Leave a comment

Menjaga Orisinalitas Dakwah


Saat dakwah memasuki fase selanjutnya dari fase-fase sebelumnya, terkadang di tuntut untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan dan situasi serta kondisi yang bergerak cepat. Kta masih ingat benar ketika fase dakwah kita masih dalam penataan maka dakwah ini terasa sangat kental, dan ketika sekarang telah berada di fase politik dakwah ternyata telah cair atau bahkan sangat cair.

Pada setiap perubahan fase inilah akan terlihat apakah dakwah ini akan tetap menjaga orisinalitasnya atau tidak. Atau apakah orisinal dakwah pun harus mengikuti situasi dan kondisi perkembangan yang terjadi ? Agar organisasi dakwah terjamin berada di jalan yang benar menuju sasaran, maka ia harus menjaga dan memelihara orisinalitasnya. Sebab sekecil apapun penyimpangan atau berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semakin besar sejalan dengan kesinambungan, pertumbuhan, dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Ini dapat menyeret organisasi dakwah semakin jauh dari jalannya yang benar dan semakin menjauhkan tercapainya sasaran dakwah.

Menjaga orisinalitas berarti berpegang teguh kepada Islam dan tidak menyalahinya baik dalam teori ataupun prakteknya. Imam Syahid Hasan Al Banna selakukan menekankan agar organisasi dakwah komitmen pada Islam, kitab dan sunnah serta melangkah sesuai dengan sirah Rasululloh SAW, ketika beliau menegakkan Daulah Islamiyyah pertama. Untuk itulah Hasan Al Banna menekankan kepada aktivis dakwah untuk senantiasa memberikan perhatian penuh kepada hal-hal berikut dalam rangka menjaga orisinalitas dakwah :

1. Perhatian terhadap aspek pemahaman.

Pemahaman yang dimaksud disini adalah pemahaman menyeluruh terhada dakwah itu sendiri, baik tentang manhajnya, tujuan dan sasarannya, serta tahapan-tahapannya maupun problematika dan tantangan-tantangan yang akan dihadapi di dalam perjalananya.

Demikian pentingnya keshohihan akan pemahaman ini yang membuat Hasan Al Banna mengingatkan kepada seluruh aktivis dakwah yang menempuh dan berada di jalan dakwah ini dengan nasehatnya yang sangat indah:

“ Siapa yang menginginkan keuntungan duniawi, kedudukan dan pangkat, tempuhlah jalan selain jalan dakwah. Jalan dakwah ini hanya menghendaki orang yang berani menempuh perjalanan, bersedia mengorbankan jiwa, harta, dan segala yang dimilikinya berupa waktu, tenaga, kesehatan, ilmu, dan lain-lainnya semata-mata untuk mencari keridhoan Alloh SWT.”
Konsekuensi setiap aktivis dakwah herus terus menerus mengikhlaskan niat dan memberantas penyakit-penyakit hati yang merusakkan dan menyia-nyiakan amal serta menjauhkannyadari barisan orang yang jujur dan ikhlas.

2. Tidak mengabaikan aspek tarbiyah dan ruhiyah.

Mengabaikan aspek tarbiyah dan ruhiyah adalah salah satu sebab paling penting untuk dipahami, karena kelalaian ini bisa muncul karena terlalu konsentrasi dalam masalah politik dan administrasi. Hal ini akan banyak dialami oleh organisasi dakwah yang telah bersentuhan atau bahkan telah bermetamorfosa menjadi sebuah partai politik.

Tingginya konstelasi dan agenda politik yang ada sering menjadikan kita lengah dan lalai dalam memperhatikan aspek mendasar dari dakwah itu sendiri yakni tarbiyah dan ruhiyah. Jika dakwah dan organisasi dakwah diibaratkan sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah ruhiyah adalah air dan pupuknya.

Tarbiyah adalah sarana memperkuat iman. Seluruh sarana tarbiyah (pendidikan) harus memfokuskan kepada terciptanya pohon dakwah yang kokoh, rindang, dan berbuah ranum setiap saat dengan izin Alloh SWT.
Seorang pribadi kader dakwah yang tertarbiyah dalam berbagai aspek memiliki peran individual bersama dirinya dan berperan sosial bersaama saudara-saudaranya. Oleh karena itu aktivitas tabiyah untuk semua peringkat (jenjang) harus benar-benar di jaga kesinambungannya.

Memelihara orisinalitas dawah berarti memperhatikan penuh aspek tarbiyah dan ruhiyah. Karena itu perhatian terhadap aspek tarbiyah dan ruhiyah ini tidak boleh tergusur oleh kegiatan-kegiatan seperti politik, publikasi, atau jihad sekalipun. Dan tarbiyah harus mencakup seluruh jenjang dan tidak boleh terbatas hanya pada pemula tetapi juga para pemimpinnya.

Disaat agenda dan kerja dakwah ini hanyut oleh derasnya arus tsunami politik sehingga agenda-agenda tarbiyah dan pertemuan ta’lim berubah menjadi agenda politik maka saat itulah substansi tarbiyah mulai mengalami abrasi sehingga sampai pada puncaknya dimana para kader merasa kosong dan kering ruhiyahnya, karena pertemuan dalam majelis tarbiyah yang diharapkan akan dapat memenuhi rasa hausnya akan siraman ruhiyah tidak di dapatkannya.

Dan ketika kondisi ruhiyah seseorang berada dalam titik nadirnya maka resiko akan jatuh dalam kefuturan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin terjadi. Dan bila hal ini tidak segera disadari oleh para pemimpin makan akan dikhawatirkan organisasi dakwah ini akan terserang epidemic futur massal. Bukankah fenomena hilangnya kader-kader dari pertemuan ta’lim rutin namun terlihat muncul di “perahu” lain serta menurunnya tingkat partisipasi kader dalam organisasi dakwah menunjukkan lemahnya tarbiyah dan ruhiyah dalam organisasi tersebut. Karena itu menjaga orisinalitas dakwah berarti memberikan perhatian penuh kepada masalah tarbiyah dan ruhiyah.

3. Mengedepankan musyawarah

Musyawarah adalah sebuah prinsip dalam dakwah. Di dalam musyawarah yang diambil adalah pendapat yang paling kuat bagi kepentingan dakwah. Setelah ada keputusan yang disepakati bersama, maka tidak diperkenankan orang memiliki pendapat berbeda, berbicara, dan bergerak menurut pendapatnya sendiri. Jika terjadi semacam itu tentu akan mengguncang kepercayaan kepada pimpinan dan keputusan-keputusannya. Bisa jadi perselisihan ini bersumber dari urusan pribadi diantara pribadi dalam organisasi akibat dijerumuskan setan.

Jika hal ini tidak diatasi sesegera mungkin, tidak mustahil akan berakibat serius dan melahirkan poros pertentangan selain medan perselisihannya semakin tajam dan meluas menjadi antar kelompok, padahal sebelumnya hanya antar pribadi. Perselisihan semacam ini biasanya lebih banyak menyerang di kalangan pemimpin yang jika dibiarkan berlarut-larut tidak mustahil akan dapat menimbulkan kemandegan dan bahkan kegagalan.
Yang jelas adalah bahwa setiap anggota organisasi dakwah itu wajib menjaga diri dengan rasa kecintaan dan persaudaraan, agar tidak menimbulkan sesuatu yang menyakitkan pada diri saudaranya. Kewajiban orang yang menyakitinya saudaranya adalah mengontrol dirinya, meminta maaf dan bersalaman. Sedangkan orang atau pihak yang tidak terlibat berkewajiban mendamaikan mereka. Inilah cara tepat mengantisipasi fenomena perselisihan yang terjadi berdasarkan ajaran Islam dan adab-adabnya.
Menjaga orisinalitas berarti harus menjaga dan menata wujudnya prinsip-prinsip dalam musyawarah, sehingga dapat memutuskan hasil yang diharapkan . Musyawarah harus ditegakkan dengan benar-benar dan tidak boleh hanya bersifat formalitas. Karena itu jika proses musyawarah telah menghasilkan sebuah keputusan maka berarti telah mengikat semuanya. Tidak boleh persoalan-persoalan di biarkan berserakan kepada pribadi-pribadi anggota sehingga dapat menimbulkan blok-blok dan faksi-faksi.

Inilah tiga rangkaian penjelasan yang singkat dan sederhana namun sarat makna bagi kesinambungan sebuah organisasi dakwah agar tetap eksis dan hidup. Semoga Alloh SWT menyatukan kita semua dalam barisan para mujahidin-Nya. Amiiin (HAM)

Sumber : Majalah Tastqif edisi 37 th 6. Sya’ban-Ramadhan 1430 H/ Hal.9-12.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: