Leave a comment

Kisah Sekaleng Keju


Saya punya seorang mitra kerja dalam pembelian tanah. Dia punya seorang anak  yang  sudah  duduk  di  bangku  kuliah.  Suatu  hari,  saya  memberinya  hadiah sekaleng keju putih, hasil produksi pabrik keju saya. Ketika itu la mengatakan bahwa ia memihki dua teman, teman kuliah dan teman satu kost (asrama). Akhirnya saya beri  lagi  dua  kaleng.  Setelah  lewat  beberapa  hari,  ketika  saya  sedang  berjalan  di sebuah gang kota Rasyid, tiba-tiba saya dipanggil  seseorang yang baru saja keluar dari waning kopi. Ketika saya datangi, la segera mengatakan, “Saya ucapkan terima kasih banyak atas kiriman sekaleng keju yang telah Anda hadiahkan kepada anakku, Fulan.”  Lantas  la  mengeluarkan  uang  dari  dompetnya  hendak  diberikan  padaku sebagai ganti, namun saya menolak. la tetap bersikeras untuk membayarnya, padahal ia dan anaknya belum pernah saya kenal sama sekali. Saya katakan bahwa itu saya berikan  sebagai  hadiah  untuk  dia dan temannya.  Saya jelaskan  duduk  perkaranya, tetapi  ia  tetap  ingin  membayar  sehmgga  rnembuat  saya  dalam  posisi  yang  sulit. Akhirnya  saya  katakan,  “Sebe-narnya  saya  mengirimkan  itu  semata-mata  hanya sebagai  hadiah.  Bila  Anda  memaksa  ingin  tetap  membayar  maka  saya  berharap diterima saja sebagai hadiah, atau Anda kembalikan kepada saya seperti semula. Saya tidak akan mengambil uang gantinya.” Akhirnya la mengatakan, “Kalau begitu saya terima hadiahnya, kerana hadiah tidak boleh ditolak!”

Kasus ini telah banyak memberikan pelajaran bagi saya. Di antaranya, tidak bijak kalau  saya memberi  hadiah  seperti  ini tanpa  alasan  yang rasional  dan dapat diterima. Kerana saya belum mengenalnya,  wajarlah kalau orang tua salah seorang dari mereka hendak membayarnya. Sebab, mungkin ia akan berkata dalam hati-nya, “Mengapa dia memberi hadiah?” Barangkali ia ber-pikir bahwa hadiah tersebut merupakan sarana berhu-bungan sebagai langkah pertama menuju pintu dakwah.

Pikiran orang dalam kondisi seperti ini selalu didahului oleh berbagai macam dugaan dan prasangka.

Oleh kerananya, saya telah belajar dan kisah mi, jangan sampai kita isti’jal (terburu- buru). Tunggulah situasi dan kondisi yang alami dan wajar.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

[KISS Report : Mengungkap Fakta Kloroplas dan Persendian dalam Al Quran dan Hadist] Jakarta, (22/10/2015),


Masjid Ulul Albaab – Sebagai mahasiswa muslim berbasis sains sudah sepatutnya untuk mempelajari alam yang dikaitkan dengan sumber ilmunya, yaitu Al Quran. Oleh karena itu, KISS seri sains islam kembali hadir bertema “Mengungkap Fakta Kloroplas dan Persendian dalam Al Quran dan Hadist” dengan pembicara yang ahli di bidang sains, Ustadz Noorahmat Pudyastomo Ph.D. Dengan dipandu oleh Yogi Perdana selaku MC, acara ini berlangsung di lapangan volly FMIPA UNJ dengan dihadiri 60 mahasiswa. Dan acara ini dibuka dengan pembacaan tilawah oleh Koko yang selanjutnya pemaparan oleh Ustadz Noorahmat. Ada 3 poin penting yang dibahas oleh ustadz Noorahmat, di antaranya adalah Leaf System, Fotosintesis, serta Cahaya dan Warna. Beliau membuka pembahasannya dengan mentadaburi surat Al An’am ayat 99. Beliau menjelaskan bahwa dari ayat tersebut terdapat penjelasan mengenai kloroplas yang ditandai dengan adanya kata “Khodiron” yang menurut Departemen Agama diartikan sebagai butiran-butiran hijau dan “nukhriju minhu” yang berarti ada di dalam tumbuhan itu sendiri. Ustadz alumni Manchseter University ini pun melanjutkan penjelasannnya bahwa daun itu seperti pabrik yang mengolah komposisi zat untuk didistribusikan ke bagian pohon yang lain, termasuk biji dan buah. Di dalam daun ada sistem yang kompleks, di antaranya adalah : 1. Energi dari matahari diserap oleh permukaan daun 2. Glukosa yang dihasilkan oleh fotosintesis didistribusikan 3. Oksigen dilepaskan ke atmosfer 4. CO2 diserap dari atmosfer 5. Air diserap dari akar dan sistem pembuluh tanaman Dan di tiap mm2 daun terdapat 500.000 kloroplas. Kloroplas ini memiliki desain yang ‘amazing’. Adapun fakta fisis kloroplas yaitu : 1. Diameter 3 µm 2. Ketebalan 2-10 µm 3. Tiap unit dipisahkan oleh membran setebal 60 Å 4. Di dalamnya terdapat tilakoid yang menyimpan klorofil 5. Ada sekitar 40-60 granum di setiap kloroplas 6. Merupakan bagian penting dalam proses fotosintesis Sesudah kloroplas, beliau menjelaskan fotosintesis. Yaitu bahwa fotosintesis dipengaruhi oleh intensistas cahaya dan durasi pencahayaan, level dan densitas cahaya, panas, dan waktu malam. Adapun beliau menjelaskan mengenai cahaya dan warna yang terdapat dalam surat An Nahl ayat 12-13. Dalam ayat tersebut, terdapat kata “mukhtalin fakhur” yang artinya bermacam-macam (perbedaan warna). Ustadz Noorahmat kemudian menutup kajian ini dengan “Nikmatilah fase-fase belajar. Imbangi ilmu dan Al Quran dengan cara lulus tidak hanya dengan IPK 4 tapi juga dengan hafalan 4 juz.” See You Next Kiss Masjid Ulul Albaab #Lebih dekat,Bersahabat,Bermanfaat ——————————- Reporter : Anggita, Departemen Syiar MUA Editor : Riska Amalia Sari, Departemen M2C MUA MUA Masjid Ulul Albaab @muaunj Muaunj.wordpress.com

Leave a comment

Kritik yang Perlu Pembenahan


Sebahagian pemuda yang mengaku anggota jamaah islamiah, dalam berbagai kesempatan  masih  sering tampak sikapnya yang bertentangan  dengan adab lslami. Yang membuat jamaah tersebut banyak dikritik sehingga merasa terbebani.

Memang,  dalam  kenyataannya  masalah  seperti  ini  banyak  terjadi  di  kalangan pemuda  yang baru tersentuh  dakwah.  Mereka  masih  memerlukan  penanganan  dan pembinaan.  Seperti contoh kasus, ada seorang maha-siswa yang kuliah di Fakultas Ilmu Ekonomi. Jika dita-nya, “Kamu di fakultas apa?” Dia akan menjawab, “Saya di Fakultas Ilmu Ekonomi.” Jika Anda bertanya kepada seorang mahasiswa tingkat empat di fakultas yang sama, “Kamu di fakultas apa?” Dia akan menjawab, “Saya di Fakultas Ekonomi Managemen.” Apakah keduanya sama?

Ziarah dan pertemuan merupakan obat yang meng-gairahkan bagi seorang teman, dapat membangkitkan  semangat, dan meningkatkan kadar ruhani serta menim-bulkan perasaan dihargai keberadaannya. Sehingga perasaannya berkembang dan semangatnya semakin kuat.

Bila kita benar-benar setia setiap waktu dan dalam segala kondisi, bererti kita telah membangun rasa kasih sayang dan membuat teman merasa bangga dan mantap.

Jika kita  memahami  dan  menyadari  secara  menda-lam,  maka  kita  tidak  akan membeda-bedakan   satu  masalah  dengan  masalah  lain.  Kita  bagaikan  satu  tubuh. Setiap  anggota  tubuh  mempunyai  tugas  yang  berbeda-beda.  Maka  tidak  ada  satu muamalah pun kecuali dalam rangka dakwah,  agar dakwah  tetap berlangsung  dan menyebar.

Interaksi  dakwah  yang  tidak  memperhatikan  kepe-kaan  hati dan perasaan,  akan menghancurkan  sendi-sendi  bangunan yang telah ditata. Akibat yang lain adalah akan menjauhkan hati dari kepekaan dan kepedulian.

Barangkali  peristiwa  yang  paling  serius  yang  pernah  saya  alami  dan  rasakan sendiri adalah bahawa orang-orang terkenal, —yang majehsnya selalu dihadin banyak orang, baik tua maupun muda— bila sudah dimakan usia maka la akan sebagaimana makhluk Allah yang lain. Seseorang yang sudah lanjut usia atau terserang suatu penyakit,  maka\di hari-hari pertama (sakitnya) akan banyak yang menjenguk dan memperhatikan. Namun, setelah lama berlalu, setelah ia terlelap dalam tidurnya, kesedihan semakin bertambah, kesepian membuatnya tak dapat tidur dan pikirannya mulai  menerawang   ke  masa  lalu  dan  masa  depan,  akhirnya  kesendirian  dan kesedihan  membuatnya  semakin  merasa  terasing.  Pada  saat-saat  seperti  inilah  la saatnya, dan mengubah kondisinya yang menyedihkan dan memprihatinkan.

Kita harus berpikir jauh ke depan, bila suatu saat kita mengalami nasib yang sama seperti  mi.  Kerana  segala  sesuatu  itu  selalu  diukur  dengan  kondisi  pada  masa-masa terakhir.

Apakah beberapa pelajaran dalam tarbiyah itu sudah terpatri  dalam  hati  semua ikhwah, sehingga tidak melupakan kewajiban Islam im, tidak terjerumus dalam hal- hal yang terlarang, dan tidak memutuskan hubungan persaudaraan?

Dari Abu Hurairah  ra. sesungguhnya  Rasulullah  saw. bersabda, “Hak seorang muslim  atas  muslim  yang  lain itu lima perkara:  menjawab  salam,  menjenguk  yang sakit,  mengantar   jenazah,  memenuhi  undangan,  dan  mendoakan  yang  bersin!” (Muttafaq Alaih)

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

Setia Semasa Masih Hidup dan Setelah Mati


Saya pernah jatuh sakit beberapa hari, kemudian  saya pulang kampung.  Saya ingin sekali dikunjungi teman-teman yang saya rindukan. Saya menunggu dering telepon atau ketukan pintu dari teman-teman ter-cinta. Saya membayangkan puluhan.

Saya   sempat   berpikir   tentang   penyebabnya   seraya   bergumam,   “Barangkali mereka mengira bahawa doktor melarang mengunjungiku. Atau, barangkali mereka mengira sudah banyak yang mengunjungiku sehingga tidak ingin mengganggu.” Semuanya husnuzhan.

Dengan satu kejadian ini menunjukkan baliwa ter-nyata banyak ikhwah yang tidak menunaikan   kewajib-annya.   Padahal   kewajiban   itu   tidak   dapat   gugur   kerana husnuzhan belaka. Setiap orang punya tanggung jawab pribadi, sehingga tidak menjadi keharusan untuk datang sendiri, bila ada udzur. Barangkali cukup lewat telepon, surat, atau lewat orang lain.

Berapa  banyak orang sakit semakin  parah sakitnya  kerana tidak bertemu  teman atau saudaranya. Kalau ber-kunjung dalam kondisi seperti ini maka wajib hukumnya. Rasul saw. bersabda, “Bila ia sakit maka jenguklah!”

Dari Abu Hurairah  ra., Rasulullah  saw. pernah  bersabda  bahawa  sesungguhnya Allah swt. pada han kiamat nanti akan berfirman,

“Wahai bani Adam, Aku sakit, apakah engkau tidak menjenguk-Ku?” Manusia bertanya,  “Ya  Rabb,  bagai-mana  saya  menjenguk-Mu   padahal  Engkau  Rabbul

‘Alamin?” Allah menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahawa hamba-Ku Fulan sakit, tidakkah kamu menjenguknya? Tahukah kamu, bila kamu menjenguknya kamu akan dapati Aku di sampingnya!” “Wahai manusia, Aku minta makan kepadamu, tidakkah kamu mau memberi-nya?”  Manusia langsung bertanya, “Ya Rabb, bagaima-na  saya memberi-Mu makan, padahal Engkau Rabbul ‘Alamin?” Allah menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahawa ada seorang hamba-Ku yang minta makan, tidakkah kamu memberinya?  Tahukah  kamu bila kau berikan  makanan  kepadanya,  kamu  akan mendapati Aku di sampingnya?”

“Wahai  manusia,  Aku minta  minum  kepadamu,  tidakkah  kamu mau memberinya?”  Manusia  bertanya  lagi,  “Ya  Rabb,  bagaimana  saya  memberi-Mu minum, padahal Engkau Rabbul ‘Alamin?” Allah menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahawa  ada  seorang  hamba-Ku  yang  minta  minum,  tidakkah  kamu  memberinya? Tahukah kamu bila kau berikan minuman kepadanya, kamu akan dapati Aku di sampingnya?” (HR. Muslim)

Seorang penjenguklah yang harus berusaha menda-tangi rumah saudaranya dengan hati. Maka tidak wajar kalau yang sakit memohon saudaranya agar datang mengunjunginya. Kerana ziarah atau kunjungan adalah kewajiban syar’i (agama). Tidak adanya ziarah atau kunjungan akan berpengaruh pada hubungan pribadi, dapat memadamkan  api cinta, mele-mahkan  semangat, dan mengubah  karakter jiwa serta membalik kesedihan yang ringan menjadi perasaan yang penuh kepahitan.  Semua itu akan dirasakan, baik oleh yang sakit maupun keluarganya, di tengah ujian yang mendadak sepanjang  perjalanan hidupnya.

Interaksi antarsesama ikhwah akan dapat menimbulkan ketenangan batin dan kebahagiaan  hati,  bahkan  dapat  membangkitkan  rasa  optimisme,  walaupun  tidak dapat diungkapkan.  Sesungguhnya  ungkapan  justru tidak akan mampu  mencapai tingkat  perasaan,  kerana  interaksi  sesama  ikhwah  memang  tidak  dapat  digam- barkan dengan lisan atau penjelasan.

Oleh kerananya, nilai-nilai seperti inilah yang harus merasuki setiap hati yang hidup dan peka dengan penuh keikhlasan, sehmgga seseorang tidak kehilangan eksis-tensinya dan tidak menyia-nyiakan  waktu. Setiap aktivi-tasnya  senantiasa  sarat  dengan   ruh kehidupan.

Itulah  sebabnya,  Ikhwan  pada  setiap  hari  raya  selalu  mengadakan  kunjungan kepada putra-putri pejuang yang telah syahid pada perang Palestina, pada pemban- taian di tepi sungai, dan di penjara-penjara  perang (mili-ter), serta kepada anak-anak para da’i yang telah mencu-rahkan seluruh kehidupannya dalam dakwah Islam. Alhamdulillah   kunjungan   ini   masih   tetap   berlangsung   hingga   sekarang   sambil membawa  oleh-oleh,  walaupun  sebahagian  putra-putri  mereka  kini  telah  menjadi tokoh masyarakat.  Mereka tetap harus merasakan  kesetiaan dan kecintaan saudara- saudaranya, sekalipun peristiwa-nya sudah lama berlalu. Hal itu kerana sesuatu yang paling indah dalam kehidupan ini adalah tegaknya nilai-nilai ukhuwah dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

Leave a comment

[KISS Report] Jakarta, (08/10/2015),


Masjid Ulul Albaab – 24 September 2015 menjadi berita duka bagi umat islam ketika ratusan jamaah haji luka-luka, amnesia, bahkan meninggal dunia di tragedi Mina. Untuk mengupas penyebab dan dampaknya bagi umat islam secara global, KISS kembali hadir bertemakan “Di Balik Tragedi Mina” dengan pembicara Ustadz Pizaro, wartawan salah satu media islam. 77 mahasiswapun hadir meramaikan KISS pekan ini.

Kajian ini dibawakan oleh Fahri Rizalul Ula selaku MC, dibuka dengan pembacaan tilawah oleh Naufal, dan kemudian dilanjut pemaparan oleh ustadz Pizaro.

Pada awal pemaparan, beliau menjelaskan kabar terakhir korban tragedi Mina, yaitu sebanyak 1200 orang dan 10 persen dari korban tersebut adalah jamaah Indonesia. “Dan bukan tidak mungkin korban akan bertambah” tegas beliau.

Beliau juga menjelaskan bahwa tragedi Mina ini bukan pertama kalinya terjadi. Tragedi Mina pertama terjadi tahun 1990, 1400 orang menjadi korban dan setengah dari korban tersebut adalah jamaah Indonesia. Penyebab tragedi Mina tahun 1990 ini adalah karena berebut dalam melempar jumrah. Kemudian tragedi Mina terjadi lagi pada tahun 2001, 2004, 2006, dan 2015. Tragedi Mina tahun 2006 sempat merenggut nyawa 362 jamaah haji. Penyababnya pun sama, yaitu berdesakan saat prosesi lempar jumrah. Dengan adanya kejadian ini kemudian diadakan perbaikan insfrastruktur berupa perluasan masjidil haram, pembangunan jalur 7 lantai untuk melempar jumrah, persiapan kereta cepat, kuota jamaah dikurangi, dan petugas ditambah.

Ustadz alumni UIN Jakarta ini kemudian memaparkan bahwa sebelum dilakukan investigasi, muncul isu atau tuduhan berupa video yang mangungkap konvoi Raja Salman merupakan pemicu tragedi Mina. Setelah ditelusuri, video tersebut sudah ada pada tahun 2012 yang diunggah kembali dengan judul baru. Adapun tulisan Asma Nadia berjudul “Karpet Merah Perenggut Nyawa” yang menyiratkan seakan tragedi Mina disengaja Arab Saudi.

Betulkah Tragedi Mina karna konvoi Raja Salman? Berikut ustadz Pizaro memaparkan keadaannya : 1. Raja Salman tidak ada di lokasi kejadian 2. Raja tidak haji karna sedang memantau haji 3. Jika memang ada anggota kerajaan yang berhaji, maka mereka akan melalui jalur udara/helikopter yg mendarat tepat di atas Jamarat. 4. Ada anggota kerajaan yg berhaji bukan Raja Salman tetapi Gubernur Mekkah

Kemudian beliau mengutip kesaksian Jamaah haji bernama Magaji Falalu Zarewa bahwa Insiden tersebut terjadi sekitar beberapa menit setelah jam 9 pagi waktu setempat. Masalah muncul saat kumpulan besar jamaah yang telah melempar jumrah, kembali lewat jalur jamaah lain yang akan pergi melempar jumrah yang datang dari Muzdalifah. Hal ini mengakibatkan gangguan pergerakan jamaah dan menjadikan udara semakin panas sehingga banyak jamaah yang jatuh pingsan.

Beliau selanjutnya menutup pemaparan dengan saran bagaimana sikap dalam menghadapi tragedi Mina. Yaitu : 1. Tunggu hasil investigasi 2. Mengkritik Arab Saudi hal yang wajar, tapi bukan untuk memojokkan 3. Waspadai genderang politik syiah dan kelompok liberal.

See You Next KISS

Majid Ulul Albaab #Lebih Dekat,Bersahabat,Bermanfaat ————————– Reporter : Anggita, Departemen Syiar MUA Editor : Riska Amalia Sari, Departemen M2C MUA

Masjid Ulul Albaab @muaunj muaunj.wordpress.com

Leave a comment

Hormatilah Tokoh Masyarakat


Ada sekelompok pemuda di sebuah kampung ingin mendirikan proyek pelayanan sosial untuk masyarakat setempat. Mereka mcngajak masyarakat mendukung proyek ini, guna membangun  masjid, madrasah, panti asuhan, dan perpustakaan.  Ternyata, tidak lama kemu-dian sebahagian masyarakat menentang proyek ini. Sehingga terjadi perselisihan yang sengit antara pihak pemuda dengan mereka. Ironisnya, para pemuda tidak  menya-dari  kalau  salah  jalan.  Seharusnya  mereka  mengetahui  dan memahami tentang hal itu. “Kalau mau masuk rumah hendaknya melewati pintunya.”

Seorang   tokoh   masyarakat   akan   merasa   keberatan   memberikan   dukungan terhadap rencana semacam ini, bila tanpa sepengetahuannya. Kerana dia adalah tokoh masyarakat  kampung  tersebut,  maka  sudah  seharusnya  para  pemuda  menghormati dan  menghargainya.  Dari  sisi inilah dia akan memberi dukungan lewat nama, kerja keras, atau posisinya. Sehingga, dalam waktu yang bersa-maan kita dapat menggaet hati yang besar  dan seorang  tokoh yang memiliki  posisi strategi.  Sesungguhnya  kita ini senang pada kebaikan dari mana saja la datangnya.

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”

1 Comment

Dakwah: “Ruh dan Perasaan”


Saya pernah diundang sejumlah pemuda ke suatu tempat yang jarak tempuhnya memakan  waktu  tiga  jam.  Sesampainya  di  sana,  mereka  menyambut  saya  sambil duduk.   Wajah   mereka   hambar,   perasaannya   dingin,   dan  pandangannya   kosong. Kemudian saya diminta bicara oleh seniornya. Saya berbicara di hadapan mereka tanpa hati dan ruh. Seusai bicara, ia berterima kasih kepada saya. Lalu saya keluar dengan perasaan  seperti  baru pulang dari takziah. Saya pulang dengan perasaan yang sama seperti ketika datang. Saya merasa sangat sedih sekali setelah menyaksikan peristiwa ini.

Beberapa hari kemudian datanglah orang yang sama, yang mengundang pertama kali. Ia ingin mengundang  saya untuk yang kedua kalinya. Saya katakan kepada- nya,  “Saya  diundang  ke  mana?”  Pemuda  itu  menjawab,  “Ke tempat  ikhwah  yang kemarin dulu itu Ustaz!” Saya bertanya lagi, “Apakah mereka itu ikhwah?” la menja- wab, “Ya!” Lalu saya katakan, “Mustahil mereka itu me-miliki penghayatan  tentang nilai ukhuwah! Bagaimana mereka itu dapat dikatakan ikhwah, jika ketika ada tamu yang datang dengan menempuh perjalanan selama tiga jam, sambil memendam rasa rindu  yang  membara,  dan dengan  hati  yang  lapang  saja,  mereka  menyambut dengan perasaan dingin, sembari duduk bagaikan siswa-siswa di sekolah. Hubungan saya dengan mereka seperti seorang guru dengan rAurid dalam ruangan. Bila pelajar-an usai, maka guru atau murid akan keluar tanpa mem-beri isyarat apa-apa. Tanpa ada perasaan ukhuwah dan tanpa adanya seruan yang menyatukan mereka. Ketika meninggalkan  mereka,  saya  murung  dan sedih  atas kebekuan perasaan mereka dan hilangnya  kehangatan  hati mereka.  Ketahuilah,  sesungguhnya  perasaan  yang hidup itulah yang menjadi rahsia keberadaan dan kebangkitan kita.”

Akhirnya pemuda itu merasa malu dam bingung, seraya berkata, “Kalau memang ikhwah tidak menghayati  nilai ukhuwah  tersebut pada kesempatan  yang lalu, maka akan saya ingatkan sehingga mereka dapat memahami pada saat yang akan datang.”Saya pandangi dia seraya berkata, “Hai Tuanku, sesungguhnya  potensi ruhiyah, sentuhan rasa, kecmtaan pada kebaikan, serta perasaan yang lembut itu tidak akan muncul hanya sekedar dengan peringatan dan perintah. Sadarilah, bahawa yang dapat membangkitkan-nya  adalah dengan sentuhan-sentuhan  hati yang penuh kasih sayang dan kerinduan  yang sangat dalam terhadap  pasangan  seaqidahnya  yang  melekat  di hati.”Saya meminta maaf padanya kerana tidak dapat hadir, walaupun saya rindu dan kasihan pada mereka.”

dikutip dari

Ath-Thariq ila Al-Quluub “Kiat-Kiat Memikat Objek Dakwah”