1 Comment

Jangan jadi Aktivis Dakwah 1/2 Hati


Jangan jadi Aktivis Dakwah 1/2 Hati

Oleh: Fajar Fatahillah,  Arif Setyawan

Siapkan Dirimu Wahai Pejuang!

dakwatuna.com – Samudera kehidupan senantiasa menampilkan ombak-ombak yang besar namun indah dan teratur. Ia bagaikan menari dalam lautan luas dan hendak menyeru kepada manusia tentang kehebatan dan keindahan dirinya yang diiringi dengan deru suara yang menakutkan namun kadang menyejukkan. Dalam keadaan tertentu, ombak begitu tenang dengan hembusan semilir angin yang menyapa hangat. Namun, kadang ia datang dengan gemuruh yang membahana, menjulang tinggi menghempaskan dirinya dalam samudera yang luas, seakan-akan menantang manusia untuk menyeberangi dan mengarungi samudera kehidupan.

Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan segala kesempurnaannya oleh Allah Azza wa jala, dengan karunia akal dan hati, mau tidak mau harus melalui Samudera itu, dalam kondisi tenang ataupun penuh dengan hempasan ombak yang tinggi menjulang. Manusia dengan segala keperkasaan dan kesombongannya harus melaluinya, karena itulah satu-satunya jalan yang harus dilalui untuk sampai ke tujuannya yang sebenarnya. Senang atau tidak, kita pasti akan melaluinya, apapun diri kita, siapa pun diri kita.

Kehidupan mempunyai aturan dan syarat, mempunyai pedoman dan petunjuk, mempunyai cara tersendiri untuk mengajarkan dan memberikan pengalaman dalam mengarungi kehidupan.

Itulah gambaran perjalanan dakwah ini. Terkadang jalan ini begitu mulus, tenang, nyaman tanpa beban dan cobaan. Namun suatu saat ia datang dengan membawa berbagai masalah, penuh rintangan, dihiasi dengan cacian dan hinaan.

Oleh karena itu, kita harus menyiapkan bahtera terbaik dan terkuat yang bisa dengan gagah dan perkasa menghadapi ombak, badai, dan hujan disertai petir. Tidak hanya itu, kita juga harus menyiapkan perbekalan yang cukup untuk sampai ke tujuan, bahan penggerak dan tentu saja para awak yang bahu membahu dan saling tolong menolong dalam menjalankan bahtera kehidupan.

Perjalanan dakwah harus disiapkan dengan sebaik-baiknya, dengan kesungguhan dan kekuatan tekad, karena dihadapannya telah menanti tantangan, cobaan dan ujian mulai dari hal yang kecil sampai kepada hal yang besar. Oleh karena itu, beberapa hal harus kita siapkan sebelum, saat atau sesudah kita terjun dalam jalan dakwah ini.

Jikalau kita belum terjun atau masih belum punya persiapan untuk menjadi seorang penyeru dakwah, maka jangan menunggu lebih lama, karena kita adalah dai sebelum menjadi apapun. Persiapkan diri kita, karena ini adalah jalan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.

Jikalau kita sudah terjun dalam suatu jamaah dakwah dan merasa minder atau tidak punya kapasitas ilmu agama yang cukup, jangan terpuruk pada paradigma, dakwah adalah perbaikan, maka kita harus terus memperbaiki diri kita sejalan dengan aktivitas dakwah yang kita jalankan, perbaiki dan persiapkan diri, dengan bekal ilmu, iman dan amal ibadah kita. Ilmu dan amal senantiasa beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Persiapan Internal

Kuatkan Ruhiyahmu

Sebuah pohon yang tumbuh subur, rindang, banyak bunga dan buahnya serta bermanfaat bagi kehidupan membutuhkan perawatan yang teratur. Selain itu, lahan atau tanah yang digunakan harus baik dan kondusif bagi pertumbuhan pohon tersebut.

Tanah yang baik adalah tanah yang memiliki kandungan dan zat-zat yang dibutuhkan dalam perkembangan benih pohon. Tanah yang terjaga dari berbagai hama dan sesuatu yang merusak serta menghancurkan. Selain itu, harus dapat terkena dengan sinar matahari dan udara yang cukup.

Setelah mempersiapkan tanah yang baik, selanjutnya adalah memilih benih yang baik agar mampu menghasilkan dan menumbuhkan benih-benih dakwah, melahirkan tunas-tunas baru yang siap melanjutkan estafet dakwah dalam membangun umat. Dan komponen-komponen tersebut adalah:

  • Iman (akar)
  • Ikhlas (batang)
  • Sabar (buah)
  • Optimis (Bunga)

Mu’ahadah (Mengingat Perjanjian)

“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. An Nahl: 91)

Muraqabah (Merasa diawasi)

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (QS. Asy Syu’ara: 218-219)

Muhasabah (Evaluasi Diri)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Mu’aqabah (Pemberian sanksi)

Mujahadah (Optimalisasi)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut: 69)

JANGAN JADI AKTIVIS

dakwatuna.com – “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”(QS. At Taubah: 111)

Janji Allah adalah sebuah keniscayaan yang akan terwujud. Hal inilah yang menjadi pelecut semangat para aktivis dakwah. Bahkan para pendahulu kita, rela meninggalkan dunia ini untuk menjemput surga yang telah dijanjikan. Sebut saja Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, Abdul Aziz Rantisi, dan masih banyak para syuhada lain.

Jika kita tengok kembali sirah nabawiyah, amanah dakwah yang kita emban saat ini bukanlah apa-apa. Para sahabat saat itu untuk mempertahankan apa yang diyakini oleh mereka, harus disiksa atau mengungsi ke negeri lain. Lihat bagaimana ketika darah syahidah pertama dari keluarga Yasir tumpah ke bumi yang sebelumnya disiksa dengan keji oleh kafir Quraisy. Lalu bagaimana seorang Abu Dzar dapat mengislamkan seluruh penduduk kampungnya yang notabenenya adalah kampung penyamun dengan modal syahadat yang baru dipelajarinya. Bahkan Rasulullah yang mulia tidak hanya duduk berleha-leha di singgasana layaknya sang raja. Beliau rela berdarah-darah dilempari batu ketika berdakwah ke Thaif.

Lalu apa yang telah kita lakukan hingga saat ini. Adakah suatu hal yang bisa kita banggakan di hadapan Allah kelak. Dengan titel aktivis dakwah yang kita sandang, tidak sepatutnya kita bermanja-manja. Tugas dakwah yang diemban oleh manusia baik laki-laki atau pun perempuan amatlah penting, karena dakwah itu ibarat ruh dalam kehidupan ummat. Dakwahlah yang menggerakkan ummat untuk tetap berada dalam kebaikan risalah Islam. Jika dakwah ini ditinggalkan, maka bisa saja terjadi kehancuran dalam tubuh umat Islam karena hilangnya fikrah dan kepribadian Islam itu sendiri.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71)

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS. Fushshilat: 33)

Jangan Jadi Aktivis Ketika Ingin Tidur Nyenyak

Permasalahan umat ini sangatlah banyak. Bahkan jika kita berusaha untuk berpikir dan bertindak dalam waktu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, maka waktu kita tidak akan cukup hanya untuk umat ini saja. Dari permasalahan di tingkat masyarakat, legislatif, bahkan sampai di tingkat eksekutif. Dan tugas kita adalah bekerja untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan itu. Allah pun mengisyaratkan hal ini dalam firmannya,

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. Adz Dzaariyaat: 15-17)

Hal ini ditegaskan Rasulullah dalam sabdanya, “Siapa saja yang bangun di pagi hari dan ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah. Dan barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka. (HR. Thabrani)

Masihkah kita berdiam diri dan tidur nyenyak dengan apa yang terjadi di depan mata kita. Ataukah kita sudah tidak memiliki hati yang hanyalah dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati.” (QS. Qaaf: 37)

Jangan Jadi Aktivis Ketika Tak Ingin Terganggu

Turbulensi dalam dakwah adalah sebuah keniscayaan. Karena di sana ada pertarungan antara yang haq dan yang bathil. Dan hal itu akan terus berlangsung hingga kiamat tiba. Jangan pernah mengharapkan rasa aman, karena gangguan dalam dakwah itu pasti ada. Bahkan para nabi dan rasul pun mengalami gangguan dalam dakwahnya.

Rasulullah pun ketika berdakwah banyak mengalami gangguan. Saat beliau sedang bersujud dalam shalat, salah seorang kafir meletakkan kotoran unta di punggung beliau. Bukan hanya itu, Abu Lahab pun melempari beliau dengan batu hingga berdarah.  Sedangkan istrinya Abu Lahab pun tak mau kalah dengan memasang duri pada jalan yang dilewati oleh Rasulullah.

Gangguan adalah sebuah ujian dari Allah untuk orang-orang yang terpilih dalam jalan dakwah. Hal ini merupakan tempaan dari Allah agar kita semakin kuat. Ada sebuah kaidah Ilahiyah yang komprehensif bagi seluruh makhluk yang ada di dunia ini. Dalam haditsnya Rasulullah bersabda, “Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia pasti mengujinya-mengapa?-apabila dia ridha, maka Allah memilihnya, sedangkan apabila dia bersabar, maka Allah juga memilihnya.” (HR. Al Baihaqi)

Dua sikap dalam menghadapi ujian dari Allah dan tidak ada sikap yang ketiga. Barang siapa yang menghadapi ujian Allah dengan ridha dan atau pun sabar, maka hasilnya adalah Allah akan menjadikannya sebagai salah satu di antara hamba-hamba-Nya yang terpilih dan terseleksi. Sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya,

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia” (QS. Al Hajj: 75)

Jangan Jadi Aktivis Ketika Tak Ingin Sibuk

Tidaklah elok ketika seorang aktivis dakwah berkeluh kesah tentang kesibukannya dan membanding-bandingkannya dengan kesibukan teman sejawatnya yang lain. Karena hal ini sudah Allah tetapkan dengan adil.

“Rabbmu tidak akan zhalim terhadap seorang hamba pun.” (QS. Fushshilat: 46)

Allah menghendaki hamba-Nya untuk tidak tersibukkan oleh apa pun kecuali oleh Islam, yaitu dakwah itu sendiri. Apabila hati seorang aktivis dakwah cenderung ke arah lain, maka Allah akan menimpakan ujian agar dia mau kembali kepada Allah dan kesibukan dakwahnya. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan kita untuk membaca kisah para nabi, yaitu orang-orang shalih agar kita dapat belajar dan berjalan di atas manhaj serta petunjuk mereka.

”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)

Wallahu’alam bis Shawab…
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18005/jangan-jadi-aktivis/#ixzz1kXvBYCzP

http://www.dakwatuna.com/2011/09/14795/jangan-jadi-aktivis-dakwah-12-hati-bagian-ke-1/#ixzz1kXwU9WGq

Advertisements

One comment on “Jangan jadi Aktivis Dakwah 1/2 Hati

  1. Reblogged this on NWStories.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: