Leave a comment

Akhlaq dan Adab (Resume Ceramah Jum’at 7 Februari 2014 oleh Ust. Eko)


Gambar

Dalam salah satu sabdanya Rasul mengatakan,

”Sesungguhnya aku diutus oleh Allah salah satu tujuannya adalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang baik/mahmudah/terpuji.”

Akhlak dan adab mempunyai posisi yang sangat strategis dalam kehidupan seorang muslim, dalam kesempatan lain ketika malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dalam bentuk manusia, pakaiannya putih, rambutnya hitam legam, kami tidak mengetahui siapa lelaki ini, tiba-tiba orang ini bertanya kepada Nabi tentang Islam, tentang Iman, dan diakhiri dengan Ihsan. Dan ketika itu Rasulullah mengatakan Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, dan jika paradigma ini tidak bisa kita hadirkan, maka berfikirlah bahwasanya Allah Ta’ala senantiasa melihat kita. DIantara makna yang terkandung dalam perkataan Rasul ini adalah konsep Muroqobatullah bagaimana kita senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, dan disisi lain, tidak sedikit ulama yang kemudian mengatakan bahwasanya konsep ihsan ini konsep tentang adab, konsep tentang akhlak maka siapa yang bisa beriman, yang bisa menjalankan Islam, mampu menerapkan syari’ah di kehidupan sehari-hari namun tidak mampu untuk mewujudkan dalam sebuah konsep yang bernama akhlak dan adab maka iman dan keislamannya belum tentu sempurna.

Untuk itulah dalam berbagai Ibadah yang telah Allah Ta’ala, semuanya mengarah pada konsep yang bernama adab. Ketika kita sholat Allah Ta’ala menginginkan dari sholat kita bukan sekedar gerakan yang diawali dengan Takbirotul ihrom dan diakhiri dengan salam, akan tetapi bagaimana solat itu mampu menjadikan kita seorang pribadi yang mampu untuk menjauhi perkara-perkara al fahsya a wal Munkar, itulah adab kita kepada Allah Ta’ala, ketika kita mampu untuk meninggalkan, itulah adab kita kepada Rasulullah, dan ketika kita mampu menjauhkan diri kita al fahsya a wal Munkar itulah adab kita terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap makhluk yang ada di sekitar kita. Maka barang siapa yang sholat lima waktu, tepat waktu, namun dia belum mampu untuk menginternalisasikan adab/efek positif dari sholat ini, sesungguhnya ketahuilah mungkin ada yang salah dalam sholatnya, mungkin sholatnya belum membawa kesempurnaan.

Dalam ibadah puasa yang senantiasa kita lakukan setahun sekali dalam bulan Ramadhan yang wajib, dan ibadah puasa sunah yang tiap pekan atau bahkan harian, semuanya mengajarkan kepada kita agar menjadi pribadi yang mampu untuk menahan hawa nafsu, bukan hanya menahan dahaga dan lapar, namun lebih dari itu, bagaimana konsep puasa tersebut untuk lebih beradab, untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, untuk menahan mata kita dari hal-hal yang tidak halal dipandang oleh mata kita, semua rangkaian ibadah yang Allah wajibkan pada kita ternyata merujuk pada sebuah konsep yang bernama adab. Maka jika kita mau melihat, apa yang telah disebabkan oleh para ulama kita selain tulisan-tulisan yang berisi tentang kajian aqidah, syari’ah, tidak sedikit ulama yang menulis kitab tentang adab. Bahkan ulama Indonesia, Hasyim al-Asy’ari, yang dijadikan panutan kaum muslimin, pernah mengatakan dalam salah satu kitab adabnya, mengatakan bahwasanya iman itu mewajibkan tauhid, mewajibkan untuk mengesakan Allah Ta’ala. Maka barang siapa yang tidak mengesakan Allah maka dia tidak mempunyai iman, dan tauhid itu mewajibkan kepada seorang hamba untuk menerapkan syariat, maka barang siapa yang enggan untuk menerapkan Syariah maka tidak ada ketauhidan baginya, dan dia telah menyekutukan-Nya

Dalam surat An-Nisaa yang artinya :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang menyekutukannya …” selain itu

Dan orang yang telah menyekutukan Allah maka dia telah berbuat dosa yang amat sangat besar…”

Maka barang siapa seorang hamba muslim yang tidak mampu melaksanakan adab dalam kehidupannya sehari-hari, maka tidak ada syariat baginya, tidak ada tauhid baginya, dan tidak ada iman baginya. Maka dari itulah Rasulullah menekankan pentingnya adab dengan Allah, Rasulullah, diri sendiri, sesama muslim, dan makhluk sekitar kita.

Sesungguhnya salah satu hal yang paling banyak membuat hamba seorang hamba muslim bisa masuk surga adalah ketika dia mamou untuk melaksanakan dan mengimplementasikan akhlak sebagai salah satu dampak positif dari syari’at yang dia miliki”(HR. Ahmad)

Wallohu a’lam bishowab

Sumber gambar : iluvmuslim

#MUA-Semakin dekat, bersahabat, dan bermanfaat

_Mochamad Ali Chomaini_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: