Leave a comment

Teruntuk Sahabat Dakwahku


oleh : Marjuki Zulziar

Senin, 15 Maret 2010
Assalamualikum wr.wb

Bismillahirrohmanirrohim,

Semoga setiap detik helaan nafas dalam hidup ini memberi arti tentang kesyukuran kepada Alloh SWT, setiap langkah adalah amal, setiap ucapan adalah kebaikan dan setiap niat ini adalah keikhlasan yang menjadikan kita teguh dalam amal-amal kebaikan.

Surat ini adalah surat cinta untuk  aktivis yang merelakan dirinya Untuk Allah, insya’Allah karena rasa cinta  yang sangat dalam karena Allah.

Saudaraku,

bacalah surat ini dengan suasana hati  yang tenang, bacalah dengan menundukkan hati, ya…menundukkan hati kita yang selama ini mungkin sudah mengeras, astaghfirullah…semoga Allah ‘Azzawajalla mengampuni kita semua.
Jalan panjang hari ini akan kita mulai, sederetan masalah, kesulitan, resah, dan air mata akan kita rasakan di hari-hari kedepan. tapi ada yang membuat kita bahagia, saat kita melihat Al-Islam hadir dan dicintai di FMIPA.

Saudaraku…

Maha suci Allah yang telah mempertemukan kita dalam peta perjalanan ini, dalam peta ini, jalan yang masih panjang…Masih banyak tanggung jawab yang kita emban, orang di sekitar kita masih menunggu karya nyata kita dan menunggu kontribusi kita. Sudah saatnyalah kita memperbaiki diri, Sudah saatnya kita bangun dan bangkit Sudah saatnya kita berjuang dan memberikan apa yang kita miliki Untuk menegakkan dien-Nya

Kadang teringat, raga ini memang bukan milik kita, tapi telah terbeli dengan perniagaan yang sangat sempurna, dan lebih abadi tentu. Setiap jejak langkah kita, akan menorehkan sebuah janji tuk selalu tegar melangkah dalam perjuangan suci ini. Ingatlah, ketika kita memang telah berlepas diri dari kafilah ini, jalan suci itu akan selalu ramai dengan derap langkah kaki para pejuang-pejuangnya, yang menorehkan jejak-jejak suci, bertaburan debu revolusi.

Memang apa kerugian kita kalau kita tidak mendapat popularitas? Memang apa kerugian kita kalau kita tidak dipuji? Memang apa kerugian kita kalau orang2 tidak tau apa yang kita lakukan? Haruskah orang2 mengetahui kalau kita sibuk, betapa terlihatnya kita sebagai aktivis da’wah? Sama sekali kita tak butuh itu, biarlah Allah, Rasul, dan orang2 beriman yang menilai pekerjaan kita.

Saudaraku, kita sadar, saat ini cobaan2 sedang mendera kita, masalah dana yang sedikit, koordinasi, SDM yang sedikit, dsb. Mungkin kita sering berfikir sendiri, bagaimana caranya agar semua agenda ini berhasil, berfikir…dan terus berfikir….kadang tak ada yang membantu kita, orang tidak tahu akan kepusingan kita…kebingungan kita…

Belum lagi nanti, bukannya penyelesaian masalah yang kita dapat, justru masalah2  semakin bertumpuk. Untuk apa? Apakah antum dibayar? Apakah popularitas antum sebagai aktivis da’wah meningkat? Apakah antum ingin orang2 memuji sepak terjang antum dalam da’wah ini?

Saudaraku, kadang kita terseok…..tertatih….menangis….tak tahu lagi apa yang musti kita lakukan. kita mesti tahu, sudah sunatullah bahwa tabi’at jalan da’wah ini adalah penuh onak dan duri. Makin lama bukannya makin ringan, tapi makin berat….

Setiap hari banyak pilihan disajikan, ketika itu pulalah kita merasa kehilangan, karena ada satu pilihan baru yang diambil, dan ada pilihan lain yang ditinggalkan. Semoga pilihan demi pilihan yang kita ambil setiap harinya adalah pilihan yang menjadikan kita lebih baik, lebih baik, dan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. semakin dewasa, semakin bijak, semakin tangguh, dan semakin mendekatkan kita pada Allah ‘Azza wa Jalla hingga “bahagia” kala berjumpa denganNya.. tatkala yang lain memilih futur, mundur, dan gugur, yakinlah bahwa di tempat lain bermunculan mujahid-mujahidahmu tangguh yang ikhlas berjuang dengan luapan semangat tak terbendung, berusaha menjaga “agar langit tak semakin mendung…”

“Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada. Para nabi dan syuhada iri kepada mereka. “ Ketika ditanya para sahabat, Rasulullah menjawab, “Mereka adalah oorang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah.”
(HR. Tirmidzii)

Aku melaju bersama debu
Sibak semak rumput yang sengaja menghalang
Meski tak secepat kilat yang menyambar di kala pekat.
Tak pernah ku peduli cucuran darah bagai peluh di sekujur tubuh
Karena aku punya mimpi yang harus kutuju

Perjalanan ini membuat aku lebih mengerti
Mengapa gunung menjulang tinggi, namun tetap di bawah mata kaki
Ketika ku berada di puncaknya

Perjalanan ini membuat ku lebih mengerti
Mengapa samudera begitu dalam
dan aku takan bisa melawatinya tanpa sampan

Perjalanan ini pun membuatku lebih mengerti
Mengapa kau bersikukuh untuk pergi,
Ternyata perjuangan itu mengasyikan meski memang, perih
dan terkadang tubuh ini terhantam letih
Tapi aku sadar itu adalah harga yang harus di bayar.
demi mimpi terwujudkan..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: