Leave a comment

“Saudariku, Lisanmu Cermin Dirimu” (Press Releas MUTIA 04 April 2014)


Gambar

Bismillahirrahmanirahiim

Jum’at, 04 April 2014. Siang itu langit mengguyur bumi dengan semangatnya, sehingga MUTIA yang biasanya dilaksanakan di saung ungu siang itu berpindah ke ruang diskusi FMIPA lantai 3. Menit terus berlalu, muslimah yang hadir belum terlalu banyak, namun berhubung waktu telah memasuki pukul 12 lewat dan pembicara sudah hadir, maka MC segera membuka acara MUTIA kita, dan seiring berjalannya waktu muslimah yang hadirpun bertambah banyak, Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Tema MUTIA kita pekan ini adalah “Saudariku, Lisanmu Cermin Dirimu”  sebuah tema yang amat menarik bukan ? dengan pembicara ka Tri (S2 PAUD UNJ).

Ka Tri membuka materi dengan memberikan ungkapan bijak yang amat menyentuh hati “Sungguh, bukan matanya yang buta namun hatinyalah yang buta, karena sebab lisannya”. Perkara lisan bukanlah perkara yang sepele, Lidah adalah anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan karena sesungguhnya lidah adalah penerjemah hati dan pengungkap isi hati. Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap muslim/ah memperhatikan apa yang dikatakan oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah Ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, ka Tri menambahkan wajibnya menjaga lisan dengan dalil QS.Al-Isra:36

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Orang yang berilmu, biasanya akan mampu menjaga dirinya dari mengatakan sesuatu yang tidak perlu, karena itu termasuk di antara tanda baiknya Islam seseorang.  Dan salah satu bahaya tidak menjaga lisan adalah menyebabkan pelakunya dimasukkan ke dalam api neraka meskipun itu hanyalah perkataan yang dianggap sepele oleh pelakunya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang rukun iman dan beberapa pintu-pintu kebaikan, kemudian berkata kepadanya: “Maukah kujelaskan kepadamu tentang hal yang menjaga itu semua?” kemudian beliau memegang lisannya dan berkata: “Jagalah ini” maka aku (Mu’adz) tanyakan: “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:“Semoga ibumu kehilanganmu! (sebuah ungkapan agar perkataan selanjutnya diperhatikan). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

Ka Tri juga memberikan nasihat kepada kita semua, yaitu :

“Biasakan diri kita untuk menerima saran, walaupun hati kita merasa sakit, daripada kita terus melakukan kesalahan yang sama”

Demikian Press Release MUTIA pekan ini (04 April 2014), semoga kita mampu menjadi muslimah yang selamat dari lisan kita. Terakhir, penulis mengutip perkataan Imam Hasan Al-Bashri

“Orang yang tidak mampu menjaga lisannya, ia dianggap sebagai orang yang tidak memahami diennya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: