakan begitu saja.

Ada sebuah ungkapan   yang mengatakan, “Berbuat baiklah, dan lemparkan kebaikan itu ke dalam lautan.” Akan tetapi, kami mengatakan, “Berbuat baiklah kerana Allah, niscaya kebaikan itu akan kembali kepadamu di dunia mahupun di akhirat.”

Tidak diragukan lagi bahawa berbuat baik kepada orang yang berada di negara yang belum dikenal jauh lebih bernilai dibanding berbuat baik kepada orang yang berada di negerinya   sendiri. Oleh kerana itulah, Anda akan melihat bahawa hubungan yang terjalin antara perantau lebih kuat daripada hubungan yang terjalin antara penduduk setempat. Syair Arab mengatakan,

Yakinlah akan balasan dari kebaikan yang telah Anda perbuat kerana

Allah tidak akan lupa manusia pun punya daya ingat

Pada bulan Ogos 1965 M. turun surat perintah penangkapan atas isteri saya yang berada di wilayah Rasyid. Satu kompi polisi melaksanakan perintah itu. Mereka membawa isteri saya dari kediamannya dengan meninggalkan lima anak: yang paling besar berumur sepuluh tahun dan yang paling kecil berumur dua tahun. Kejadian ini menjadikan kota Rasyid gempar, kerana sudah menjadi kebiasaan anak-anak bahawa mereka —setiap harinya— selalu pergi ke tempat pemberhentian mobil yang datang dari Iskandaria untuk menjemput orang tua mereka sambil berteriak, “Ayah…, Ibu….” Begitu pula setelah peristiwa penangkapan itu, mereka tetap pergi ke tempat pemberhentian mobil, kemudian orang-orang yang berada di tempat itu mengantarkan mereka pulang.

Di tengah-tengah cobaan inilah kita dapat melihat permata-permata yang sudah sekian lama terbungkus oleh lumpur. Isteri saya masih terus mengingat kebaikan sikap kepala kepolisian —yang memimpin penangkapan atas dirinya— yang telah memperlakukannya dengan baik serta memberikan nasihat berharga kepadanya hingga ia diserahkan kepada penjaga-penjaga penjara. Begitu juga tatkala masa tahanan itu habis, kepala kepolisian inilah yang mengantarkannya pulang.

Ia juga selalu mengingat kebaikan seorang penjaga penjara. Sebuah kenangan yang dapat membuatnya menangis, tatkala menceritakan kenangan itu. Ia teringat bagaimana penjaga itu memperlakukannya seperti layaknya   seorang   anak terhadap lbunya. Penjaga itu mengharap agar ia tetap tenang dan sabar, kerana masa pembebasan semakin dekat. Ia juga teringat bagaimana penjaga itu menahan air mata tatkala melihat kondisinya dan melihat perlakuan penghum penjara yang lain kepa- danya. la menyebut penjaga itu sebagai “malaikat” yang diutus oleh Allah untuk menolong orang-orang sepertinya. Meski kejadian itu telah berlangsung dua puluh tahun yang lalu, namun kami masih tetap berharap mudah-mudahan kami diberi kesempatan bertemu dengan mereka dan membalas kebaikan mereka.

Di antara puluhan tentara y ang diberi tugas menyiksa orang-orang Ikhwanul Muslimin,   ada seorang tentara yang memperlakukan ratusan orang   Ikhwanul Muslimin dengan baik, seakan-akan dia adalah bagian dari mereka. Ini sebuah pemandangan yang sangat jarang dijumpai di tengah-tengah kebuasan tentara-tentara yang lain. Namun akhirnya hal itu diketahui oleh pimpinan penjara dan la pun dimasukkan ke dalam penjara bersama kami dan disiksa dengan siksaan yang tidak manusiawi. Akan tetapi, kebaikan mereka tetap terukir dalam hati kami. Kehidupan akhirat itu lebih mahal, dan pahala dari Allah itu lebih baik daripada sanjungan manusia.

Setelah saya jatuh tersungkur kerana ganasnya siksaan, ada seorang petugas yang diperintahkan untuk menyuruh saya lari menuju sel penjara. Tatkala ia melihat saya tidak mampu melakukan perintah itu, ia menolong saya dan membopong saya. Akan tetapi, kejadian itu dilihat oleh salah seorang di   antara mereka dan melaporkannya   kepada pimpinan. Akhirnya petugas tadi mendapatkan siksaan cambuk yang lebih berat daripada siksaan yang kami alami, sebagai ganjaran atas tindakan-nya dan agar yang lain merasa jera.

Meski ia sudah mengalami siksaan, tetapi ia tetap memberikan pertolongan terhadap saya, ia memberi saya tambahan segelas air minum setiap harinya. Jatah untuk kami hanya satu gelas dalam sehari semalam dan kadang-kadang tidak sama sekali. Nama petugas itu adalah Rasyad Mifrak. Mungkin Anda bertanya bagaimana saya bisa mengetahui nama petugas itu. Suatu waktu saya memanggilnya dengan namanya, ia kaget dan marah lalu berkata, “Bagaimana Anda mengetahui nama saya? Ia sebuah larangan!” Saya berkata, “Wahai Tuan Rasyad, nama Tuan tertulis di lengan Tuan.” Lalu dengan cepat ia mengikat lengannya dengan sapu tangan agar nama yang tertatu di lengannya itu tidak terbaca.

Masuk Islamnya Roger Garaudy

Apa yang menjadikannya masuk Islam? Marilah kita semak pemaparannya.

“Saat itu saya termasuk dalam pasukan Perancis yang ditugaskan memerangi kaum muslimin Aljazair pada peristiwa pergolakan di Aljazair pada tahun 1960 M. Dalam peristiwa itu saya tertangkap sebagai tawanan kaum mujahidin Aljazair. Setelah keputusan diambil maka ditetapkan bahawa saya harus dihukum mati. Pemimpin mujahidin memberikan tugas itu kepada seorang mujahid dan memerintahkan agar hukuman itu dilakukan di atas bukit. Tatkala saya berada di atas bukit bersama seorang mujahid tadi, tanpa ada pengawalan, mujahid itu bertanya kepada saya,

‘Apakah Anda membawa senjata?’ Saya menjawab, ‘Tidak, saya tidak membawa senjata.’ Mujahid itu berkata, ‘Bagaimana mungkin saya membunuh orang yang tidak bersenjata.’ Kemudian saya dilepaskan.”

Garaudy berkata, “Bertahun-tahun kejadian ini terus menggelitik   hati saya. Kemudian saya mempelajari Islam, sehingga menjadi gamblang pemahaman say a terhadap ajaran Islam. Kejadian ini sangat berperan dalam keislaman saya.” Dunia pun gempar dengan masuk Islamnya Roger Garaudy.

Keenam, Menolong Orang yang Lemah

Dalam suasana yang berdesak-desakan tatkala bepergian —baik saat berangkat mahupun saat pulang; baik di pesawat terbang, kereta api, mahupun yang lain— seseorang pasti membutuhkan orang lain   yang mahu mem-bantunya untuk mengangkat dan menjagakan barang-barang bawaannya. Betapa banyak orang yang melaku-kan perjalanan sedang dirinya dalam keadaan sakit, sudah barang tentu ia membutuhkan orang yang mahu membawakan barang-barang bawaannya.

Kadang-kadang ada orang yang ingin mengirimkan sebuah paket pos atau surat kilat, tetapi ia tidak bisa melakukannya sendiri, mungkin kerana sakit atau kerana yang lain.

Maka alangkah baiknya jika Andalah orang yang tampil memberikan bantuan- bantuan tersebut. Rasul saw. sudah menganjurkan kepada kita agar melakukan hal semacam ini, sebagaimana dalam hadits yang diriwa-yatkan oleh Muslim dari Muadz bin Jabbal ra.,

“… dan menolong orang, dengan mengangkatnya atau mengangkatkan barang- barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah.”

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., ia berkata, “Tatkala kami dalam perjalanan bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki menunggang kendaraan lalu menengok ke kanan dan ke kiri.” Maka Rasulullah saw, bersabda,

“Barangsiapa mempunyai perbekalan lebih, hendaklah memberikannya kepada orangyang tidak mempunyai perbekalan. “

Banyak di antara kita yang mempunyai mobil, bah-kan kadang-kadang lebih dari satu. Hal ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menolong orang-orang yang membutuhkan tumpangan, dan tentu saja akan memberikan kesan yang amat dalam bagi mereka.

Ada seorang teman yang dalam setiap waktu luang-nya selalu berputar-putar dengan mobilnya menyusuri jalanan, dengan harapan akan menjumpai orang yang memerlukan bantuannya. Dengan perilaku yang demi-kian, ia mempunyai banyak

teman di setiap sudut kota.

Suatu hari petugas lalu lintas menangkapnya dengan tuduhan telah melanggar peraturan, yakni menggunakan mobil pribadi untuk mengangkut penumpang. Akan tetapi, setelah petugas tersebut mengetahui bahawa pe-kerjaannya itu dilakukan hanya kerana ingin menolong tanpa   meminta upah, mereka   pun kaget dan kagum, kemudian melepaskannya.

Pada hari-hari pertama keikutsertaan saya dalam dakwah Ikhwanul Muslimin, saya berusaha menemukan cara untuk berkenalan dengan orang lain.

Tatkala saya sedang naik trem, saya usahakan agar saya bisa berdiri di tangga, dengan harapan agar saya dapat menolong menaikkan atau menurunkan barang bawaan. Akan tetapi, banyak penumpang yang menolak maksud baik saya, kerana prasangka yang buruk telah lebih dahulu mengisi benak mereka. Mereka menganggap saya sebagai seorang pencuri. Sejak hari itu, saya menyadari bahawa pekerjaan seperti ini harus mendapat izin dari yang mempunyai barang terlebih dahulu, kalau tidak, kita akan berurusan dengan aparat keamanan.

Di antara tulisan Ustadz Umar At-Tilmisani yang dimuat di harian Asy-Syarqul Ausath, berbunyi, “Beberapa waktu lamanya,   di Mesir pernah merajalela para perompak yang menghadang jalanan di malam hari. Modus operandinya adalah dengan berpura-pura sebagai seorang yang terkena musibah, lalu mereka menghentikan mobil yang sedang lewat dengan alasan memmta tolong. Akan tetapi, setelah mobil itu berhenti mereka langsung merampok segala yang ada di mobil, bahkan pakaian yang dikenakan oleh para penumpangnya pun ikutdisikat.”

Pada suatu hari yang sudah lewat tengah malam, Ustadz Hasan Al-Banna masih dalam perjalanannya pulang ke Kairo. Dalam perjalanan itu beliau melihat sebuah mobil sedang berhenti di pinggir jalan dan seseorang menghentikan mobil beliau. Tanpa ragu-ragu beliau meminta pemandunya agar menghentikan mobil, lalu beliau pun turun dan mobil dan mendekati laki-laki tersebut, serta menanyakan hal yang dibutuhkan. Laki-laki itu mengatakan bahawa bahan bakar mobilnya habis, maka dengan sangat memohon agar diberi sedikit benzene. Pada masa itu klakson mobil belum secanggih sekarang, masih berupa terompet pijat, yaitu sebuah terompet yang berbadankan kantong udara yang terbuat dan kulit. Jika kantong itu ditekan maka terompet itu akan berbunyi. Ustadz Hasan Al-Banna lalu kembali ke mobilnya dan melepas kantong terompet itu serta mengisinya dengan benzene beberapa kali. Ini semua beliau lakukan tanpa harus menanyakan terlebih dahulu nama, agama, atau pekerjaan orang yang ditolong itu. Inilah sifat ulama dalam berbuat kebajikan. Laki- laki ltu terhairan-hairan dengan sikap beliau, maka la memperkenalkan dirinya, “Nama saya Muhammad Abdurrasul, hakim di penga-dilan Kairo. Siapakah nama Anda?” Dengan tawadhu’ beliau menjawab, “Nama saya Hasan Al-Banna, guru di Madrasah Ibtida’iyah Al-Banin.” Hakim itu bertanya, “Hasan Al-Banna, Ketua Umum Ikhwanul Muslimin?” Beliau menjawab, “Ya.” Sejak saat itu Ustadz Muhammad Abdurrasul berdiri sebagai pembela Ikhwanul Muslimin di pengadilan.

Inilah kisah yang diceritakan oleh Ustadz Muhammad Abdurrasul kepada saya, tatkala beliau menjabat sebagai hakim di pengadilan Syabin Al-Kum. Allah-lah yang menjadi saksi atas segala yang saya paparkan.

Kisah ini dialami oleh seorang muslim warga negara Jerman yang bernama Yahya Syuvskuh. Kisah ini bermula tatkala ia dan isterinya menumpang kendaraan umum. Waktu itu mereka berdua duduk di kursi. Tidak lama kemudian seorang laki- laki tua berkebangsaan Afrika naik dan ternyata kursi-kursi sudah penuh dengan penumpang, sehingga bapak tua itu pun berdiri. Dengan cepat Yahya bangkit dan mempersilakan bapak tua itu untuk duduk. Bapak tua ltu pun berterima kasih lalu duduk, namun tiba-tiba la menangis. Yahya terkejut dan bertanya tentang sebabnya, tetapi tak menemukan hasil, kerana bapak tua itu berbicara dengan bahasa Inggris sedangkan Yahya tidak dapat berbahasa Inggris. Lalu ia mencari tahu dan para penumpang yang lain, dan dari merekalah ia mengetahui bahawa bapak tua itu datang dari Afrika Selatan dan baru pertama kali ini bapak tua itu melihat ada orang kulit putih yang mahu memberikan tempat duduknya. Yahya menceritakan kisah ini seraya berkata, “Inilah Islam.”

Masih dalam kisah Yahya. Kisahnya kali ini terjadi tatkala ia berada di kota Makkah. Ketika tiba waktu shalat, ia pergi ke Masjid Al-Haram. Ia lupa tidak membawa sajadah. Tatkala berdiri untuk melakukan shalat ia melihat di tempat sujudnya terdapat batu-batu kerikil, ia berkata dalam hati, “Ini adalah bagianku.” Akan tetapi, tiba-tiba   orang berkebangsaan India yang berada di sebelahnya melepaskan jaketnya dan menghampar-kannya di tempat sujud Yahya. Yahya

menutup kisahnya dengan ucapan, “Inilah Islam.”

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: