Leave a comment

SEBUAH REFLEKSI MENGENAI PENDIDIKAN DI INDONESIA


Gambar

Oleh : Annisa Rahmah (Korwat LC MUA 2103)

Ada Apa dengan Pendidikan di Indonesia?

Bangsa yang maju dan berkembang bergantung pada sumber daya manusianya. Untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era globalisme saat ini, pendidikan adalah kuncinya. Oleh karena itu, bahasan kali ini secara umum akan sedikit membahas mengenai pendidikan dan sedikit memaparkan masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia saat ini sebagai akar menuju kaum muda harapan bangsa. Secara khusus, akan membahas mengenai budaya baca demi kemajuan literasi Indonesia, yang merupakan masalah yang patut kita beri perhatian lebih.

Kata pendidikan berasal dari kata didik yang artinya adalah suatu proses pengajaran yang mengarahkan generasi muda bangsa menjadi pribadi yang cerdas dan kaya moral. Pendidikan hadir dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian timbul pertanyaan tentang ‘kecerdasan’ seperti apa yang diusung oleh pendidikan itu sendiri? Opini kami, cerdas adalah ketika seseorang mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapatkannya dalam pengembangan nilai-nilai dan meningkatkan kehidupan sosial masyarakat menjadi pribadi yang solution-oriented dalam menyelesaikan konflik-konflik dalam dinamika masyarakat Indonesia.

Kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini, pendidikan hanya mementingkan kuantitas daripada kualitas. Hal ini terlihat dari motivasi siswa untuk lulus lebih berkiblat pada lulus dengan nilai baik, mendapatkan ijazah yang memudahkan untuk mencari pekerjaan. Hal ini menyebabkan gelar menjadi suatu tolak ukur ‘kecerdasan’. Esensi pendidikan pun bergeser. Tujuan untuk mendapatkan ‘ilmu’ dikesampingkan, metode belajar hanya terpaku oleh bahan-bahan hapalan yang memaksa siswa untuk merapalkannya bagai mantra. Efek samping dari kondisi seperti ini adalah pendidikan dinilai gagal untuk mencapai tujuannya mencerdaskan bangsa. Bangsa ini ibarat dididik dengan pola pikir yang hanya berorientasi pada ‘nilai di ijazah’ demi kehidupan yang lebih baik, bukan seorang yang cukup kompeten untuk menciptakan ide daripada hanya mengikuti ide yang ada. Satu hal yang saya sadari adalah adanya kasus jual-beli ijazah, calo ujian, dan gelar yang didapatkan dengan mudah, yang menjadi akibat dari pola pikir ‘nilai bagus’.

Apa yang mampu terjadi dengan pola pikir ‘nilai bagus’ ini? Pemalsuan ijazah contohnya. Kasus jual-beli ijazah bukan merupakan sesuatu yang baru, saya angkat satu kasus yang terungkap dua tahun lalu mengenai pemalsuan ijazah yang dilakukan mantan Bupati Sragen Untung Wiyono yang digunakannya dalam pencalonannya dalam pilkada Sragen 2000. Hal ini jelas menciderai praktik dunia pendidikan. (sumber: Solo Post, 2011) Pendidikan seperti berpusat pada ijazah yang menjadi komoditas bagi para penguasa untuk masuk dalam tataran kekuasaan bangsa ini. Mungkin kasus yang saya sampaikan adalah kasus yang telah diketahui publik, bagaimana dengan kasus yang tidak terungkap lainnya?

Pendidikan yang ‘Mendidik’

Pada sub-bahasan kali ini, difokuskan pada masalah pendidikan yang cenderung tidak mendidik. Penting bagi generasi muda saat ini memahami perbedaan antara proses belajar dengan proses pengejaran gelar semata. Bagaimana mengubah hal ini? Ada dua hal yang disinyalir menjadi masalah dasar dalam pendidikan di Indonesia, tenaga pengajar dan sistem pendidikan yang tidak efektif dan tidak efisien. Tenaga pendidik seringkali tidak menyampaikan tujuan dalam proses pembelajaran. Lebih dari pada itu,  kurikulum yang berubah tiap pergantian menteri pendidikan tanpa memberikan pelatihan bagi para tenaga didik. Hal itulah yang menjadi sebab ilmu pengetahuan yang disampaikan menjadi tidak efektif. Sedangkan, faktor yang mendasari tidak efektifnya tenaga pengajar adalah kesejahteraan guru yang kurang diapresiasi di Indonesia. Seharusnya, pemerintah menyadari pentingnya tenaga pengajar di Indonesia, guru merupakan profesi yang mulia, dan seharusnya kesejahteraan hidup mereka harus diperhatikan lebih oleh pemerintah. Contoh saja, di daerah pedalaman Kalimantan, ada seorang guru yang mengajar dua kelas sekaligus tapi hanya menerima upah pengajaran untuk satu kelas. Hal ini terjadi karena informasi di pusat tidak menyatakan beliau mengajar di dua kelas. Peristiwa seperti ini cukup disayangkan, mengingat tingginya integritas tenaga didik demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Jika boleh dikaitkan dengan salah satu karya sastra yang mirip dengan peliknya sistem pendidikan di Indonesia saat ini, yang menceritakan seorang murid yang datang ke rumah gurunya. Ia ingin belajar untuk menempuh ujian kelulusan. Mulanya, interaksi kedua orang itu berjalan dengan baik. Namun tidak lama setelah pelajaran berlangsung, sang murid mulai kesulitan untuk berkonsentrasi karena tidak mengerti apa yang diajarkan oleh sang guru, pelajaran yang diberikannya semakin sulit. Sang murid berpura-pura sakit gigi, tapi sang guru bersikap acuh tak acuh, pelajaran tetap dijalankan. Akan tetapi, sang murid mencari cara lainnya agar kelas itu dihentikan. Sang guru kesal, ia pun mengambil pisau dan membunuh sang murid. Hikmah yang bisa kita dapatkan dari cerita ini adalah bagaimana pentingnya seorang tenaga pendidik terkait perannya dalam pendidikan. Sang guru terlalu banyak memberikan pelajaran dalam waktu yang singkat. Ia tidak peduli ketika sang murid kelihatan tidak mengerti dan tidak lagi tertarik dengan pelajaran yang diberikannya. Alangkah lebih baik apabila sang guru mendengarkan keluhan muridnya dan mencari jalan keluar bersama supaya proses pembelajaran dapat terjadi dengan baik dan sehat(?) Sehingga, murid dapat memahami esensi ‘belajar’ itu sendiri. Terjadikah hal ini pada antum  sekalian?

Pendidikan: Harapan Bangsa?

Masuk pada solusi, kita akan bicara secara khusus tentang pentingnya peningkatan budaya baca sebagai salah satu solusi pendidikan di Indonesia. Melihat hubungan antara orientasi pendidikan yang lebih mengarah pada  ’nilai bagus’ daripada esensi ‘proses belajar’, sehingga siswa diberikan buku pelajaran dan metode pengajaran yang sangat ‘kaku’. Saya melihat adanya missing link pada proses pemahaman, baik dari siswa-siswa mengenai ‘belajar’, tenaga pengajar, dan sistem pendidikan di Indonesia. Jika saya telaah lebih jauh, hal ini terjadi karena rendahnya budaya baca di Indonesia. Bukti kuat sekaligus sungguh mengkhawatirkan, diperoleh dari survei Progress in International Reading Literacy (PIRS) 2011, yang dilaksanakan lima tahunan, melaporkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-42 dari 45 negara dengan nilai rata-rata 428. Penelitian dilakukan pada siswa kelas IV SD. berada di bawah Indonesia Qatar, Oman, dan Maroko. Mengenaskan bukan?

Budaya baca bukan hanya bertujuan untuk mengurangi buta aksara di Indonesia, tapi juga meningkatkan awareness kita tentang kecintaan akan pendidikan itu sendiri. Bagaimana pendidikan seharusnya membuat kita mencintai ‘ilmu pengetahuan’, sehingga kita memiliki ‘rasa ingin tahu’ akan sesuatu. Buku adalah jendela ilmu dan dari bukulah kita akan mendapatkan jawaban dari kehausan kita akan ilmu pengetahuan. Seorang Sutan Sjahrir pun mengatakan ‘dengan buku, saya bebas’ menggambarkan bahwa buku dan informasi yang berada di dalamnya mampu membawa kita belajar dan memahami bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa dapat melakukan sesuatu berdasarkan minat dan kapasitasnya. Perlu dicatat bahwa tiap-tiap siswa memiliki takaran yang berbeda, dan tugas para tenaga didik lah untuk memilih pendekatan yang dapat memfasilitasi karakter siswa yang berbeda. Membaca buku adalah salah satu jawabannya. Buku adalah jendela yang membuat kita melihat lebih jauh ke luar, to think outside the box.

Wallahua’lam Bishowaab

Sumber : edukasi kompasiana dengan beberapa perubahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: