Leave a comment

#MUAMenginspirasi #5


Tentang Aku, Dia, dan Mereka dalam Cinta-Nya

Aku…

Seorang muslimah yang jauh dari kata sempurna. Yang kemudian Allah titipkan amanah langit pada hamba yang dhaif ini. Lemah dan ragu untuk menjalaninya. Tapi Allah yakinkan hati ini untuk terus berjalan karena ada mereka yang luar biasa. Dan semakin ku mantapkan hati, amanah adalah salah satu sarana pembuktian bahwa kita layak dicintai-Nya.

Dia..

Tempat bernaung bukan hanya untuk aku dan mereka, tetapi juga seluruh masyarakat kampus B dan siapapun yang singgah di kampus kecil ini. Masjid Ulul Albaab.. Tempat kami beristirahat sejenak, dengan sholat, tilawah, bertemu dengan shalihin/shalihat, menuntut ilmu, terkadang juga dengan  sejenak bersandar atau memejamkan mata untuk melepas lelah. Bagiku, ia hidup. Hidup dengan ruh-ruh yang ingin kenal dan dekat dengan Rabbnya.

Mereka..

Orang-orang pilihan Allah yang begitu luar biasa. Bukan hanya bersemangat untuk menshalihkan diri, tetapi juga mengajak orang lain untuk dekat dengan Allah. Mereka yang bersedia mengurangi waktu tidur & belajarnya, merelakan waktu luangnya untuk memikirkan umat yang lebih mereka cintai dari diri mereka sendiri. Yang tetap istiqomah meski yang lain melemah. Yang tetap tegar meski yang lain berguguran.  Semua itu hanya karena mereka memilih untuk dicintai oleh Rabbnya.

Perjalanan satu periode 1434 H yang luar biasa.. Keluarga kecil ku bernama BPH MUA Kece dan keluarga besar ku disebut Punggawa MUA.

|| BPH MUA Kece ||

Komposisi unik 3 angkatan 2010, 2011, dan 2012. Berawal dari ukhuwah yang malu-malu. Lambat laun saling mengenal karakter masing-masing. Ada yang pemalu, pendiam, suka ngelucu, suka bercanda, polos, bawel, dsb. Rame rasanya… Pertemuan rutin kami yang terasa singkat karena (hampir) selalu diwarnai tawa. Pernah juga kami berkumpul ketika terasa ukhuwah kami merenggang dan semangat kami melemah. Pertemuan yang membuat kami terdiam, merenung, menangis dan kemudian bangkit untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah kita rangkai bersama. MLC dan Allah menjadi saksi cerita kita :’).  Kami saling menopang, saling mengingatkan, dan saling menguatkan. Kebersamaan kami selama periode ini ditutup dengan indah pada 4 Januari 2014 dengan membawa “oleh-oleh” yang (insya Allah) menjadi penyemangat di kala lemah.

|| Punggawa MUA ||

Keluarga besar yang hebat. Ada satu hal yang mengingatkan ku pada mereka, Hujan. Ya.. karena pertemuan pertama kami di Masjid Ulul Albaab dihiasi hujan. Pun, ketika keberangkatan kami untuk merangkai mimpi-mimpi (baca : muker) ditemani dengan keberkahan yang Allah turunkan dari langit. Bersama mereka, membuatku harus menghilangkan kata “tidak mungkin”. Berani menembus keterbatasan. Sudah tak terhitung berapa kali kami merasa cemas karena dana yang minim menjelang hari H, hambatan dari pihak lain, dll. Tapi, lihat, kami mampu melampaui itu semua. Suka duka akan menjadi kenangan dan pembelajaran diri pada akhirnya. Keyakinan kami kepada Allah melampaui keterbatasan dan ketidakmungkinan. Allah dulu, Allah lagi, Allah terus… Ya, apapun yang kami hadapi, kembali ke Allah. Dan….. apapun kata mereka kami tetap cinta MUA (^.^)

Walaupun aku, dia, dan mereka (mungkin) tidak sesering dulu untuk bersama-sama. Aku yakin.. masih ada doa-doa mereka yang menemani.. masih ada Allah yang menautkan hati aku dan mereka.. Dan masih ada Jannah-Nya untuk kita berkumpul kembali, in syaa Allah (Semoga… Allahummaa aamiin 🙂

 

Nastiti Cahyaning Hapsari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: