Leave a comment

Beratnya Tantangan Menjalankan Puasa di Gaza


Islamedia – Ujian umat muslim yang menjalankan ibadah puasa di wilayah Palestina sungguh luar biasa. Mereka harus menahan haus dan lapar selama 16 jam serta panasnya suhu udara yang mencapai 40-45 derajat celcius.

Tak heran apabila penduduk Gaza lebih memilih menghabiskan waktu siang hari di masjid-masjid atau tempat tertutup lainnya.

Ketua MER-C Cabang Gaza, Abdillah Onim menjelaskan Ramadan kali ini di Gaza bertepatan dengan musim panas. “Jika di siang hari cuacanya berkisar 40-45’celcius bahkan bisa lebih,” ungkapnya dalam surat elektronik kepada okezone di Jakarta, Minggu (7/8/2011).

Situasi di atas mengakibatkan satu hari menjalankan ibadah puasa di Jalur Gaza, lamanya dan laparnya seperti tiga hari berturut-turut tanpa makan dan tanpa minum di Indonesia.. Hal ini dikarenakan cuaca yang panas, bahkan angin di siang hari bukan terasa sejuk akan tetapi gerah karena anginnya bercampur udara panas.

Pada Ramadan tahun ini, kata Abdillah, Jalur Gaza masih tetap dalam suasana diblokade oleh zionis Israel. Kondisi perekenomian pun dari tahun ke tahun tidak ada perubahan ke tingkat yang lebih baik. Kebutuhan sehari-hari, khususnya bahan makanan masih sangat terbatas. Jika ada maka harganya sangat mahal, bisa mencapai tiga kali lipat dari harga biasanya.

“Wallahu a’lam, saya sendiri tidak mengetahui kapan blokade ini akan berakhir. Kapan penderitaan mereka akan berakhir dan mungkinkah mereka masih bisa menata kehidupan yang serba tidak jelas ini menjadi lebih baik. Semua ini adalah misteri sang Khaliq,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Abdillah mohon doa dari seluruh umat muslim di Indonesia agar para relawan MER-C di Gaza dalam menjalankan puasa dengan khusuk tanpa gangguan apa pun. Sebab biasanya kaum zionis tidak akan membiarkan masyarakat Gaza dalam kedamaian saat menjalankan ibadah bulan Ramadhan baik salat tarawih maupun lainnya.

“Semoga tidak ada bom di saat malam takbiran. Semoga saja kondisi ini tidak terjadi dan kondisi Ramadhan kali ini di Jalur Gaza lebih aman dari Ramadhan tahun lalu,” harapnya.

Beratnya tantangan menjalankan puasa di Gaza membuat tim MER-C dan NGO lain yang berada di Gaza membuat penyesuaian. Salah satunya dengan mengalihkan kegiatan ke malam hari, terutama untuk program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Proses pembangunan struktur RS Indonesia di Jalur Gaza tetap berjalan dengan jadwal kegiatan yang sedikit diubah. Selama Ramadan, pembangunan dilakukan di malam hari hingga pagi hari.

Misalnya proses pengecoran dilakukan setelah salat tarawih sekira Pukul 23:00 sampai jam 02:30. Kemudian pekerja kontraktor dan relawan MER-C Indonesia beristrahat beberapa saat untuk bersahur dan salat subuh.

Kemudian aktifitas pembangunan dilanjutkan kembali sampai dengan jam 09:00 pagi, begitu seterusnya. “Semua ini kami lakukan agar pembangunan RS Indonesia tidak terlambat dan bisa selesai sesuai dengan target yang telah tetapkan,” tandasnya. [okezone/ismed]

[Sumber: Islamedia.com]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: