Leave a comment

Anugerah Termulia itu Telah Pergi…


Oleh: Budi Ashari


Para ulama Siroh Nabawiyah menyebut tahun 10 Kenabian dengan sebutan ‘Amul Huzni’ (tahun kesedihan). Mengapa disebut seperti itu? Kesedihan apa saja yang membuat tahun itu dijuluki seperti itu?

Posisi Nabi pada tahun tersebut ada di Kota Mekah. Pada tahun ke-10 beliau bertugas sebagai Rasul. Saat tekanan demi tekanan semakin berat. Permusuhan dari Quraisy semakin menghimpit.

Berikut ini urutan peristiwa yang terjadi di tahun 10 Kenabian :

  1. Pemboikotan terhadap muslimin selama 3 tahun yang baru selesai pada Bulan Muharram
  2. Wafatnya paman beliau Abu Thalib pada Bulan Rajab
  3. Wafatnya istri beliau Khadijah radhiallahu anha pada Bulan Ramadhan
  4. itolaknya da’wah beliau dengan cara kasar di Thaif pada Bulan Syawal

Benar-benar, bulan-bulan ketabahan. Memerlukan kekuatan iman untuk menerima semuanya. Mengharuskan kepasrahan kepada Yang Maha Memberi solusi.
Masing-masing dari empat peristiwa itu meninggalkan luka tersendiri dalam jiwa Nabi. Sementara tugas besar memerlukan konsentrasi dan kekuatan yang tidak boleh buyar dan melemah.

Syekh Abu Bakar al Jazairi dalam bukunya Hadzal Habib ya Muhib berkata,
Baru saja selesai keadaan yang mencekik pada pemboikotan di Syi’ib Abu Thalib yang berlangsung selama 3 tahun, Nabi shallallahu alaihi wasallam dihentak dengan musibah besar. Yaitu wafatnya Abu Thalib sang paman yang mengasuh, gunung menjulang yang membentengi, singa pelindung dan benteng yang kokoh. Dan wafatnya Khadijah.”

Setiap musibah tersebut terasa sangat berat. Di antara yang sangat berat adalah wafat anugerah termulia dalam hidup beliau di Bulan yang mulia. Wafatnya Khadijah, wanita suci itu.

Syekh Abu Bakar Al Jazairi menjelaskan betapa dalam kesedihan Nabi ditinggal Khadijah. Karena peran Khadijah yang tulus dan sangat agung. Dia memang anugerah termulia tak tergantikan oleh wanita manapun.

Siapa itu Khadijah? Ia adalah kenikmatan tempat berlindung setelah Allah. Tempat kenyamanan setelah dzikir kepada Nya. Dialah yang melindungi saat ketakutan. Dialah yang menyamankan saat kegundahan. Dialah yang mengistirahatkan dengan beningnya kalimat saat kelelahan. Dialah yang mendukung dengan pendapat jitu saat keguncangan. (Abu Bakar Al Jazairi, Hadzal Habib ya Muhib)

Allah Akbar. Sehebat ini peran seorang istri. Bagaimana tidak terasa dalam kesedihan itu. Istri mulia itu pergi saat beliau sedang begitu memerlukannya. Wanita mulia itu menghadap Allah saat beliau mengungkapkan betapa besar cinta beliau terhadapnya, “Aku dianugerahi cintanya.”

Kini kita dengarkan untaian kata menyentuh hati tentang Khadijah di sisi Nabi, oleh Syekh Muhammad Al Ghazali dalam Fiqhus Sirohnya,
Khadijah adalah anugerah Allah yang agung untuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia membela beliau pada saat-saat paling sulit. Membantu menyampaikan risalah Kerasulan. Bersama dalam ‘jihad’ yang pahit. Menghibur dengan diri dan hartanya.
Anda akan merasakan agungnya kenikmatan ini ketika mengetahui bahwa sebagian istri Nabi-Nabi ada yang berkhianat terhadap risalah Kerasulan suaminya.

Ya, kebesaran Khadijah semakin terasa saat melihat ayat,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 10)

Wanita yang mendampingi Nabi Nuh dan Nabi Luth, keduanya adalah pengkhianat risalah yang dibawa oleh suami mereka.

Maka, Khadijah sebagai anugerah semakin agung.

Cukuplah kalimat Nabi berikut menjelaskan posisi Khadijah yang tak tergantikan oleh wanita mulia manapun dan berapa pun,

ما أبدلنى الله خيرا منها قد آمنت بى إذ كفر بى الناس وصدقتنى إذ كذبنى الناس وواستنى بمالها إذ حرمنى الناس ورزقنى الله ولدها إذ حرمنى أولاد النساء يعنى خديجة

Tidaklah Allah menggantiku yang lebih baik darinya. Dia beriman kepadaku saat manusia mengingkariku. Dia membenarkanku saat manusia mendustakanku. Dia menghiburku dengan hartanya saat manusia pelit. Dan Allah menganugerahkan untukku anak-anaknya saat yang lain tidak ada yang memberiku anak.” (HR. Ahmad)

Kemudian, Syekh Abu Bakar Al Jazairi menyampaikan hikmah dari musibah bertubi yang dirasakan Nabi,
Musibah-musibah yang menimpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan hiburan bagi setiap mu’min atas segala musibah di dunia ini, sebesar apapun musibah itu. Karena Rasul adalah teladan bagi orang-orang beriman.

Kita harus menyiapkan diri, agar saat ia hadir kita telah siap. Mengenang musibah yang menimpa Nabi sebagai manusia terbaik, merupakan hiburan bagi kita yang sedang ditimpa musibah. Karena manusia terbaik itupun mendapatkan musibah. Bahkan cobaan para Nabi adalah cobaan terberat di antara manusia lain.

Kehilangan Nabi dari Khadijah memang bukan hal yang sederhana.

Karena Khadijah bukan sembarang wanita.

Karena Khadijah bukan sekadar istri.

Karena Khadijah adalah anugerah termulia dalam hidup beliau.

Dan Ramadhan mengguratkan kenangan sedih itu sekaligus membekali nilai kesabaran dan tawakkal dalam kehidupan Rasul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: