Leave a comment

Mengenal Si Merah ‘Secara Tepat’ (Press Release Mutia Jum’at, 14/03/2014)


Mengenal ‘Si Merah’ Secara Tepat”
Bismilllahirrahmanirrahiim..
Jum’at, 14  Maret 2014 kembali Allah izinkan kami –Biro Keputrian MUA- untuk kembali melayani sahabat muslimah FIK dan FMIPA, yap, MUTIA (Menuntut ilmU di jum’aT sIAng) kembali hadir menyapa teman-teman muslimah. Kali ini, tema MUTIA yang kami persembahkan adalah “Mengenal ‘Si Merah’ Secara Tepat” dengan pembicara Ka hamidatun (Fisika 2008).
Setelah malamnya jarkoman menyebar, ada yang tanya, “Si merah itu apa ka?” waaah penasaran rupanya ( yap si merah yang dimaksud disini adalah Haid bagi wanita. Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir. Sedangkan, menurut istilah Syara’, haid adalah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan terjadi pada waktu tertentu. Haid adalah darah kotor yang setiap bulan dikeluarkan oleh wanita yang telah baligh, dimana haid itu sendiri adalah penanda seorang wanita telah baligh. Seperti dalam surat Al-Baqarah: 222
“ Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka itu suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
Umumnya usia seorang muslimah pertama kali haid adalah antara 9 sampai 14 tahun. Namun dengan kondisi saat ini, tidak menutup kemungkinan mengaalami haid lebih awal karena faktor hormon dan makanan. Masa ketika haid minimalnya adalah sehari semalam, dan maksimalnya adalah 15 hari 15 malam. Kita sebagai muslimah sudah selayaknya memperhatikan pola masa haid kita agar tahu siklus haid tiap bulannya. Umumnya siklus haid seorang wanita antara 28 sampai 30 hari
usia haid tergantung dengan keberadaan darah haid itu sendiri, tidak dibatasi usia tertentu
meskipun siklus haid terkadang lebih cepat atau lebih lambat karena beberapa faktor, misalnya faktor kesehatan, kecapekan, sedang stress, dll.

Beberapa hal yang dilarang saat seorang muslimah sedang haid:
Jima’
“…dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci…” (Al-Baqarah, 222).
Shalat dan Puasa
“Bukankah apabila seorang perempuan itu haid (menstruasi) dia tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa,” (HR Al-Bukhari).
Banyak hikmah yang dapat kita pahami dari hal ini. Misalnya untuk berpuasa, ketika sedang haid, tidak terbayangkan jika kita berpuasa padahal kondisi kita saat itu adalah sedang kekurangan darah. Kita pasti akan merasakan sangat lemas. Tetapi saat Ramadhan kita wajib mengganti hutang puasa sesuai jumlah puasa yang ditinggalkan.
Aisyah Radhiyallahuanha, “Kami pernah mengalami haid pada masa Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wasallam, lalu kami disuruh untuk mengganti puasa dan kami tidak disuruh untuk mengganti shalat,”
(HR An-Nasa’i: 4/191).
Thawaf
“Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah sebelum kamu suci”. (HR.Muslim)
Menceraikan Istri
Ibnu Umar Radhiyallahuanhu pernah menceraikan istrinya yang ketika itu sedang haid. Kemudian, Rasulullah Shallahu’Alaihi Wasallam menyuruhnya untuk meruju’-nya (kembali padanya) dan menahannya sampai dia suci,”
(HR Muslim)
Tidak menyentuh Mushaf
Dalam surat Al-Waqi’ah ayat 79 di katakan bahwa “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” Maksudnya disini adalah menyentuh mushaf. Banyak perbedaan pendapat terkait hal ini, dan dalam menjalaninya sesuaikan dengan keyakinan diri masing-masing.
I’tikaf
I’tikaf adalah bermalam yang dilakukan di Masjid. Untuk seorang muslimah yang sedang haid maka dilarang untuk beri’tikaf hingga ia suci dari haidnya, seperti dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 43
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…

Hal yang selanjutnya dibahas oleh pembicara kita adalah mengenai tata cara mandi setelah haid. Seperti dikatakan dalam sebuah hadits “Rosululloh biasanya jika mandi janabah, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya –pada riwayat yang lain: kedua telapak tangan tiga kali-, kemudian menyiramkan air dengan tangan kanannya  ke tangan kiri dan mencuci kemaluan dengannya, kemudian beliau wudhu sebagaimana wudhunya ketika mau sholat, kemudian menciduk air dan menyisipkan jari-jari tangannya ke poros rambut, sehingga ketika telah merasa bahwa air sudah mencapai (kulit kepala), beliau mengguyurkan air ke kepala tiga kali, kemudian mengguyur seluruh badannya, kemudian beliau mencuci kedua kakinya.” (HR Bukhory-Muslim)
Yap, sejuta ilmu yang hari itu muslimah dapatkan untuk kembali memperkaya pengetahuan, semoga hal-hal yang telah didapatkan dapat di aplikasikan dan dibagi ke teman-teman seMUA (. Eitsss.. di Edisi Fiqih Wanita kali ini, MUTIA juga bagi-bagi doorprize untuk 3 orang penanya terbaik (
So, tunggu dan hadir di MUTIA edisi berikutnya ya, cantik nan shalihah (

_Galuh A. Rengganis_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: