Leave a comment

Sariyyah Pertama Guncang Ekonomi


Oleh: Ustadz Budi Ashari

Nabi dan Muhajirin baru 7 bulan menginjakkan kaki di Madinah. Tugas semakin berat. Muslimin berdiam diri sekalipun, musuh Islam tidak akan pernah berdiam diri. Quraisy terus mengawasi pergerakan muslimin dan pertumbuhan mereka. Cepat atau lambat bentrok dua kekuatan itu akan terjadi. Seperti yang telah diduga oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Quraisy tidak akan membiarkan Nabi menyebarkan Islam kepada seluruh manusia. Nabi sendiri saat itu sedang menanti izin dari Allah bagi beliau dan sahabatnya untuk berperang.” (Muhammad Abu Syahbah, As Siroh An Nabawiyah)

Izin dari Allah belum kunjung turun. Tapi Nabi telah memperkirakan bahwa izin itu akan turun mengingat eskalasi yang terus meningkat. Nabi tidak melakukan sesuatu tanpa perintah. Tetapi Nabi telah memulai. Beliau mencoba menguasai wilayah, patroli keamanan sekaligus menebar ketakutan bagi musuh muslimin yang sangat menaruh dendam kepada Rasul dan para sahabat.

Maka Nabi mengirimkan Sariyyah-Sariyyah (Sekolompok pasukan yang tidak diikuti Rasulullah di dalamnya. Adapun yang diikuti oleh Rasulullah namanya Ghazwah / As Siroh An Nabawiyah, Muhammad Abu Syahbah). Dua Sariyyah disiapkan sekaligus oleh Nabi menuju arah yang berbeda. Yang satu dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib dan yang kedua dipimpin oleh Ubaidah bin al Harits.

Kebanyakan ahli sejarah sepakat bahwa Sariyyah pertama yang diutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu.” (Buraik bin Muhammad Buraik al ‘Amri, as Saraya wal Bu’uts an Nabawiyah Haula al Madinah wa Makkah)

Hamzah dibekali dengan 30 orang saja. Padahal tugas yang diberikan oleh Nabi kepada Hamzah bukanlah tugas yang ringan. Mengingat sangat mungkin terjadi adu kekuatan. Karena yang akan dihadapi Hamzah adalah 300 orang yang tergabung dalam kafilah dagang Quraisy yang baru pulang dari Syam, dipimpin oleh Abu Jahal; orang paling sombong dan kasar di Mekah.

Pasukan dipimpin oleh Hamzah dan bendera berwarna putih diserahkan kepada Abu Martsad Kannaz bin Hushain al Ghanawi.

Pasukan diarahkan ke arab barat dari Madinah, menuju ke arah pesisir pantai. Ketika pasukan Hamzah tiba di Saiful Bahr, pertemuan dengan rombongan dagang Quraisy tak terelakkan. Kedua pasukan telah berbaris, masing-masing bersiap untuk saling serang. Tetapi, tokoh masyarakat setempat yang bernama Majdi bin Amr al Juhani menengahi kedua kelompok. Karena masyarakat al Juhani punya kepentingan dan pertemanan dengan kedua wilayah. Dan Majdi pun berhasil membuat kedua kelompok untuk sepakat tidak saling serang dan pulang ke daerah masing-masing. (lihat: Ar Rahiq Al Makhtum)

Terlihat sederhana Sariyyah pertama ini. Tetapi hasilnya luar biasa. Sungguh di luar dugaan kita yang membaca Siroh Nabawiyyah.

Hasil dari Sariyyah ini bisa dilihat dari keterkejutan dan kekhawatiran luar biasa yang menyeruak masuk ke dalam hati orang-orang Quraisy. Mereka menduga setelah ini, perjalanan dagang mereka ke Syam akan mengalami masalah. Karena itulah jalur rutin mereka ke Syam. Padahal, terhentinya perdangan ke Syam artinya kiamat bagi perekonomian mereka.

Keterkejutan dan kekhawatiran bisa diwakili oleh pemimpin mereka Abu Jahal. Sesampainya di Mekah di hadapan masyarakat Quraisy, dia berorasi :
Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah tinggal di Yatsrib (Madinah) dan telah mengutuskan ekspedisi-ekspedisi pasukannya. Dia ingin menimpakan sesuatu kepada kalian. Maka berhati-hatilah melewati jalannya dan mendekatinya. Karena ia seperti singa garang. Sesungguhnya dia kutu yang kalian buang. Demi Allah, dia mempunyai tukang-tukang sihir. Aku tidak melihatnya atau salah seorang dari sahabatnya kecuali aku melihat bersama mereka ada syetan-syetan. Kalian pun tahu permusuhan anak keturunan Qoilah (sahabat Anshar, asli Madinah) dengan kita. Maka ini adalah musuh yang sedang bekerjasama dengan musuh.”

Berita tentang kekhawatiran dan kalimat Abu Jahal itu sampai ke Madinah. Maka inilah kalimat Nabi di hadapan para sahabat beliau,
“Demi yang jiwaku ada di tangan Nya, aku pasti akan perangi dan salib mereka. Dalam keadaan mereka tidak menyukai itu. Sesungguhnya aku adalah rahmat yang diutus Allah azza wajalla. Tidaklah Allah mewafatkan aku kecuali setelah Allah menangkan agama Nya. Aku mempunyai 5 nama: aku Muhammad, Ahmad, al Mahi yang denganku Allah menghapus kekafiran, aku al Hasyir yang kelak manusia dikumpulkan di Mahsyar setelahku dan aku al ‘Aqib.” (lihat: As Siroh An Nabawiyah, Muhammad Abu Syahbah)

Jelas merupakan dua suasana yang berbeda. Muslimin yang hanya 30 orang di bawah kepemimpinan Hamzah mampu mengirimkan pesan kekhawatiran musuh Allah dan Rasul Nya. Sementara mampu membawa pulang sebongkah izzahdan kemuliaan, kepercayaan diri para sahabat meroket , keberanian menebal. Hasil yang sangat positif.

Prof. DR. Akram Dhiya’ dalam as Siroh an Nabawiyyah ash Shahihah menjelaskan 3 peran Sariyyah-Sariyyah bagi muslimin :

  1. Mengancam jalur dagang Quraisy ke Syam. Dan ini merupakan pukulan bahaya bagi perekonomian Mekah
  2. Membuat kesepakatan dan perjanjian damai dengan kabilah-kabilah yang tinggal di sekitar wilayah yang dituju Sariyyah, minimal menjauhkan mereka dari keberpihakan kepada Quraisy. Karena mereka sebenarnya lebih memihak kepada Quraisy karena hubungan yang telah lama dijalin. Dan ini sebuah keberhasilan bagi muslimin pada fase tersebut.
  3. Menunjukkan kekuatan muslimin di Madinah sendiri, di hadapan Yahudi dan sisa orang-orang musyrik di Madinah.

Sungguh inilah strategi canggih dari Nabi untuk mengamankan tunas negeri Islam. Karena Nabi berhadapan tidak hanya dengan Quraisy. Tetapi dengan ketiga kelompok tersebut sekaligus. Dan dengan satu pergerakan ketiganya selesai.

Ramadhan di tahun 1 H (saat itu belum diwajibkan puasa Ramadhan) mengirimkan pelajaran kepada muslimin yang sedang kalah di abad ini. Bahwa Ramadhan adalah bulan kecerdasan, secerdas Nabi memikirkan strategi kemenangan umatnya. Strategi Nabawi bukan makar musuh Islam yang diadopsi.

Sesungguhnya, orientasi musuh Islam itu hanyalah urusan ekonomi dan kekuasaan. Sehingga, gangguan pada kedua hal ini, jelas sangat menakutkan mereka. Dunia seakan mendekati kiamat. Dan Nabi berhasil mengirimkan pesan dengan Sariyyah Hamzah bahwa perdagangan ke Syam yang merupakan income terbesar kota Mekah dalam ancaman. Terbukti sekelas Abu Jahal pun panik.

Muhammad Abu Syahbah menjelaskan,
Perjalanan mereka melalui Darul Hijrah (Madinah), Nabi melihat pentingnya memotong jalur tersebut. Agar menjadi hukuman atas pengusiran yang mereka lakukan terhadap muslimin (dari Mekah), perampasan harta dan bertujuan melemahkan kekuatan mereka. Hal ini akan menjatuhkan mereka di medan pertempuran yang pasti akan terjadi.

Kepanikan Abu Jahal itu sebenarnya aneh. Karena yang dilihat oleh Abu Jahal di Saiful Bahr hanyalah 30 orang saja. Tetapi kalau kita mendalami kalimat Abu Jahal di atas kita akan paham mengapa dia begitu ketakutan.

Karena 30 orang bukan sembarang orang.

Karena di balik 30 orang ada kekuatan Madinah.

Karena yang akan diganggu adalah tujuan akhir hidup mereka; bisnis dan harta.

Karena pemimpinnya adalah Singa Allah dan Rasul Nya; Hamzah bin Abdul Muthalib

Dan Abu Jahal kenal betul dengan Hamzah. Karena mereka sama-sama Quraisy. Abu Jahal pernah merasakan hantaman Hamzah saat dia mengganggu Nabi. Hingga Abu Jahal terluka berdarah-darah. Terjatuh, dihinakan oleh Hamzah dengan kalimat-kalimatnya. Hamzah pun mengumumkan keislamannya pada saat itu, sekaligus mengirimkan tantangan kepada siapapun yang berani dan mampu memurtadkan dia kembali.

Hamzah telah mengukir luka ketakutan itu di hati Abu Jahal. Dan Abu Jahal masih terus mengenangnya.

Di balik pemilihan Hamzah pun ada manfaat lain,
Nabi mengirim Sariyyah-Sariyyah (pertama) terdiri dari sahabat Muhajirin (dari Mekah). Terutama keluarga dan kerabat beliau sendiri. Agar mereka menjadi orang pertama yang memasuki peperangan. Agar bisa memberikan keteladan bagi yang lain.” (Buraik bin Muhammad Buraik)

Dan Abu Jahal pun tahu, begitu juga seluruh masyarakat Quraisy. Bahwa orang dengan kualitas Hamzah tak hanya satu. Tapi ada banyak di Madinah. Hasil sentuhan pendidikan Rasulullah.

Ramadhan 1 H menyampaikan pesan bahwa sedikit dengan kualitas nabawi adalah izzah dan kemuliaan di hadapan buih besar musuh Allah dan Rasul Nya.

Ramadhan 1 H menyampaikan pesan bahwa mengguncang ekonomi musuh Allah dan Rasul Nya adalah target penting. Jika telah guncang, mereka merasakan akhir dari segalanya.

Kini, kita bertanya: mana muslimin yang siap mengguncang ekonomi mereka. Mana ekonom syariah yang bangga dengan ekonomi syariah dan bukan melegalkan ekonomi kuffar dengan ayat. Mana muslimin yang berani mandiri dengan ekonomi yang keluar dari arus besar mereka.

Ramadhan 1 H memang baru permulaan. Tapi berperan luar biasa untuk perjalanan kebesaran muslimin berikutnya. Hingga Allah ridho memberikan kemuliaan dan kemenangan bagi muslimin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: